
"Makasih, Gam." aku tersenyum manis, ketika turun dari tumpanganku.
Mobil karyawan penuh, untungnya aku diberi tumpangan oleh salah satu operator forklift yang masih seumuran denganku.
Teungku Arifin Agam.
Laki-laki muda, keturunan Panton Labu Aceh Utara. Kini nama Agam bukan lagi ada di novel milik mamah Dinda. Ternyata nama itu dimiliki oleh beberapa orang.
Dari ceritanya pun, saudara-saudaranya memiliki nama Agam yang terselip di belakang nama mereka. Jika di rumah, ia biasa dipanggil dengan sebutan Teungku.
Jika di daerah rumah megah itu, Teungku adalah sebutan untuk orang yang dituakan atau memiliki kasta yang tinggi. Tidak paham juga penjabarannya. Pasalnya, tukang pijat pun dipanggil Teungku.
Aku hanya kenal sebatas itu saja. Selebihnya, aku kami hanya bertukar kontak. Namun, aku tidak pernah membalas chat darinya. Dikarenakan alasan yang sama, aku masih dalam masa iddah. Aku harus bisa menjaga diriku, agar tak terlalu dekat dengan laki-laki.
"Sama-sama. Pulang dulu ya?" Agam hanya menurunkanku di depan toko kelontong.
"Ya, ati-ati." aku tersenyum ramah padanya.
__ADS_1
Lalu, motor matic berbodi ramping itu berlalu pergi. Keturunan Aceh dan Padang itu, melesat kembali ke jalan raya.
Profesional.
Itulah yang aku genggam, dalam melakukan tugas-tugasku.
Aku tidak tahu, kamar bang Daeng masih berpenghuni atau tidak. Aku tak mencari tahu, aku hanya fokus pada aktivitasku saja.
Aku masuk ke kamar kosku, lalu mengunci kembali pintu kamarnya. Aku harus bisa menjaga diriku sendiri, dari terkaman laki-laki yang tiba-tiba masuk ke kamar. Jujur, aku takut dengan hal itu. Apa lagi, lantai bawah hanya ada aku saja. Pada siapa nanti aku akan minta tolong? Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kehidupanku akhirnya sampai di tiga bulan sepuluh hari. Satu minggu yang lalu, ada orang datang yang mengantarkan dokumen jandaku. Ia pun meminta uang bensin padaku, sebesar tiga ratus ribu. Hanya saja, aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Jadi, ia menerima uang seratus ribu yang aku berikan.
Aku membubuhi nama Canda Chandra, agar penghuni rumah tahu. Bahwa paket itu dariku untuk Chandra. Ghifar pun mengabariku, tentang beberapa paket yang datang setiap bulannya.
Aku pun, begitu senangnya mengunjungi pasar malam. Tentu pakaian sehari-hari, hijab, pakaian da*am dan jajanan yang aku buru. Ditambah lagi, aku sekarang rutin menggunakan skincare dan perlengkapan mandi yang mendukung.
Memang benar kata bang Daeng. Menjadi sekertaris satu, lebih sedikit uangnya. Karena pulang pergi bekerja aku dijemput mobil jemputan karyawan dari PT, membuatku tak mendapatkan uang transport. Sudah seperti itu, uang makan pun tak dapat, karena saat siang hari aku mendapat makanan catering. Aku hanya mendapat gaji bersih lima koma lima juta rupiah, ditambah lagi uang pembalut senilai seratus lima ribu rupiah.
__ADS_1
Aku tidak mendapatkan uang tinggal, atau semacamnya.
Tok, tok, tok.....
Aku tadi tak mendengar langkah kaki siapapun.
"Dek...."
Aku kenal suara ini.
"Ada apa?" aku tak membukakan pintu untuknya.
Aku masih bermain ponsel di atas tempat tidur ini.
"Ini surat tugasnya. Kita berangkat ke Parepare."
Hah?
__ADS_1
...****************...
Siapa yang datang? 😕