Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD210. Email masuk


__ADS_3

"Fantasi Ghifar ya Kin. Kinnya suhu, jam terbang pacaran dulunya banyak. Kau paham tak cara muasin laki-laki? Titik sensitifnya?" mamah Dinda memperhatikanku.


"Aku udah diajarin sih, sama ayahnya anak aku ini." aku mengusap-usap perutku yang cembung di bagian bawah.


Aku adalah seorang wanita, yang ketika hamil perutnya langsung mengembang. Aku kentara sekali tengah hamil, jika sudah menginjak bulan ketiga.


"Terus, bisa?"


Kenapa sih harus ditanya?


Kan aku malu untuk menjawabnya.


"Bisa tak bisa, tapi aku mau coba." jawabku sembari cengengesan.


"Arghhhhhh..... Ma.... I love you."


"Ma....."


"Yang.........."


Ghifar tengah diapakan?


Suaranya begitu memelas. Aku jadi rindu dengan bang Daeng.


"Pindah yuk ke kamar Mamah aja." mamah Dinda langsung mematikan televisi, kemudian mengangkat tubuh Kaf.


"Ayo Kal." aku mengajak anak itu.


Lagi-lagi.


Kal memandang wajahku untuk beberapa detik. Ia seperti merasa asing denganku. Itu menurutku.


"Kal... Sini, Nak." pinta mamah Dinda sedikit berseru.


Kal mengangguk, "Ya, Ne." anak itu langsung membawa ponselnya masuk.


Kinasya yang begitu cantik, turun ke wajah Kal. Sayangnya, kulit Kal mengikuti ayahnya. Kal tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan cantik. Manis dari warna kulitnya, cantik dari wajahnya.


"Diam aja, Dek. Pura-pura tak tau. Kasian nanti Kin malu, kalau Ghifar sih memang kau udah tau sendiri." celetuk mamah Dinda sungguh tidak enak didengar.


~


Sudah satu bulan lamanya aku berbaur dan mengasuh Chandra. Sayangnya, aku adalah Canda yang suka tertidur.


Di teras belakang rumah pun, aku sampai terlelap saat menjaga anak-anak bermain. Untungnya, ada ibu yang ikut menjaga banyak anak itu.

__ADS_1


Mamah Dinda dan Ghavi tengah pergi ke kota, dengar-dengar namanya Kota Dingin Takengon. Mereka tengah menjemput dua pengasuh, untuk Key dan Aksa.


Ghavi sering di rumah, menyebabkan Tika hamil kembali. Sedangkan ibu, kini dititipkan bayi Zio dan Ziyan. Tentu aku kini mengasuh Chandra sendiri, meski akhirnya ibu turun tangan juga.


Sedangkan Kinasya, dia menghandle anak-anaknya sendiri. Mamah Dinda pun tak tinggal diam. Ia selalu membantu menantunya, untuk mengurus cucu-cucunya itu. Untungnya, Gavin dan Gibran bisa bermain sendiri. Mereka berdua tengah berada di umur bandel. Di mana papah Adi atau mamah Dinda menjemputnya dengan sebilah ranting.


Meski mereka anak juragan, mereka tetaplah anak-anak pada umumnya. Membawa besek, dengan toples bekas sosis. Mereka sering mencari ikan di saluran irigasi. Untungnya, mereka memiliki pemahaman dari orang tuanya jika terlampau jauh mengikuti arah saluran irigasi. Mereka tidak pernah kesasar, mereka pun paham mengenai binatang yang membahayakan.


"Yung..... Mam, ain." Chandra jejingkrakan tak jelas.


"Ke mana? Sini aja boboan." aku menepuk bantal yang berada di sebelahku.


Aku sedang nonton FTV, dengan bermalas-malasan di atas karpet nan nyaman ini. Aku sudah berada di titik nyaman, bisa-bisa aku tertidur jika dilanjutkan seperti ini.


"Bem...." ia menunjuk ke arah luar.


Memang pintu depan terbuka, karena papah Adi tengah aktivitas di halaman rumah. Ia memiliki orang, yang tengah membuat pagar bambu untuk pembatas tanahnya.


"Duh... Sambil makan ya?" aku terpaksa bangun, meski berat aku lakukan.


"Engkek......" ia sudah berlari menuju teras.


Aku buru-buru menyusulnya. Padahal, awalnya aku ingin mengambil nasi terlebih dahulu.


"Pah... Aku mau ambil nasi dulu. Nitip Chandra." seruku kemudian.


Papah Adi melihat ke arahku, yang baru keluar dari pintu utama.


"Ya." sahutannya samar karena angin yang cukup kuat.


Beberapa saat kemudian, aku sudah nongkrong di depan pagar bersama Chandra. Ruko untukku rumah megah milik Ghifar, Ghava dan Ghavi beserta kantor milik Ghavi tengah dibuat. Banyak aktivitas kontruksi bangunan di sana, Chandra suka melihat mobil-mobil yang berlalu lalang mengangkut barang untuk membangun rumah.


"Dek..." aku menoleh ke kiri dan ke kanan.


Saat menoleh ke belakang pun, aku tak mendapati papah Adi yang tengah memanggilku.


"Canda..." aku segera memutar kepalaku lagi.


"Ceee...." teriak Chandra, dengan lututnya yang naik turun.


Aku mengikuti arah pandangan Chandra, "Pak cek, Bang. Ce, ce, ce, kek apa aja?"


Ternyata bang Dendi yang berdiri di teras studio yang memanggilku.


"Kenapa, Bang?" seruku dengan menggandeng Chandra.

__ADS_1


Aku takut Chandra lari saja, mana di sini banyak kendaraan yang berlalu lalang.


Bang Dendi melambaikan tangannya, "Sini bentar!" teriaknya kembali.


Aku mengangguk, kemudian berniat menyebarang. Banyak kendaraan yang terparkir di depan Riyana Studio, membuatku tak melihat posisi bang Dendi tadi.


"Kenapa, Bang?" tanyaku setelah sampai di hadapannya.


"Ce...." Chandra mengulurkan kedua tangannya, ia ingin digendong ternyata.


Bang Dendi langsung mengangkat tubuh Chandra. Kemudian, pandangan Chandra langsung fokus pada mobil truk yang mengangkut pasir.


"Ini, bang Lendra email ke Gmail aku. Katanya dia ganti nomor, ganti HP juga. Kontaknya disimpan di nomor lama semua, sedangkan nomornya hilang."


Aku langsung tegang, mendengar penuturan bang Dendi.


"Dia pulang ke Padang, katanya tak ada kau. Kata yang punya kos, kau keluar kota. Dia nanya Jeni, katanya kau ke ibu kau. Abang sengaja belum balas, tau tentang cerita kau dari Enis. Tapi...." ia menggantungkan ceritanya.


"Tapi apa, Bang?"


Ia melihat ke arah perut kau, "Ghava bilang, minggu depan mau ada acara empat bulanan janin kau. Kau hamil? Hamil anak siapa? Givan kah? Tapi Givan lama tak pulang. Atau Ghifar? Atau anak bang Lendra?"


Aku hanya menunduk, aku belum membicarakan ini dengan mamah Dinda. Perihal ketua RT mengetahui aku hamil pun, aku belum mengetahui alasan yang mamah Dinda berikan.


"Terus gimana cerita tentang bang Lendranya, Bang?" aku memandang wajahnya kembali.


Kumisnya masih tetap saja tipis.


"Dia baru pulang dari Makassar. Mau baca sendiri aja kah? Email-nya pun dari beberapa hari yang lalu. Cuma, Abang kira itu email dari Shopee biasa. Jadi tak dibuka-buka, karena memang tak nyangka aja bahwa itu email dari dia." ia menyodorkan layar ponselnya yang sudah menyala.


"Abang bales belum?" aku enggan mengambil alih ponsel tersebut.


"Belum. Dia email banyak di sini." pandangannya tertuju pada layar ponselnya.


"Dek... Gimana? Jangan murung."


"Aku bingung, Bang. Aku harus ada bilang ke papah Adi, ke mamah Dinda. Masalah ini anak siapa, itu pun urusan mamah dan papah." aku mengisyaratkan dengan menoleh ke arah papah Adi berada.


Sekalipun aku harus datang ke bang Daeng, aku harus datang dengan papah Adi. Itu yang papah Adi dan mamah Dinda inginkan. Bagaimana hasil akhirnya, aku memang harus memberitahu bang Daeng tentang aku hamil anaknya. Namun, keputusan bertahan ataupun berpisah itu belum jelas. Apa kata keputusan nanti, seperti itu yang papah Adi berikan padaku.


"Nih... Gini kata bang Lendranya." ia mengoperasikan ponselnya sendiri.


...****************...


Yang menanti Lendra nih 🤫

__ADS_1


__ADS_2