Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD124. Kafi Teuku Dhafir


__ADS_3

Angkot sudah berjalan perlahan. Aku bisa melihat mas Givan yang ngos-ngosan menatap kepergian angkot ini. Ia masih berdiri di pintu keluar parkir motor, jaraknya cukup jauh dari tempat aku menunggu angkutan umum tadi.


Untungnya, bang Daeng tidak menyadari arah pandanganku. Ia pun, sepertinya tidak mendengar panggilan mas Givan tadi.


"Abang mau tak?" aku menyodorkan milkshake dalam cup ini.


"Gak, buat Adek aja." bang Daeng memperhatikan jalanan yang begitu macet.


"Kenapa sih beli satu? Uang Abang habis ya?" tadi pun bang Daeng membayar dengan uang pas, senilai lima belas ribu rupiah.


Ia melirikku sengit, "Iya! Makan di Lamongan nanti, Adek Abang gadaikan ke warungnya." ujarnya kemudian.


"Tak mau aku." aku merengek dengan memeluk lengannya lagi.


"Orang tuh ada-ada aja. Heran Abang." akhirnya ia tertawa samar.


Aku kira, ia serius tadi.


Bang Daeng menyetop angkot yang kami tumpangi ini, lalu kami keluar dan membayar pada pak supir. Setelah itu, kami masuk dalam makan tenda bertuliskan Lamongan. Aku segera memesan, menu yang aku inginkan.


Aku begitu menikmati masa-masa ini. Semoga kebahagiaan yang bertubi-tubi ini tidak habis dimakan waktu.

__ADS_1


~


Kami sudah berada di kos-kosan. Kami bisa menyelesaikan pekerjaan dua hari lebih cepat, membuat libur kerja kami bertambah dua hari. Bang Daeng ingin menikmati masa libur empat hari ini di kos-kosan saja. Ia mengatakan, ada masalah dalam pekerjaannya.


Aku pun tidak tahu di mana letak kesalahan pekerjaan bang Daeng. Karena, meski kita bekerja dalam group. Tugas dan tanggung jawab dipegang perorangan. Kak Raya tidak tahu seluk beluk permasalahan, karena ia hanya bertugas untuk akomodasi trip kerja bang Daeng saja.


Akomodasi adalah, sesuatu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan. Contohnya tempat menginap.


"Masih jam satu malam, Dek. Tidur, besok Abang mesti ke kantor. Ada yang harus Abang selesaikan." ia langsung merebahkan tubuhnya, setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.


"Ya, Bang." aku menaruh ponselku, lalu aku memeluknya.


Entah mengapa, perasaan cengeng mengerubungiku. Aku takut ditinggal olehnya, aku takut aku sendirian tanpanya.


"Nangisin apa? Kangen Chandra kah? Coba besok telpon lagi saudara papahnya Chandranya, mana tau udah pulang liburannya." mungkin bang Daeng mendengar suara isakanku.


"Ya, Bang." aku mengeratkan pelukanku padanya.


Entahlah, aku campur aduk rasanya.


Tidak terasa, pagi telah tiba saat aku baru memejamkan mataku beberapa menit saja. Aku sulit tertidur, semalaman suntuk aku hanya menscroll sosial mediaku untuk melihat jejak aktivitas Chandra di story yang Ghifar buat.

__ADS_1


Aku ingin bertanya pada papah Adi yang pernah berpoligami. Apakah ia bisa mencintai dua wanita sekaligus?


Bukan aku meragukan perasaan Ghifar pada istrinya. Hanya saja, ungkapan Ghifar saat itu masih terngiang di pikiranku.


Sesulit itu ia melupakan perasaannya padaku.


Tiga hari yang lalu, Ghifar meng-upload foto saat dirinya mendampingi Kinasya yang memakai baju pasien. Mereka tersenyum manis ke arah kamera, dengan bayi kecil di tengah-tengah mereka.


Kafi Teuku Dhafir.


Mungkin itu adalah nama anak mereka. Anak laki-laki rupanya, yang hadir melengkapi kehidupan Ghifar.


Brasilia, Brasil.


Kota singgah yang berada di bawah nama akun Ghifar, saat meng-upload foto tersebut.


Oh, jadi mamah Dinda menetap di kota Brasilia.


Aku pun sempat membaca beberapa komentar. Namun, yang paling menggelitik adalah komentar dari akun bernamakan Adi Zuhdi.


...****************...

__ADS_1


Berikut adalah beberapa komentar paling relevan 🤣


__ADS_2