Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD241. Beres-beres rumah


__ADS_3

"Assalamualaikum... Kakek, Nenek. Aku bawa Mamah aku main." suara itu muncul dari pintu samping.


"Wa'alaikum salam." mamah Dinda langsung berdiri, ia berjalan ke sumber suara.


Key muncul dengan gaun berwarna pink yang amat mewah. Di belakangnya, muncul Fira dengan menenteng beberapa plastik besar.


"Aku bawa pakaian couple. Buat nanti nikahan Key." ucap Fira begitu ceria.


"Jidat kau trapesium!" ketus mamah Dinda yang membantu Fira membawa pakaiannya.


Fira tertawa lepas, ia menaruh plastik besar dekat kamar mas Givan dibantu mamah Dinda.


"Tak, Mah. Buat nikahan bang Givan yang kesekian kalinya. Adek keempat, kelima, keenam Key beda-beda ibu terus."


"Aku getok juga kepala kau, Fir."


Aku melihat lepas pada tumpukan kado yang berjalan mendekat itu. Eh, bukan. Itu adalah mas Givan yang membawa banyak tumpukan kado.


"Iya nih, dasar Fir'aun! Doain tak baik terus. Kemarin, doain Bang Givan cepat cerai sama Kaktus." tukas Giska, yang tengah mengunjal beberapa piring kosong.


"Ya, Lah. Masa ibu sambung Key kek gitu. Boro-boro Key diurus, dididik. Key disuapi aja tak." Fira langsung masuk ke dalam lingkaran ipar.


Jika bersama mamah Dinda dan papah Adi, ia selalu mendapat nada ketus. Intinya, sekali orang tidak suka. Selamanya pun, akan tidak suka. Apa lagi, dulu Fira masuk ke keluarga ini dengan cara yang salah. Ia masuk, sebagai pendua cinta putra mahkota.


"Mas." aku memanggil mas Givan, yang tengah menyusun kado-kado milik Key.


Ia menoleh ke arahku, "Hmm." suaranya mahal sekali.


"Putri udah masam nih." bisikku dengan menyenggol lengan Putri.


Putri mungkin mendengar suaraku.


Ia langsung melongok ke wajah mas Givan yang tengah menatapku. Kasihan sekali pejuang jatah untuk tiga anak ini, matanya sampai merah. Pasti ia sudah sekuat tenaga menahan kantuknya.


"Mana ada." elak Putri kemudian.


"Lebay tuh!"


Hah?


Mas Givan malah memberi cetusan seperti anak-anak.


"Kasih Ces ke ibu tuh. Nanti aku ambil alih Zio. Sana kau bantu mamah! Chandra lagi molor di parkiran studio, sama Dendi." pintanya kemudian.


"Ces, Ces, Ces! Ceysa lah!" tegasku cepat.


"Iya. Mamah capek tuh ngamuk-ngamuk loh. Bukan kau aja nanti yang diusir. Aku juga bakal diminta balik ke Kalimantan. Pengen bed rest tak kesampaian terus. Capek kerja." ia malah menggerutu.


Memang seperti itulah mamah Dinda. Jika kelelahan, berujung marah-marah dan menangis pada suaminya.


"Biar aku bantu." Putri malah bangkit, lalu berbaur untuk membereskan ruang tamu.

__ADS_1


"Sana ke ibu! Aku mau ke kamar mandi dulu." mas Givan mengacak-acak rambutnya.


"Iya, iya." aku bangun, lalu keluar dari pintu samping dengan menggendong Ceysa.


Memang selama satu minggu ini, aku tinggal di rumah mamah Dinda. Alasannya masih sama, aku belum bisa mengurus bayi.


Saat aku kembali ke rumah mamah Dinda. Zuhdi sudah mulai mengepel. Membuatku memutar jalan, untuk segera sampai ke dapur. Biar aku bantu kerepotan di dapur saja.


Banyak saudara yang sudah pulang. Termasuk anak-anak mamah Dinda yang sudah memiliki rumah.


Fira pun, tengah merecoki anaknya saja. Karena ia sudah tidak punya teman ngobrol lagi.


Aku memilih untuk mencuci piring bekas penyajian snack dan buah saja. Karena mamah Dinda dan Putri masih sibuk membenahi barang-barang.


"Biyung... Mamah nih! Nakalin aku aja. Aku ulang tahun, dibilang tambah tua terus." bukan hanya putra mahkota yang pandai mengadu, keturunannya pun sama.


Fira tertawa lepas. Lalu mencium anaknya kembali.


"Ihh, Mamah! Risih tuh!" seru Key kembali.


Aku segera menyelesaikan pekerjaan ini. Kemudian menghampiri Key dan Fira.


"Selamat ulang tahun ya? Tambah tua Key sekarang." ucapku kemudian.


Tawa Fira begitu menggema, kala melihat urat wajah anaknya yang terlihat tidak enak dipandang itu.


"APA TUH!!! AKU MASIH KECIL." seru Key sampai memekakkan telinga.


"Tuh kan, ayah jadi marah. Key sih, teriak-teriak aja." ucapku begitu lirih.


"Iya nih. Key, berisik aja." Fira adalah ibu yang rese pada anaknya sendiri.


"Udah lah, Van. Capek tuh jangan marah-marah terus. Badan sendiri yang capek, lampiasinnya ke anak-anak." suara Putri yang tengah menenangkan mas Givan.


"Kau bisa tambahkan abang kek, mas kek, aa kek, kakak kek. Meski kita cuma beda satu tahun, aku ini laki-laki. Aku ini lebih tua dari kau, wewenang aku lebih tinggi dari kau. Van, Van, Van terus. Tak ada hormatnya betul." amarah mas Givan merambat.


"Iya maaf, Daeng."


Aku pun ingin punya Daeng juga. Hanya saja, Daeng yang jujur dan terbuka pada istrinya.


"Udah belum beres-beresnya? Anak kau ke mana?" suara itu semakin mendekat.


Tak lama, muncul Putri yang diekori mas Givan yang menggendong Zio.


"Jasmine?" Putri menyimpan kembali buah-buahan yang masih utuh ke dalam satu plastik.


"Iya lah. Anak kau memang siapa?" mas Givan masih tidak ada lembutnya.


"Ke Ghifar kah namanya? Yang anaknya namanya Kal itu."


"He'em. Nih pegang Zio, aku mau istirahat." dari awal aku tidak percaya, saat mas Givan mengatakan ingin mengambil alih Zio sementara.

__ADS_1


"Aku cuci tangan dulu." sahut Putri.


Aku langsung menunduk, pura-pura fokus menggulung kertas kado yang sudah terkoyak itu.


"Canda... Bantu mamah di teras." perintahnya turun kembali.


"Untung aku bukan siapa-siapanya. Kalau dulu jadi, bisa disuruh-suruh terus aku." Fira seperti tengah berbicara sendiri.


"He'em, Mah. Kek Biyung."


Fira tergelak, dengan Key yang ikut tertawa renyah.


Ibu dan anak sama saja ternyata.


Aku langsung bangkit, kemudian melangkah ke luar rumah dari pintu samping. Aku membantu mamah Dinda yang berada di teras, karena di dalam Zuhdi masih mengusap-usap lantai marmer mertuanya.


Aku memunguti bekas air mineral kemasan gelas. Kemudian menyapu halaman bersama papah Adi. Menyusun kembali pot bunga milik papah Adi, yang tadi diamankan terlebih dahulu.


Dari Rondo Bolong, Mawar Merah, Mawar Kuning, Mawar Hitam, Mawar Putih, Bahkan sampai Bunga Melati dan Gelombang Cinta, papah Adi pelihara dengan baik di sekitar pekarangan rumah. Ia adalah bapak-bapak penyuka tumbuhan. Tidak dengan mamah Dinda.


"Cuci tangan, Dek. Terus makan dulu." papah Adi melambaikan tangannya padaku.


Rumah sudah nyaman dan rapih kembali.


Aku menuruti beliau, kemudian masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, makanan sudah tersedia berserta piringnya.


"Mah, Giska langsung pulang sama ma kah tadi?" Zuhdi muncul dari kamar istrinya.


"Iya, ma pulang. Giska ikut pulang. Katanya mau tidur siang, mumpung Hadi tidur." ujar mamah Dinda.


"Kau makanlah dulu, Di." pinta papah Adi.


Kami sudah duduk melingkar. Bersama Putri yang memangku Zio, juga Fira yang berdampingan dengan Key. Mas Givan sepertinya sudah pulas di kamarnya.


"Makan yang banyak Kakak ipar gagal." Zuhdi mengoperkan kerupuk udang pada Fira.


Fira tertawa geli, "Ngeledekin terus." Fira terlihat santai.


"Jasmine makan belum, Put? Suruhlah dia pulang dulu." ujar mamah Dinda pada Putri.


"Setelah ini aja, Mah. Jasmine masih disuapin soalnya. Biar aku makan dulu, soalnya ini aja sambil gendong Zio." Zio anteng makan jarinya sendiri, di pangkuan Putri.


"Nanti kau jadi istrinya Mas Givan. Balik dia begadang, tak mau tau-tau tentang urusan anak. Dia mau makanan udah mateng, anak udah kenyang. Kalau kau dulu yang kenyang, kena marah nanti kau." bukan aku yang mengatakan, tetapi Fira.


Sorot tidak bersahabat, berpusat pada Fira. Fira menaikkan sebelah alisnya, ia memperhatikan sekitarnya.


"Kau....


...****************...


Hah, hah, hah 😩 bukan aku 😏

__ADS_1


__ADS_2