
Ia bangkit, lalu bersila menghadap padaku. Aku pun melakukan hal yang sama.
"Abang ini cinta sama kau! Tapi Abang terjebak di sini. Putri harapin Abang, apartemen butuh dana, tapi Abang pengen milikin kau juga. Abang salah langkah buat arahin kau, yang malah bikin kita jadi sedekat ini. Meskipun tiga bulan kita gak ketemu, nyatanya itu bikin perasaan Abang makin yakin. Bikin kau lepas dari Abang, nyatanya bikin Abang sakit sendiri. Abang berharap kau nerima masa lalu Abang. Abang pun berharap bisa berumah tangga sama kau. Tapi Abang gak bisa tinggalin Putri, diri Abang gak mampu nyukupin kebutuhan kita sekarang. Usaha Abang lagi kolaps." ujarnya begitu lantang.
Ya Allah, secepatnya ini?
Bahkan, aku belum sempat menata hatiku.
"Gimana perasaan kau ke Abang?" ia menangkup tanganku, lalu menyatukannya dengan tangannya.
"Aku tak tau." aku belum bisa melupakan rasa sakit yang mas Givan torehkan. Rasanya, aku masih tidak ikhlas saja sudah disakiti sejauh ini olehnya.
Tangan bang Daeng berpindah ke lengan atasku, lalu ia mengguncangnya pelan.
"Liat mata Abang!" pintanya penuh tuntutan.
Aku meluruskan pandanganku, "Ya, Bang." seketika pandanganku terkunci olehnya.
"Abang harap, rasa Abang terbalas." ujarnya kemudian.
Itulah kebenarannya. Tapi, sisi buruknya menyamarkan perasaanku padanya. Aku tidak masalah dengan masa lalunya yang begitu kelam, sampai membuat Dikta hilang waras. Namun, aku masih tidak terima dengan adanya Putri di sisinya.
__ADS_1
"Abang kan mau tunangan sama Putri." ucapku lebih seperti pernyataan.
"Abang bisa tinggalin pertunangan Abang sama Putri. Tapi Abang juga bisa ngunci Putri, biar gak lepasin Abang gitu aja. Yang paham, Sayang. Putri kunci Abang, biar stabil."
Ini tentang uang.
Paham dengan keadaanku, bahwa aku sekarang bukan golongan kaya. Aku bukan Canda gadis pesantren lagi, yang mendapat kiriman lebih setiap bulannya. Sampai aku tak tahu uang jajanku, akan aku gunakan untuk membeli apa lagi.
"Keknya... Kita cukup dengan gaji Abang dan uang makan." sepuluh juta, cukup pikirku pribadi. Yang pernah mengalami masa kesulitan ekonomi. Insya Allah, aku bisa membagi uang tersebut dengan bijak.
"Tapi Abang belum mampu buat nikahin Adek. Abang pun kelak gak ingin kau kerja. Abang pun pengen kerjaan yang pagi pergi, sore pulang. Biar ada waktu buat Adek, biar bisa ketemu Adek setiap hari. Abang gak sanggup LDR, apa lagi kalau suami istri. Abang gak mau kerja di PT ini lagi, kalau kelak kita nikah."
Pikiranku merumit sudah.
Bang Daeng menggeleng, "Abang gak bisa jualan. Abang dulu sekolah, selalu gak jujur kalau beli. Bilang makan gorengan dua, nyatanya empat. Abang gak bisa jualan, takut kena karmanya." putusnya kemudian.
Motor kena karma, jualan kena karma.
Lalu apa?
"Kita usaha yang lain." opsi ini yang aku pilih saat bersama mas Givan.
__ADS_1
"Abang gak bisa merintis."
Rasanya aku ingin diadopsi papah Adi saja.
Ini laki-laki jenis apa?
"Aku tak mau, kalau suami aku masih ada hubungan sama perempuan. Aku trauma, aku takut keulang." aku tertunduk, menahan pedih yang tidak bisa aku cerna.
Aku terlalu sensitif untuk ini.
"Kita jalani dulu, Ok? Putri biar tetap begini. Abang bakal undur terus jadwal pertunangan Abang sama Putri, sampai masanya apartemen Abang stabil. Ini bukan tentang puluhan juta lagi, tapi udah ratusan. Yang paham, Dek. jaman sekarang, kita harus pandai investasi. Salah satunya bisnis apartemen ini. Ini menjanjikan, gak akan turun setiap tahunnya." bang Daeng tersenyum manis.
"Kita jalani dulu. Ayo kita jemput Chandra juga, biar Abang terbiasa jadi ayah sambungnya. Masanya tiba, Abang bakal lamar Adek kok. Untuk sekarang, kita pacaran aja dulu." lanjutnya dengan menggenggam hangat tanganku.
Aku mencari rasa yang sama di matanya.
Bang Daeng terlalu cepat melangkah. Ia benar-benar manusia yang tidak bisa ditebak.
Apa yang harus aku jawab?
...****************...
__ADS_1
Gak bisa ngomong apa-apa lagi 😩