Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD364. Menyiapkan makan


__ADS_3

Aku langsung menyiapkan yang mas Givan inginkan. Karena tidak ada makanan apapun di sini, aku membuatkannya dua telur mata sapi.


Aku menghidangkan sepiring makanan dan segelas air putih, di depan mas Givan. Tanpa komentar, ia langsung menyantap tanpa mengucapkan terima kasih.


Urat wajahnya sedikit lain.


Aku memilih untuk tidak banyak mengajaknya berbicara, karena kini aku paham tabiatnya. Aku tidak ingin memancing percikan amarah, di awal pernikahan ini.


Setidaknya, aku paham jelas sikap dan sifat suamiku. Aku harus lebih bersabar, karena memang itu sudah wataknya.


Aku mengerti dengan sepenuh hati. Bahwa sampai mati pun, watak seseorang tidak bisa diubah.


"Papah ke mamah dulu." papah Adi meninggalkan ruang tamu.


Pasti papah ingin melapor tentang Ferdi yang meminta izin tadi.


Aku hanya berdiam, dengan bersandar pada tembok dan kaki selonjoran. Aku aktif dengan pemikiranku sendiri, tentang aktivitas anak-anak yang tidak aku ketahui.


Bagaimana ceritanya Aini menumpang di rumah Giska?


Lalu, bagaimana sikap Ardi pada Ceysa yang tengah berkunjung di sana?


"Ke rumah sakit lagi nanti setelah tiga hari."


Aku melirik pada seseorang yang tengah meminum obat tersebut.


"Tak boleh langsung dicabut, karena lagi sakit." tambahnya kemudian.


Aku manggut-manggut, "Bener mau dicabut?" aku paham banyak beberapa cara untuk memperbaiki gigi berlubang.


"Kata dokter sih jangan, pakai crown aja katanya. Tapi tetep gak bisa langsung dikerjai, karena gigi lagi sakit juga. Crown juga, harus lewat beberapa prosedur dulu."


Ia mengesampingkan piring kotor dan gelas minumnya tadi. Lalu mas Givan bersandar pada tembok sepertiku, dengan pengait celana jeans yang ia buka dan kaki selonjoran.


Perut mas Givan selalu mengembang ketika kenyang. Bahkan, otot perutnya sampai tertutupi ketika makan terlalu banyak.


"Jam sembilan nanti aku keluar ya? Kayu jati datang. Semen pun, subuh nanti datang." pandangannya lurus ke depan.


"Mau ada acara samadiah buat bang Lendra." aku menginginkannya menyempatkan waktu untuk hadir.


"Ya, minta papah atur acaranya habis maghrib aja. Acaranya pun dilanjut sampai setahun tak apa, terus tahun ketemu tahun tuh. Aku tak enak, nikahan biayanya dari Lendra semua." ia menoleh padaku.


Aku mengangguk, "Papah pun minta diulang tiap tahun." aku tidak tahu akan menyahuti apa tentang biaya pernikahan itu.


"Badan capek betul, kerjaan terbengkalai." mas Givan mencondongkan tubuhnya ke depan, kemudian ia memijat dahinya dengan siku bertumpu pada kakinya.

__ADS_1


"Diambil yang pentingnya aja, Mas."


Ia melirikku, "Penting semua. Mana HP Lendra dikasihkan ke aku, orang tuanya suruh aku urus kerjaan Lendra. Mana tak paham, gimana sistem kerja distributor. Pakai bahasa asing lagi, surat perjanjiannya pun bikin aku nangis." mas Givan geleng-geleng kepala.


"Kenapa memang, Mas?" aku tidak mengerti kenapa ia sampai akan menangis.


"Pengen nangis tuh bacanya, karena tak ngerti artinya."


Humor remahan.


"Takut gila, otak tak sampai." mas Givan memijat pelipisnya.


Aku mengusap punggungnya, "Bisa lah. Bang Lendra kan buka usaha itu semua, demi anak-anak juga." aku tersenyum manis.


Mas Givan hanya melirikku sekilas, "Kebanyakan tuh. Dulu miskin, miskin betul. Sekarang, kebanyakan tanggung jawab usaha, sampai rasanya hampir gila. Kalau udah stabil gini tuh, tak bisa tiba-tiba tutup usaha. Terlalu banyak resiko." mas Givan membiarkan tanganku yang berada di punggungnya.


Benar juga sih. Perusahaan tambang milik mas Givan, sampai berjumlah dua. Ia pun memiliki toko material bangunan dan juga usaha kayu jati dan ulin.


"Bapaknya Lendra suruh resign aja deh. Suruh bantu urus perusahaannya anaknya." mas Givan hendak bangun dari duduknya.


Aku harus mengatakannya lebih dulu, sebelum ia mendengar dari orang lain.


"Mas, Mas, Mas." aku mencoba menahan langkahnya dengan panggilan dariku.


"Sini duduk dulu." aku menarik jemarinya.


"Apa?" ia duduk di hadapanku, "Seratus pagi tadi buat pegangan aja, bukan jatah belanja. Tadi aku tak pegang uang, transaksi selalu debit." lanjutnya kemudian.


"Bukan. Uang sih, aku juga banyak dari para undangan." sahutku yang membuatnya terkekeh.


"Terus apa?"


Aku mulai serius, "Ini loh." aku sedikit ragu mengatakannya.


"Apa?" ia sedikit menggeram.


"Ceysa mau dibawa ke Makassar. Papah Adi tak kasih izin, katanya suruh minta izin sama Mas aja. Papah Adi khawatir, takutnya Mas malah nyuruh keluarga Lendra suruh bawa Ceysa aja." aku malah mengadu.


"Siapa yang minta izin tadi?"


"Ferdi, tadi dia ke sini." jawabku dengan memperhatikannya yang memandang ke arah lain.


Mas Givan mengangguk, "Kau juga ikut sana, Chandra biar sama mamah dulu aja."


Hah?

__ADS_1


Bagaimana maksudnya?


"Aku juga suruh diambil aja sama keluarga bang Lendra?" aku sudah baper di sini, sebentar lagi aku akan menangis.


"Kan tadi pagi aku udah ada ngomong." aku kurang nyaman mendengar mas Givan yang selalu menyebut dirinya aku.


"Apa?" mungkin rahangku sudah mengencang sekarang.


"Di bawa ke Makassar, liburan. Nanti satu mingguan, aku jemput ke sana. Chandra biar di sini dulu, kau pasti keteter urus dua anak di luar rumah. Entah kalau di sekitar rumah mamah aja sih, di sini dipagar tinggi. Anak-anak lari-larian juga di sekitar sini, tak mungkin bisa jauh."


Inikah alasannya dulu begitu tenang memintaku menghandle dua anak sekaligus?


Ya, aku mengurus Key. Juga menghandle Chandra seorang diri.


Memang pemikiran mas Givan agak lain.


"Aku dibiarkan sama mereka?"


Mas Givan mengedikan bahunya, "Itu sih terserah, kalau mau. Nanti aku jemput, terus liburan bareng. Kalau dari rumah liburan berdua gini, malu nanti diledekin orang rumah. Kalau gitu kan, mereka tak tau kita ambil liburan."


Aku menyebutnya cerdas dan bermain rapih.


"Nanti lah, Mas. Aku mau urus tahlilan bang Lendra dulu. Tak mau buru-buru ambil liburan." sangat keterlaluan, jika masih dalam acara tahlil untuk bang Daeng. Lalu aku malah pergi ke luar kota.


Aku meluruskan pandanganku pada mas Givan, karena tak mendengar suaranya menyahutiku.


Aslinya menyatu seperti kebiasaan Chandra.


Haduh, pasti ia tersinggung. Pasti mas Givan berpikir aku bagaimana lagi.


"Ya udah. Tak liburan pun tak apa, aku sibuk juga." setelah menjawab itu, ia bergegas pergi.


Dari nada suaranya, seperti tidak bersahabat.


Apa ya?


Apa mas Givan ingin liburan?


Tapi, ini masih hari duka.


Tidak juga sepertinya. Mungkin lebih ke konsep, mas Givan ingin kami.......


...****************...


Apa 🤭

__ADS_1


__ADS_2