
**Kok, gak ada yang vote 😢 gak ada yang kasih hadiah 🤦 pengen aja gitu ðŸ¤
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
"Terus udah waktunya Dikta lahiran, dia gak bisa ngejan, jadi sesar di rumah sakit. Sela tiga minggu dari lahiran, Dikta kena sindrom baby blues. Awalnya dia cuma nangis-nangis aja, teriak-teriak aja setiap kali anak Abang nangis. Awalnya belum dibawa ke rumah sakit jiwa, karena pikir kita, Dikta cuma belum bisa nerima. Tapi itu berlanjut, sampai hal gak terduga terjadi. Anak Abang, usia tujuh puluh hari, diinjak-injak sama dia. Dia loncat-loncat di atas kasur, dengan anak Abang yang jadi tumpuan kakinya. Abang ngerasa bener-bener hancur masa itu. Ngamuk-ngamuk ke Dikta pun percuma, karena dia gak waras pikirannya. Makanya, sama anak kecil Abang suka betul. Ingat Alambara Ahmadinejad, anak Abang yang wafat di tangan ibunya sendiri. Nama itu pun, Abang yang kasih. Dari saat itu, Dikta masuk rumah sakit jiwa. Sampai satu tahun belakangan, dia baru bisa keluar. Terus nikah sama dokternya, yang kebetulan sepupu Abang sendiri." bang Daeng melirik Ferdi.
Bang Daeng tersenyum padaku, lalu ia mengusap pipiku. Aku mengerutkan dahi, karena merasa jari bang Daeng menjadi basah.
"Abang gak nikah sama Dikta. Masa Dikta hamil pun, kita dipisah. Abang pun harus pindah sekolah, karena nama Abang udah tercemar. Cari uang tuh apa aja, gak kenal siang malam. Gak kenal haram atau halal. Karena, Abang punya tanggung jawab ke Dikta. Dato selalu nyudutin Abang, kesalahan Abang selalu diungkit. Meski Dikta dibayarkan perawatannya sama dato, tapi dia selalu gerutu ke Abang. Kau bayangkan aja jadi Abang. Tertekan dari pihak keluarga Dikta, dari pihak dato, dari trauma Abang. Mana waktu itu, mangge masih di luar negeri. Dia gak tau sama sekali, tentang anak satu-satunya yang hamilin gadis kecil orang."
Aku terisak, mendengar kisah hidupnya. Aku berempati padanya. Karena waktu itu, bang Daeng adalah anak yang belum mengerti tentang se*s.
__ADS_1
Ia penasaran akan se*s. Namun, lingkungannya tak memberinya pemahaman tentang se*s. Aku miris jika mendengar cerita seperti ini.
Aku merasa beruntung, karena aku tidak pernah mendapat pelecehan seksual saat kecil. Apa lagi mencontoh seperti adegan film dewasa bersama teman-temanku.
"Novel mamah Dinda, yang judulnya Ananda. Novel itu yang narik perhatian Abang, mulai buat Abang suka sama novel karyanya. Di novel itu, se*s edukasi diberikannya untuk anak sulungnya yang namanya Ananda Givan, terus di novelkan. Cara dia didik Givan, sampai Givan disunat. Cara ngajari Givan ngomong, pokoknya full didikan yang the best."
Aku tidak percaya ini.
"Terus gimana, Bang?" aku masih penasaran tentang kisah hidupnya.
"Terus novel mamah Dinda juga, yang bikin Abang paham bahwa yang bikin hamil itu cairan putih milik Abang. Abang gak paham di film dewasa, banyak adegan buang di perut, di muka gitu. Abang kira, cuma untuk fantasi mereka aja. Ternyata, di balik adegan itu terselip biar perempuannya gak hamil."
__ADS_1
Ya ampun, sepolos itu Nalendra Daengku.
"Karena, di mimpi basah tuh... Abang juga selalu buang di dalam. Jadi, bener-bener gak ngerti. Dikiranya, memang begitu aturan mainnya." tambahnya kembali.
Aku sempat mundur, saat jarinya ingin menyentuh mataku. Namun, pergerakannya hanya untuk memasukkan rambut yang mengintip dari balik hijabku.
"Sama yang kemarin gak begini ceritanya. Kau bilang, kau punya anak dari perempuan di masa laluku. Kau tak jelasin semuanya, Len. Kau ada maksud, biar dia bertahan deh. Bukan biar ditinggalkan."
...****************...
Apa yah maksud Ferdi ngomong gitu?
__ADS_1
Baby blues kalau gak cepet ditangani bisa bablas kek gini.. Ada yang dia nangis-nangis gak jelas, ada yang sampai mencelakakan anaknya sendiri. Ruang lingkupnya luas, cuma biasanya dialami mereka selepas melahirkan.