Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD317. Reflek atau lebih sayang


__ADS_3

"Sana! Abang sama Biyung aja."


Aku tidak menyangka dengan ucapan Chandra. Ia marah pada bang Daeng.


"Kenapa sih?" bang Daeng mendekati Chandra.


Chandra menggeleng, "Aku sama papa aja. Gak mau sama Mangge. Mangge, kak Jasmine terus. Papa tak kak Key terus, aku juga dibela. Udah sana pergi, sama kak Jasmine aja itu!"


Hah?


Aku dibuat melongo dengan ucapan Chandra.


Kenapa anak ini bisa seperti ini?


"Sini, sini." bang Daeng menarik lengan Chandra.


Namun, Chandra langsung memberontak.


"Ayah suka marah, tapi tak sayang-sayang kak Key terus. Kak Key juga dimarahin, sama kek aku."


Chandra pandai berbicara, malah membuatku shock.


"Maaf ya?" bang Daeng malah memeluk Chandra.


"Mangge harus gimana sih? Kok salah terus dari kemarin. Mangge dimarah-marah terus sama Bang Chandra, Mangge jadi sedih."


"Iyung."


Perhatianku terganggu dengan Ceysa. Ia tiba-tiba turun dari tempat tidur, lalu melebarkan matanya dengan telunjuk yang ditempatkan di depan mulut. Kemudian, telunjuknya beralih ke atas kepalanya.


Apa maksud anak ini?


"Kenapa, Dek?" aku menegakkan punggungku, lalu mengusap kelopak mata Ceysa.


"Ihh." ia malah menhentak-hentakan kakinya ke lantai.


Bang Daeng terkekeh geli.


Aku mendapat colekan di pinggangku, "Maksudnya, suruh diam. Tuh, ada suara apa. Gitu." jelas bang Daeng kemudian.


Ada-ada saja Ceysa ini.


Ceklek....


Benar ternyata. Ada suara orang yang membuka pintu dan memasuki kamar.


"Ihh, istimewa." Ghifar membulatkan matanya, ia geleng-geleng kepala melihat bang Daeng ada di sebelahku.


Bang Daeng tertawa tipis, "Ya iya dong."


Bang Daeng sudah akrab dengan anggota keluarga yang lain?


Ghifar beralih menatapku.


Ia berjalan mendekat, lalu duduk di dekat Ceysa yang masih berdiri di dekat ranjang.


"Mamah sama Tika lagi panggil tukang pijat urat, yang langganannya Tika itu."


Ghifar membuka kantong plastik yang ia bawa, lalu menaruhnya di nakas.


"Pa tu?" tanya Ceysa.


"Masakan, dari ma buat Biyung. Ceysa mam belum?" Ghifar membuka tutup makanan kedap udara tersebut.


"Dah." Ceysa manggut-manggut.


"Dimakan, Dek." Ghifar beralih memandangku.


"Tadi udah sama nugget." akuku kemudian.


"Ya lauknya aja tak apa. Yang penting tuh, lauknya. Buat penunjang kalium kau." terangnya kemudian.

__ADS_1


"Papa...." Chandra langsung meloncatiku, ia pindah ke pangkuan Ghifar.


"Eummm? Kenapa, Bang?" Ghifar langsung mendekap anak itu.


Mengadu?


"Papa, Mangge kak Jasmine terus. Disayang terus kak Jasmine, Chandra tak disayang."


Dasar, benar-benar Chandra ini.


"Hmmmm?" Ghifar memandangi wajah Chandra.


"Papa diem aja." Chandra mendongak menatap wajah paman yang ia anggap orang tua itu.


"Main yuk sama Kaf."


"Tak mau, Pa. Sama kakek aja."


"Kakek masih bobo, Bang. Kakek kecapean." Ghifar merapihkan rambut Chandra yang gondrong itu.


"Sama pak cek."


"Kerja lah, Bang. Sama Papa aja deh, ke pabrik yuk sebentar." Ghifar bangkit dari duduknya.


"Beli apa?" kami semua terkekeh geli.


"Papa yang punya lah, masa beli apa? Abang ini, ada-ada aja."


"Ayo." Chandra merentangkan kedua tangannya pada Ghifar.


"Jalan lah, Bang."


Chandra sudah merengek saja, "Gendong Papa."


Ya ampun, Chandra.


Apa ia tidak paham orang-orang sedang berpuasa. Menggendongnya yang berpostur tinggi berisi, tentu akan menghabiskan tenaga.


"Pa.... Entuttttt...." Ceysa berlari mengejar.


"Adek..... Ceysa...." bang Daeng panik, ia langsung mengejar Ceysa.


Aku pun khawatir, Ceysa jatuh dari tangga. Aku khawatir, Ghifar tidak mendengar seruan Ceysa.


Tak lama, bang Daeng muncul dengan Ceysa di gendongannya. Ia tengah merapihkan rambut Ceysa, kemudian mengusap keringat Ceysa.


"Adek Ceysa kok kecil kali sih? Imut-imut, Mangge gemes." bang Daeng duduk di sebelah kakiku.


"Kata ibu sih, Ceysa kek perawakan aku kecil." tambahku kemudian.


"Iya nih, pasti kek Biyung. Kalau kek Mangge, nanti tinggi kurus." bang Daeng menciumi pipi Ceysa.


"Tut papa, Ge." Ceysa masih menangis lirih.


"Papa mau kerja, Nak. Sama Mangge aja di sini, nemenin Biyung." bang Daeng masih menyayang-nyayang, anak yang begitu mirip dengannya itu.


Pandangan Ceysa beralih ke tumpukan makanan di nakas, "Au, Dek au." Ceysa manggut-manggut seperti boneka dasbor.


"Mau apa?" aku menilik makanan itu satu persatu.


Entah olahan apa ini, aku tidak mengerti nama makanannya.


"Adung." Ceysa merosot dari dekapan bang Daeng, ia langsung berjalan menuju nakasku.


"Adung yang mana, Ceysa?" aku kebingungan.


"Adung." Ceysa menunjuk makanan berwarna kuning tua ini.


"Jagung, Ceysa." bang Daeng tertawa lepas.


"Iya.... Au." anak itu cuek saja, meski ditertawakan.

__ADS_1


"Nih." aku memberikan satu potong jagung, yang terendam di dalam sayur.


"Acih ya?" Ceysa kembali lagi ke pangkuan bang Daeng.


"Sama-sama." aku memperhatikan, anak yang duduk kembali itu.


Ceysa mulai menggerogoti jagung yang ia inginkan.


Bang Daeng menunduk, memperhatikan aktivitas anaknya itu.


"Kenapa tak pulang-pulang?" aku membuka obrolan, dengan sedikit kurang sopan.


Bang Daeng beralih menatapku, jurus pengunci pandangannya dikerahkan lagi.


"Kan Abang pernah serapah, Abang bakal bawa balik anak dan istri Abang. Sekarang, mungkin waktu yang tepat." ujarnya kemudian.


Aku masih terpaku pada sorot matanya, "Dibawa ke mana?"


Ia mengangkat tangan kanannya, sejajar dengan bahunya.


"Digenggam aja, karena tak bisa bawa terlalu jauh. Ikuti alur dan perintah, karena kalau kita kenapa-kenapa, cuma orang tua yang mampu ngurus kita dan bantu kita tanpa sungkan."


Alisku menyatu, "Maksudnya?"


"Abang ikut aturan mamah Dinda, yang tak boleh bawa anak perempuannya terlalu jauh. Givan yang jauh di Kalimantan aja, dia tetap bikin rumah di sini, yang artinya dia bakal menetap di sini. Meski dia anak laki-laki. Berarti kan, aturan itu berlaku bukan buat anak perempuan aja." jelasnya, yang semakin membuatku bingung.


"To the point aja lah."


Matanya mekar sempurna, "Memang dari tadi Abang gak to the point kah?"


Aku terkekeh.


Jadi, selain aku kurang wawasan. Aku ini, lola juga kah?


"Lebih jelasnya." aku terkekeh malu sendiri.


"Kita rujuk, tapi Abang ikut Adek."


Hah?


Rahangku pasti jatuh ke bawah. Kemudian, air liurku pasti mengalir deras seperti air terjun.


"Enak aja, main rujuk-rujuk aja!" sahutku kemudian.


Alisnya naik sebelah, "Memang kenapa? Memang ada yang ngajakin Adek ke pelaminan selain Abang? Kalau ada, coba Adek pikir balik. Coba, adu bagaimana dia perlakukan anak-anak Adek."


Mataku menyipit.


Hei, bahkan ia tadi lebih dominan Jasmine dari pada Chandra.


"Jangan ngomongin anak-anak, tadi aja Abang refleknya ke Jasmine." jawabku kemudian.


"Nah, tuh tau kalau itu reflek."


Benar juga sih.


Aku menggaruk daguku, dengan berpikir keras.


Tadi, Jasmine yang teraniaya. Ia menangis minta pertolongan, dari serangan Chandra.


Chandra pelaku penyerangan, ia pun tidak menangis tadi.


Tapi, aku tidak suka bang Daeng lebih dominan Jasmine. Ya memang, Jasmine anaknya.


Namun, sifat manusiawiku merasa iri. Ia terlihat begitu menyayangi Jasmine.


"Tak juga. Bang Daeng memang lebih sayang Jasmine kan buktinya?" aku mencoba menuduhnya dengan tatapan mata tajam.


...****************...


Mau gak dirujuk?

__ADS_1


Dia sampai ngalah, dia yang berani ikut aturan mamah Dinda.


__ADS_2