Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD91. Rumah mangge


__ADS_3

Aku begitu tegang, saat dikelilingi pria-pria bertato ini. Bang Daeng dan ayahnya memiliki tato yang mencolok. Ayahnya bermandikan tato di lengan kirinya, tato itu sampai melekat di lehernya seperti bang Daeng.


"Kenapa, Dek?" mungkin bang Daeng menyadari keteganganku.


Kami sudah berada di kediaman mangge Agustinus Panrita, itu nama asli di dalam dokumennya. Namun, sejak dirinya Islam. Ia selalu dipanggil dengan Muhammad Yusuf. Mangge Yusuf saja, aku diminta bang Daeng untuk menyebutkannya.


"Tak apa." aku tersenyum samar dengan menyentuh lengan bang Daeng.


"Suruh istirahat aja, Len! Mangge mau ke kantor." ujar mangge Yusuf dengan menepuk pundak bang Daeng.


"Kau pakailah kamar Mangge. Dek no Canda biar di kamar depan itu, kamar yang dulunya kau tinggali." ia bangkit dan berjalan ke ruangan lain.


Ia masih terlihat gagah, sehat dan sangar. Sorot matanya seperti bang Daeng, buas dan mengunci. Hanya saja, postur tubuhnya tidak begitu tinggi seperti bang Daeng. Mungkin sekitar seratus enam puluh delapan, perkiraanku.


"Gak boleh kah satu kamar aja?"


Tiba-tiba langkah mangge Yusuf terhenti, ia menoleh dengan tatapan nyalangnya.

__ADS_1


"Harusnya sebelum ke sini, puas-puasin dulu berzina. Ini Aceh, Bos! Jangan malu-maluin Mangge, karena kau kena gerebek!" gertakan cepat, membuat tawa bang Daeng begitu lepas.


"Ok siap, Komandan." bang Daeng memberikan hormat pada mangge Yusuf.


Mangge Yusuf berlalu, lalu terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali.


Bang Daeng tiba-tiba menoleh ke arahku, "Dek... Tatonya di sini full. Kaya visual mafia-mafia gitu nah." bang Daeng menunjukkan dadanya sendiri, yang masih menggunakan kemeja.


Setelah kami sampai di kantor saat itu. Bang Daeng meminta di antar ke bandara dan kami langsung melakukan perjalanan udara kurang lebih empat jam. Belum lagi jarak dari bandara ke rumah mangge Yusuf, itu cukup memakan waktu. Aku sampai terlelap di dalam mobil taksi online, yang bang Daeng pesan dari bandara.


"Udah keburu insyaf duluan." jawabnya enteng dengan tertawa geli.


"Abang ke luar dulu ya? Mau cari sarapan. Adek bersih-bersih dulu gih! Abang pun belum ada bilang apapun ke mangge, mungkin paham Abang balik bawa perempuan." bang Daeng bangkit dari duduknya.


"Ya, Bang. Terus aku mau tidur, aku ngantuk." aku berjalan ke arah koper kami, yang masih tergeletak di ruang tamu.


"Ya, Dek. Anggap aja rumah sendiri." ia ke luar dari rumah.

__ADS_1


Aku mengedarkan pandanganku, rumah kecil minimalis di tengah kota. Menurut bang Daeng, rumah-rumah di sini tahan gempa. Pembangunan dan materialnya sudah sesuai prosedur untuk membuat hunian tahan gempa. Rumah megah di Bener Meriah pun, didesain tahan gempa menurut papah Adi. Karena di daerah ini dulu pernah terjadi gempa dahsyat, yang menimbulkan tsunami. Membuat orang-orang lebih siaga sekarang.


Aku mencari kamar mandi di belakang rumah ini. Kamar mandinya, bersebelahan dengan dapur model lama. Kompor itu, didudukan di meja anti panas. Tidak ada exhaust di sini, beberapa genteng dibiarkan terlihat, tidak terpasang plafon di dapur ini. Mungkin agar udara bebas naik ke atas, tanpa bantuan exhaust.


Rumah ini cukup bersih dan terawat. Bahkan, beberapa pengharum ruangan tergantung di sini. Aroma ocean, dipilih untuk semua pengharum di rumah ini. Kamar mandi pun, terlihat bersih dan tidak licin. Mangge Yusuf sepertinya ada orang yang resik.


Aku langsung membersihkan diri dan memakai pakaian sehari-hari. Setelahnya, aku menuju ke kamar yang berada di sebelah ruang tamu. Kamar yang ditunjukkan untukku.


"Dek... Makan dulu." terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali.


"Ya, Bang." aku membuat simpul asal di belakang leherku, karena hijab panjang yang cukup menjuntai ini.


Kami makan bersama, sesekali kami berbicara mengenai rasa dari makanan pagi ini. Bang Daeng adalah teman mengobrol yang asik. Ditambah lagi sifat terbuka dan suka berkeluh kesahnya, membuatku paham dan mengerti akan dirinya.


...****************...


Akhir-akhir ini gak gantung ya, santai gitu kek gak ada pergerakan. Tapi biasanya buaya itu munculnya di air yang tenang, kek gak ada arusnya gitu. Tiba-tiba langsung ngap aja, kek cerita ini 😆

__ADS_1


__ADS_2