
Ruko Ceysa, yang ditempati oleh mangge Yusuf dan ma Nilam. Masalahnya, ada Putri juga di sana.
Mas Givan pun, terdengar tertawa lepas. Bukan berdebat, seperti yang ia ceritakan pagi tadi.
Hufttt.....
Stress sudah.
Saat kembali setelah membeli tiga bungkus ketoprak, aku dipanggil oleh mas Givan.
Bodo amat, aku pura-pura tidak mendengarnya saja. Aku langsung berjalan cepat ke arah rumah mamah Dinda, daripada basa-basi di depan Putri. Sudah malas sekali rasanya, jika menarik nama seorang Putri.
Aku menyantap ketoprak bagianku, dengan sesekali dicicipi oleh Key. Chandra sudah lelap dengan posisi tengkurap. Hadi sudah hampir terpejam, dengan telapak kaki yang terus bergoyang.
"Biyung, yang bau-bau ini apa namanya? Tak ada rasa, tapi bau mirip seblak tuh." Key mengendus bau dari bumbu ketoprak ini.
"Kencur namanya, Key. Buat bumbu seblak, ketoprak, karedok. Banyak lagi deh. Kencur juga bisa buat jamu. Yang mirip kunyit itu loh, tau kan?" Key sedang menggali wawasannya.
Ia mengangguk, kemudian memasukkan sesendok ketoprak ke mulutnya.
"Aku pernah makan karedok juga." tukasnya setelah mengunyah.
Srekkkk....
Senyum di wajah tampan itu, membuatku tetap bad mood.
"Hah? Makan lagi???" matanya sampai membulat.
"Biyung kan belum makan ya, Biyung?" tutur Key, dengan melirik ayahnya.
Kepala mas Givan masih melongok di ambang pintu, "Key belum tau aja." mas Givan terkekeh seorang diri.
Kemudian, sorot matanya mengarah padaku.
"Ces udah tidur tuh. Gih ke kamar."
Aku hanya mengangguk saja. Biar nanti aku telatkan masuk ke kamar, karena ia pasti akan menemui Putri lagi.
"Aku mau mandi, Canda." ujarnya kembali.
"He'em." aku enggan berkontak mata dengannya.
Agar mas Givan peka dan mengerti, bahwa aku tengah bad mood padanya.
Srekkkk....
__ADS_1
Pintu dengan fungsi geser itu tertutup kembali.
Hingga beberapa saat kemudian, aku sudah berada di kamar. Mas Givan berada di tepian ranjang, dengan memainkan ponselnya.
"Tak sholat-sholat jalan-jalan tuh! Gih sholat dulu!" ia melirikku sinis.
Aku hanya mengangguk, enggan menyahutinya. Aku malas padanya.
Aku membersihkan diri, kemudian menunaikan sholat yang aku qodo juga. Anggap saja aku musafir.
Aku sudah curiga padanya. Ia pasti mengambil haknya, setelah memberiku ini dan itu. Sudah terbaca, sifat laki-laki itu merata.
Kini ia sudah memelukku, yang tengah berhias diri. Gerakan tangannya dan hembusan nafasnya, sudah terbaca olehku.
"Haid belum?" tangannya sudah mengusap-usap dadaku.
"Belum." aku menjawab seperlunya.
"Memang belum nyampe di pil kuning? Perasaan kita udah lama kok, udah ada sebulan. Memang belum habis pilnya?" mas Givan berada di baju kiriku.
Aku fokus mengusapkan krim malam saja, "Belum habis, belum sebulan." nyatanya, itu masih utuh kok.
"Selesai belum? Aku pengen."
Ambigu.
"Pakai yang khusus untuk laki-laki. Ini untuk perempuan." aku menunjukkan packaging produk yang berada di genggamanku.
Aku bisa melihat dari cermin, matanya yang melebar. Lalu ia tertawa geli, dengan melepaskan pelukannya.
Apa coba yang lucu?
"Aku minta *****. You know? Kepala besar masuk ke sarang kek gitu loh." ia melepaskan kaosnya.
Aku menyimpan kembali skincare milikku, "Aku capek, Mas." aku berjalan ke sisi lain ranjang.
Di mana, dirinya tidak berada di sisi tersebut. Aku hanya mendengar nafasnya yang seperti angsa. Mas Givan tidak berkata apapun, ia pun tidak bertindak apapun. Sepahamku, mas Givan tidak akan pernah memper*osaku setelah aku menjadi istrinya ini.
Aku merebahkan tubuhku dengan memeluk Ceysa, "Sana aja sama Putri! Enak, pegangannya besar."
Entah kenapa, berkata seperti itu hanya membuatku semakin sakit sendiri. Aku memejamkan mataku, karena aliran bening sudah tak terbendung.
"Asal kau tau aja, Canda. Cuma kau canduku."
Brughhhh....
__ADS_1
Bukan pintu kamar, melainkan pintu kamar mandi. Aku sedikit melirik, ternyata ayahnya Chandra tidak berada di kamar. Sepertinya mas Givan berakrobat di dalam kamar mandi.
Aku bertambah cengeng, lantaran mas Givan malah bersembunyi dariku. Bukannya menjelaskan atau membujukku.
Aku pura-pura sudah terpejam, saat mas Givan keluar dari kamar mandi. Kemudian berbaring di sisi lain dari tempat Ceysa. Matanya terpejam, tetapi nafasnya tidak beraturan.
Bodohnya lagi, aku malah semakin terisak. Aku tidak suka dengan sikapnya. Mas Givan malah tidur, bukannya berkata sesuatu untuk menenangkanku.
"Apa sih, Canda?!!! Kau nangis tak jelas betul! Apa-apa nangis! Apa-apa nangis! Tak mau, udah! Aku tak maksa!" suaranya sedikit naik.
Bahkan, Ceysa saja sampai tersentak kaget. Tetapi tidak sampai terbangun.
"Mas tadi ngapain coba?! Malah ketawa-ketawa sama Putri." aku menangis sambil berbicara lagi seperti waktu pagi.
Aku kenapa sih sebenarnya? Perasaan, aku kok seperti cengeng sekali sekarang. Tapi, dari dulu memang aku cengeng.
Mas Givan bangkit, ia duduk di tepian ranjang. Namun, memunggungi posisiku.
"Putri lagi! Putri lagi!" mas Givan mengusap-usap wajahnya kasar.
Kenapa dengannya?
Ia bangun, lalu berbalik menghadapku. Telunjuknya terulur ke arahku.
"ASAL KAU TAU YA, CANDA!!! Aku sampai setuju kasih wilayah sama dia, biar dia tak usik kehidupan aku lagi. Papah, mangge, ma Nilam saksinya. Langsung, tanda tangan di atas materai tempel. Tulis tangan dengan keterangan terkait. Ini demi kau, Canda. Demi rumah tangga kita. Biar apa-apa, kau tak tarik Putri lagi. Aku sampai pertaruhkan SDA tambang aku, biar di rumah tangga kita tak ada Putri-Putri lagi." bentakan itu kembali turun, dengan sorot mata marahnya.
Aku hanya diam sesenggukan, dengan memeluk Ceysa. Aku khawatir, tidur anakku terganggu karena suara menggelegar ayah sambungnya itu.
"Kalau tau mamah, ini tak akan dibolehkan. Ini pernah aku bahas sama mamah, di situ mamah larang aku. Mamah nyaranin biarkan aja Putri, sampai dia capek sendiri. Aku yang capek sendiri, Canda. Aku yang pusing, setiap kali istri ngamuk kalau ada Putri depan mata. Belum lagi mertua negur, disangka main perempuan lain. Tapi mau gimana lagi? Cuma itu jalan keluarnya. Mamah pun punya masalah sendiri. Aku tak mungkin selalu narik mamah, kalau aku tak bisa selesaikan masalah aku." mas Givan berjalan ke arah jendela kamar, dengan mulutnya yang terus bersuara.
Ia membuka jendela tersebut. Angin dingin menyeruak masuk ke kamar yang sudah full AC ini.
"Aku harus putar otak setelah ini, biar salah satu tambang aku tak goyah karena kekurangan SDA." mas Givan menarik-narik rambutnya sendiri.
Aku sedikit mengerti dari ucapannya. SDA itu, sumber daya alam. Tambang itu, seperti pengerukan di sebuah bidang, untuk mendapatkan hasil bumi di tempat tersebut. Contohnya pertambangan mas Givan, pertambangan batubara. Tempat yang terdapat batubaranya itu, diambil alih setengah oleh Putri.
"Tanya mangge Yusuf, kalau tak percaya. Putri udah janji tak bakal ganggu kehidupan aku lagi, meski SDA perusahaannya ngambil di tempat aku. Kita sampai buat perjanjian tertulis untuk itu. Cuma untuk pikiran kau tenang. Tak perlu kau kantongi suami kau lagi sekarang. Kau menang, Canda!" suara mas Givan, masih terdengar cukup nyaring.
Aku tengah dimarahi, aku tidak bisa menyahuti apapun.
"Kalau aku ikut saran mamah, pikiran kau tak bakal bisa tenang. Mungkin dengan saran mamah, usaha aku bakal aman. Tapi enggak dengan rumah tangga aku. Kau perempuan, yang tidak bisa diajak kerjasama untuk masalah ini. Cerita dari Lendra, cukup buktikan gimana tabiat kau. Rasa percaya kau ke suami sendiri itu udah tak ada. Terus-terusan kau begitu, Canda. Bukan tak mungkin, kau pun kena Sindrom Othello kek Kin. Cemburu terus, hidup dalam prasangka yang tak semestinya. Bisa-bisa tak waras otak kau kek Kin, Canda!" di akhir ia memakiku, suaranya kian menurun.
Aku tidak sakit hati dengan perkataannya. Namun, aku malah terfokus dengan keadaan Kinasya. Benarkah kejiwaan Kin bermasalah? Lalu bagaimana dengan anak-anaknya? Aku takut Kinasya memasak anaknya sendiri.
...****************...
__ADS_1
Dibuat sedikit nyambung ya, tapi sedikit aja. karena ini aja udah hampir 400 episode. Aku usahain bulan ini tamat ya 😁