Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD142. Kabar dari Dendi


__ADS_3

Foto maternity si Kaktus sialan itu.


Hei, aku bahkan tidak pernah foto ala-ala seperti itu. Foto tercantikku, hanya saat menjadi pengantin saja.


Nadya berpose mendongak dengan menyentuh gaun berwarna putih di bagian pinggangnya. Di foto itu, ia berdiri di depan mobil berwarna putih. Mobil di sana kebanyakan berwarna putih dan silver. Entah itu mobil milik Nadya atau milik keluarga delapan saudara itu.


Bang Dendi sudah masuk menjadi rekan kerja Ghava, pastilah Riyana Studio menjadi markasnya. Namun, aku was-was dengan kebenaran ini. Aku takut bang Daeng mengetahui tentangku, lewat mulut bang Dendi ini.


Aku takut, bang Dendi membeberkan bahwa aku adalah mantan menantu idolanya bang Daeng. Ya, hanya itu yang aku takutkan.


Kontak bernama Bang Dendi malah mengirimiku pesan chat.


Puaskah, oh sayangku.....


Foto yang dikirimnya masih loading. Aku tidak mengerti, kenapa bang Dendi malah mengirimiku pesan seperti itu.

__ADS_1


Oh, aku langsung tertawa begitu lepas.


Nadya tengah ditunjuk-tunjuk oleh mas Givan, tepat di depan wajah Nadya. Mereka tengah bertikai sepertinya, lalu bang Dendi mencuri foto mereka.


Aku pun pernah merasakan ditunjuk di depan wajah. Betul perkataan orang terdekatku, kini Nadya menggantikan posisiku.


Kok ada di sana sih, Bang?


Aku pura-pura bodoh dan seolah tidak mengetahui apa-apa.


Abang nyari nafkah di sini, Dek. Jadi team editing di studio milik Ghava. Abang pulang sebulan sekali, baru sebulan sih ikut di sini.


Bang Dendi harus menafkahi kak Anisa. Ia sampai rela merantau, meninggal istri untuk sementara waktu demi kebutuhan hidup. Padahal mereka masih pengantin baru.


Tinggalnya di mana, Bang?

__ADS_1


Aku teringat akan kontrakan milik mamah Dinda, yang berjarak lima puluh meter dari rumah megah itu. Salah satu kamar kontrakannya, pernah ditempati oleh Kinasya.


Di studionya, Dek. Di depan rumah mantan mertua Adek itu nah. Kan ada lapangan luas, itu di bikin studio sederhana. Satu petak ruang rekaman, satu tempat editing, lantai atas studio musik, satu ruangan paling depan buat ruang tamu. Di lantai dua, ada dua kamar juga. Satu buat Abang, satu dipakai Ghava. Karena Ghava sibuk, jadi Winda pindah juga ke kamar Ghava yang di sini. Parkiran cukup dua mobil sih, kalau motor mungkin cukup banyak. Cuma di dekat jalan aja yang dibikin bangunan, di belakangnya masih luas betul Dek.


Senangnya bertukar chat dengan bang Dendi karena ia langsung menerangkan semuanya.


Enak Bang kerja sama mereka tuh. Mereka bisa memanusiakan manusia.


Balasku padanya. Aku pun harus menghapus ini, agar bang Daeng tidak mencurigaiku. Aku hanya menghapus pesan tersebut untukku saja, jadi chat kami masih utuh. Karena bang Daeng di sini pintar, ia mengecek ke bagian ekspor chat. Membuatnya mengetahui siapa saja yang bertukar chat denganku.


Enak, Dek. Tapi Abang kadang udah mulai edit jam tujuh pagi, udah mulai kerja. Tapi Ghava sama Winda masih tidur, Abang tak disediakan makanan pagi. Makan sarapan jam sembilan. Kalau beli sendiri, malah kena sewot Ghava. Katanya Abang kerja sama dia, tak usah beli makan, itu resiko Ghava nanggung makan Abang. Tapi Abang kan laper, masa mau diisi asap sama air terus.


Aku cekikikan sendirian. Winda dan Ghava ternyata masih hobi bangun siang, sekarang pun malah merambat padaku. Selepas sholat subuh, aku tidur lagi sampai jam sembilan atau jam sepuluh. Hal itu sudah berulang, sejak aku sendirian di kos milik suamiku ini.


Kerjaan yang sangat mulia, aku hanya mengscroll sosial media dan rebahan saja. Entah kenapa, hal seperti ini menurutku begitu membuatku senang. Aku merasa malas melakukan aktivitas rutinku, ditambah lagi bang Daeng pun belum kembali. Aku tidak harus memikirkan tidak enak kepada bang Daeng, suamiku.

__ADS_1


...****************...


Jorrr terus aja, Canda. Mumpung hidup ditanggung pemenang 😏, eh ditanggung suami 🤭


__ADS_2