
Bang Lendra benar-benar licik, atau memang kelewat irit.
Kamar hotel ini cukup mewah. Memiliki dapur, kamar mandi, tempat mesin cuci dan menjemur pakaian, ada ruang tamu juga. Setiap ruangan itu memiliki sekat, bukan ketika kita buka pintu langsung dihidangkan ranjang.
Hanya saja, kenapa bang Lendra bisa menyatu dengan kami para wanita? Dalam satu kamar hotel ini, diisi oleh tiga kepala orang dewasa dan satu kepala Chandra.
Lebih hebatnya lagi, ia pulas di ranjang dengan sepatu yang masih terpasang. Tiga belas jam perjalanan, dengan dua kali istirahat untuk makan membuat dirinya kelelahan luar biasa. Lantaran, tidak ada yang menggantikannya mengemudi.
Ia mengeluh sakit leher, mata berat dan lengan linu.
"Kau sama bayi kau, tidur di ranjang aja bareng Lendra. Biar aku yang di sofa itu." kak Raya menunjuk sofa panjang, yang berada di sebelah ranjang ini. Sofa itu berpasangan dengan sebuah meja kaca, menghadap ke televisi besar yang menggantung di tembok.
"Biar aku bangunkan bang Lendra aja. Masa perempuan tidur di sofa."
Aku, Chandra dan kak Raya sudah mengenakan pakaian tidur.
Kak Raya ternyata seumuran bang Lendra, usianya sudah kepala tiga. Tapi ia belum menikah sama sekali, bisa disebut gadis. Obrolannya terlalu dewasa, aku tidak bisa memastikan bahwa dirinya perawan.
Memang, itu bukan urusanku. Aku hanya memvisualkan saja semampu jangkauan pikiranku.
"Lendra gak pernah mau tidur di sofa. Di antara kita, dia yang bos." kak Raya menunjuk bang Lendra yang sudah mendengkur halus.
Untungnya, kami semua sudah makan. Termasuk Chandra juga. Jadi kami tidak memikirkan perut lagi.
Tapi ngomong-ngomong, bang Lendra ternyata egois juga. Dia laki-laki, tapi tidak mau mengalah dari perempuan. Sekalipun kedudukannya bos untuk kami.
"Aku takut, Kak." aku enggan merebahkan Chandra yang tengah aku ayun ini ke ranjang.
Chandra sedikit rewel, karena jam tidurnya kembali kacau. Aku memaksanya tidur, dengan cara mengayun sembari menyusuinya. Karena sekarang sudah pukul sepuluh malam, esok jam tujuh pagi, aku sudah mulai bekerja.
"Lendra gak pernah macam-macam, selama tiga tahun aku kerja sama dia." aku sedikit terkejut, mendengar pengakuan kak Raya.
"Chandra di tengah, kau di sisi lainnya." lanjut kak Raya kemudian.
"Ya, Kak." aku duduk di tepian tempat tidur, perlahan-lahan aku mulai merebahkan Chandra.
Dalam kondisiku yang seperti ini. Herannya, Chandra malah terlihat gemuk. Padahal ia makan tidak teratur, ia pun pernah sakit flu beberapa kali.
Apa Chandra juga merasa bebas? Jauh dari ayahnya seperti ini.
Ayah yang selalu membentaknya, ketika ia enggan untuk tidur tepat waktu. Ayah yang selalu memberi pelototan tajam, ketika ia merengek seperti bayi pada umumnya.
Setelah Chandra nyaman di tempat tidur, perlahan aku mulai meluruskan pinggangku di samping Chandra.
Eh, iya. Kerudungku.
Aku mengenakan kerudung instan. Kerudung yang tadi aku kenakan dan pakaiannya pun, tengah aku angin-anginkan di tempat untuk menjemur pakaian. Mau bagaimana lagi? Aku tidak memiliki banyak setelan baju kerja. Hijab panjangnya pun, aku diberi oleh kak Anisa.
Ternyata, ini adalah cara yang sama. Yang digunakan oleh kak Raya. Karena setiap perjalanan kerja, ia mengatakan tak terlalu banyak membawa pakaian ganti.
Setelah ini aku berjanji, untuk bisa membayar jasa-jasa mereka.
__ADS_1
Aku mulai nyaman, dengan suara dengkuran halus dari dua orang laki-laki berbeda usia ini. Entah mengapa, aku selalu mengantuk jika mendengar suara dengkuran halus seperti ini.
~
Bang Lendra selalu mencolek bagian tubuhku, ketika ia mengobrol dengan seseorang yang berpakaian sederhana. Namun, cukup terlihat rapih.
Di daerah ini, budidaya jahe merah cukup pesat.
"Kau tulis belum, Bondeng?!" bisiknya, ketika lawan bicaranya tengah menoleh ke arah lain.
Aku hanya mengangguk saja. Bahkan, aku menulis segala yang mereka obrolkan tanpa merangkumnya. Aku belum pandai perihal rangkum merangkum. Yang aku pahami, semua pembahasannya memang penting.
Ia kembali bercakap-cakap, aku pun menuliskan kembali.
Hingga beberapa saat kemudian, narasumber tersebut pamit undur diri. Dengan bang Lendra yang langsung buru-buru menarikku di pematang ladang ini. Karena kami tengah berada di sebuah saung, saat bercakap-cakap tadi.
"Cepako, buru-buruka!"
Aku seperti orang bodoh, saat bang Lendra berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti.
"Jeut, Bang." dia kira, aku tak bisa mengadu kosa kata yang aku dapat selama lima tahun tinggal di Serambi Mekah.
Ia menoleh, tetapi tangannya tetap menarikku.
Setelah sampai di sebuah rumah kecil, yang diketahui sebagai tempat teduh petani jahe merah ini. Bang Lendra langsung masuk begitu saja, meninggalkan aku di luaran rumah satu petak ini.
Tapi ngomong-ngomong, cepako ini Masako kah? Maksudku, penyedap rasa seperti itu?
Oh, dia baru selesai buang air.
Aku kira tadi, ia membutuhkan penyedap rasa.
"Cipuru'ma." bang Lendra mengusap-usap perutnya.
Diare kah dia?
"Mules, Bang?" tanyaku bingung.
Tentu saja aku bingung, tiba-tiba dihadapkan dengan sosok bang Lendra yang berbahasa daerahnya. Ke mana bang Lendra yang pandai bahasa Indonesia tadi?
Aku tak mungkin menjawab pertanyaannya dengan bahasa Aceh.
Aku tahu diri, aku tak sesombong itu.
Padahal aslinya, aku hanya paham kosa kata bahasa Aceh saja.
"Lapar!" tiba-tiba ia berseru di depan wajahku.
Aku menatapnya dengan tatapan aneh, "Abang dari WC kan? Kok bisa lapar? Padahal mules lebih nyambung, karena objek tadi WC. Bisa jadi Abang diare." jelasku padanya.
Namun, sepertinya ucapanku tak berkenan di hatinya.
__ADS_1
"Issengko deh!" ia ngeloyor pergi begitu saja.
Mana langkah kakinya lebar-lebar lagi.
Kenapa dia ini? Salah makan atau bagaimana? Buat pening saja kerjaannya.
Sekali-kali deh, aku akan coba memakinya dengan bahasa yang tidak ia pahami.
"Pap ma!" seruku sambil mengikuti langkah kakinya.
Namun, sesuatu terjadi.
Ia diam, sambil menoleh padaku dengan tatapan sengit.
Aku pun tidak berani melangkah, kemudian aku menoleh ke belakang. Mana tau ada sesuatu di belakangku, yang menjadi pusat perhatiannya.
Tapi hanya ada aku di sini, tidak ada apapun di belakangku.
Matanya hampir keluar dari tempatnya. Urat-urat wajahnya mengencang. Urat lehernya pun tercetak jelas, meski tertutup dengan goresan tinta di lehernya itu.
Kalau boleh jujur, aku takut di tinggal di kawasan ladang jahe ini.
Aku tersenyum, lalu melangkah arahnya. Aku pura-pura tak memiliki dosa apapun, apa lagi makian kasar dalam bahasa Aceh tadi.
"Ok, sip. Baiklah." aku menarik kain bajunya, untuk mengikuti langkah kakiku.
Aku masih tidak bisa bersentuhan fisik, tanpa penghalang apapun. Jika itu memang kuasaku.
"Bondeng!" ia merangkulku, mengapit leherku di antara lengannya.
Menarikku seperti tidak terlalu kencang, membawaku untuk melangkah cepat sepertinya.
"Putus leher gue! Chandra tak punya ma lagi nantinya!" aku memukul-mukul lengannya.
"Kasar ya mulut kau?! Pap ma, pap ma!!! Sekali lagi Abang dengar, Abang jahit juga mulut kau!" ancamnya dengan melepaskan jepitan tangannya di leherku.
Aku berhenti melangkah, merenggangkan otot leherku dari belenggunya tadi. Aku pun bisa melihat bang Lendra tengah memperhatikanku dengan sorot buasnya.
Ia sama sekali tidak terlihat sangar, jika diperhatikan lebih dalam. Hanya saja, ia terlihat buas dan liar. Kelihatannya seperti itu, tidak tahu dengan aslinya.
"Memang tau artinya pap ma?" tanyaku kemudian.
"Berse*ubuh dengan ibumu."
Aku terdiam kaku mendengar jawabannya. Mati aku, pantas saja dia marah. Rupanya dia mengerti artinya.
Padahal Makassar ke Aceh jauh. Kenapa ia bisa paham?
...****************...
Kan bapaknya Lendra ini menetap di.... mana hayo?
__ADS_1