Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD299. Warung seblak


__ADS_3

Ya ampun, tetangga sampai keluar dari rumah. Aku jadi malu sendiri.


Mamah Dinda mengikuti arah pandanganku. Sepertinya, beliau menyadari bahwa tetangga tengah menjadi cctv sekarang.


Mamah Dinda memandangku begitu sinis, "Udah ya? Sekali aja ngebantahnya. Jangan sampai ada bantahan lagi, terus ujung-ujungnya Mamah bawakan kau tukang bekam."


Setelah mengatakan hal itu, beliau pergi dengan menggendong Ceysa. Jika Chandra, ia adalah langganan ke ladang sejak pagi bersama papah Adi.


"Mamah kenapa sih, Mbak? Aku jadi takut." Ria memutar-mutar sutil yang baru ia keluarkan.


"Mamah memang kek gitu, kalau ada yang tak nurut. Nanti pun bakal diungkit terus." aku masih memperhatikan mamah Dinda yang berjalan ke istananya.


Aku heran. Sebenarnya, ada apa dengan pedagang makanan? Kenapa beliau sampai habis-habisan memarahiku, karena melanggar nasehat beliau.


Beberapa kali aku bercerita pada mamah Dinda, tentang keinginanku dan juga Ria untuk berjualan seblak. Mulai hari itu juga, mamah Dinda selalu naik pitam padaku. Bukannya aku menghiraukan perkataan beliau, hanya saja ini sedikit janggal.


"Ehh, Mbak. Temen ngaji aku ada yang pesen nih, dia kata tak pernah makan seblak." Ria terkekeh samar, "Ada juga yang nanya, seblak itu makanan apa." lanjutnya dengan menunjukkan layar ponselnya.


Grup IRMUS Al-Mudawamah.


Keterangan kontak chatting tersebut.

__ADS_1


Sepertinya, itu adalah grup chatting.


"Apa itu Irmus? Baru denger. Ada juga Irmas, Dek." aku memandang wajah lonjong Ria.


"Irmus itu, ikatan remaja mushollah. Kalau Irmas kan, ikatan remaja masjid."


Aku mengangguk mengerti. Ternyata irmus adalah organisasi, yang skalanya lebih kecil. Ya tentu lebih kecil, karena jika irmas itu biasanya mencangkup beberapa RT. Jika irmus, biasanya hanya per satu RT saja.


Aku dulu memahami ini, hanya saja tidak disingkat.


"Berapa orang yang pesan, Dek?" tanyaku kemudian.


Kami memiliki seperti daftar harga dan menu, meski dengan nama makanan yang sama. Karena seperti itu, warung seblak yang pernah aku singgahi.


Memang namanya tetap seblak, meski isiannya berbeda. Di warung kecilku ini, ada seblak balungan, seblak ceker, seblak mie tiaw, seblak cilok, seblak bakso, seblak original dan spesial. Jika original, isiannya hanya kerupuk, mie, makaroni dan juga kol.


Harga seblak original di warungku ini, seharga delapan ribu. Seblak mie tiaw, seharga sepuluh ribu. Mie tiaw, adalah mie yang berbentuk pipih. Biasanya, mie tiaw ada di menu pedagang nasi goreng. Seblak spesial itu topingnya komplit, aku memberi harga enam belas ribu. Sedangkan menu lainnya, berkisar antara sebelas ribu, sampai tiga belas ribu.


"Kalau hari ini laris manis, besok kita buat kuah cilok. Jadi cilok toping seblak yang kita bikin itu, tinggal kita tambahkan kuah yang ada di resep itu. Kek biasa, kita masak kek seblak, terus kita tambahkan sambal sesuai selera." ujar Ria dengan tersenyum lebar.


Ia adalah semangatku. Ia begitu semangat, untuk mendukungku dan membantuku berjualan ini. Bahkan ia sampai mau bolak-balik warung dan pasar untuk membeli bahan-bahan, styrofoam dan sendok plastiknya.

__ADS_1


"Mbak, aku sih nanti tak minta bagi hasil. Aku minta kuota, facial wash sama salep jerawat aja."


Aku dibuat cekikikan karenanya.


"Belum juga ngelayanin, Ria." ucapku dengan tawa.


"Nih, kita mau ngelayanin. Seblak original, lima. Seblak spesial, tiga. Seblak balungannya dua. Jadi, total ada sepuluh pesanan. Mereka juga ada nanya, balungan itu apa." Ria cekikikan, "Aku yang tinggal di padang pasir aja, aku tau apa itu balungan." lanjutnya kemudian.


Aku menoyor pundaknya, "Kan mak bapak kau dari Jawa. Mestilah kau ngerti. Tulang bahasa Indonesia, balung kan bahasa Jawa, tuleueng bahasa sini."


Aku gemas, jika ada orang yang rasis dengan bahasa. Aku akui, aku pun tidak bisa belajar bahasa daerah dengan baik. Tapi aku menghargai bahasa mereka, meski aku tidak mengerti.


Namun, moodku langsung turun.


Aku teringat makanmi, dan tambahan ki yang bang Daeng sering ucapkan dulu. Bahkan, jika ia menggerutu. Ia selalu menggunakan bahasa daerahnya. Itu adalah bahasa yang tidak bisa aku mengerti sama sekali.


"Ayo, Mbak. Semangat." Ria langsung mengangkat kedua tangannya seperti atlit yang tengah pamer bisep.


...****************...


Semangat 😁 ada yang minta resep seblaknya gak 🤭

__ADS_1


__ADS_2