Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD147. Pasta pagi


__ADS_3

Alhamdulillah. Janda ya, Len? Kaget nih denger kabar dari kamu.


Memang kenapa dengan janda? Aku jadi tersinggung.


Iya, Wi. Janda bawa anak. Ganteng kali jagoan aku, gak hitam kek aku dia.


Lalu foto Chandra yang tengah memegang stir mobil dikirim bang Daeng untuk Tiwi itu.


Coba deh Len search Keude Kopi di IG. Aku keknya pernah liat itu anak, dipangku sama ownernya. Kalau gak salah, nama ownernya Edi Wijaya. Istri kamu sekarang, mantannya Edi Wijaya itu kah?


Hei, hei. Siapa ini Tiwi? Kenapa ia mengenal adik dari papah Adi? Saat lebaran kemarin, memang kami sempat berkunjung ke Jakarta. Untuk memperingati tiga bulan meninggalnya omah Meutia. Karena di sana diadakan tahlil dan acara kumpul keluarga besar.


Bukan, Wi. Mantan suaminya namanya Givan gitu kalau gak salah. Mungkin owner itu family dari papahnya anak sambung aku.


Bang Daeng sepertinya tidak mengetahui pasti tentang seluk beluk istrinya ini. Entah aku yang terlalu tertutup padanya.


Mungkin. Singgah, Len. Aku stay di Batu Aji. Kau sekarang di Batu Ampar kan?


Sungguh aku sesak, jika mendengar ajakan singgah pada suamiku.


Aku kerja mulai jam lima pagi, selesai jam sebelas malam. Pulang langsung tidur di mes, jam setengah lima pagi langsung siap-siap setelah subuhan. Pengen cepet balik ke Padang, istri sendirian di sana, mana kos banyak yang kosong. Pikiran aku ke sana terus, Wi. Pengen cepet balik, khawatir sama istri. Mungkin lain waktu singgahnya, kalau aku lagi liburan sama istri.


Bang Daeng sampai sedetail itu menjelaskan pada Tiwi.


Gak apa, Len. Kau kerja yang fokus, biar gak ceroboh. Jangan sampai kecelakaan kerja, nanti kamu bakal lebih kasihan lagi sama istri kamu.


Singgah, Len.


Ternyata dua pesan itu yang belum dibaca oleh bang Daeng.


Sebegitu spesialnya kah bang Daeng untuk para wanita?


Sampai banyak yang menchatnya seperti ini. Bahkan, ada nomor tanpa nama juga.


Aku menyudahi kegiatan kepo ini. Aku memilih untuk menonton film dalam ponselku saja. Seperti biasa, aku selalu mencari film yang romantis.

__ADS_1


~


"Iya, Pak. Istri, Pak. Dokumen memang belum ada, tapi memang aku ada bukti."


Aku menggeliatkan tubuhku. Hari sudah terang, suamiku pun sudah bangun dan tengah berdialog dengan seseorang.


"Iya, dek Canda saudaranya Enis. Saya kira masih nempatin kamarnya Enis. Ternyata udah pindah sekamar sama kamu?"


Aku segera meraih hijab panjangku, lalu menilik tamu yang berada di teras kosan.


Rupanya, dia adalah pemilik kos-kosan ini.


"Ayo ditemenin ke RT. Gak enak saya, dikira nyimpen manusia kumpul kebo." ungkapnya kemudian.


Bang Daeng sepertinya sadar ada aku yang mengintip dari pintu. Ia menoleh dengan tersenyum manis, "Abang ke luar sebentar. Awas, kompor masih nyala. Abang lagi masak pasta." pesannya sebelum berlalu pergi dengan pemilik kos.


Oh, jadi bang Daeng belum pernah lapor ke RT bahwa kami sudah menikah?


Aku menilik ke dapur, bang Daeng tengah merebus pasta panjang seperti sapu lidi. Spaghetti, biasa mamah Dinda menyebutkan.


Jika kak Anisa penyuka toppoki. Mamah Dinda adalah penyuka spaghetti, apa lagi jika menggunakan saus bolognese.


Aku menepuk jidatku sendiri. Bahkan aku tidak mencuci baju selama satu minggu. Ya, aku malas melakukannya, apa lagi tidak ada perintah dari bang Daeng.


Pantas saja plastik ini cukup besar, karena pakaian kotorku dan milik bang Daeng digabung menjadi satu.


Aku fokus pada kompor kembali, karena pasta tersebut sudah lunak. Aku meniriskannya, lalu meletakkannya di atas piring. Terserah bang Daeng, ini mau diapakan. Aku tidak mengerti cara menikmati pasta ini. Apa lagi, saus bolognese yang aku tahu tidak ada di sini.


Aku meraih handukku, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Heran, aku melihat tumpukan baju yang sudah diperas di satu ember yang berada di sudut kamar mandi. Bang Daeng sudah mencuci pakaian dalam kami.


Bahkan, saat melahirkan Chandra. Yang mencucikan pakaianku dan kotoran Chandra adalah papah Adi. Bang Givan hanya sekali mencucikan pakaianku. Yaitu, saat aku melahirkan. Ia mencuci darah dan air ketuban yang keluar dengan bayi Chandra, itu pun atas perintah mamah Dinda.


Jahitan di intiku bukan main banyaknya. Menurut rabaan tanganku. Milikku disobek hingga hampir menyentuh lubang pembuangan. Membuatku kesulitan beraktivitas di satu minggu pertama. Aku teringat saat pertama kali buang air besar, dua hari setelah melahirkan. Aku sampai menangis di kamar mandi, karena kotoranku keluar dengan darah.


Aku langsung mengadu pada mamah Dinda, lalu aku dibawa ke rumah sakit. Jahitan di intiku yang paling dekat dengan lubang pembuangan seperti meregang, membuat luka di bagian itu berdarah kembali. Bukan bagian pembuangan yang terluka ternyata, mamah Dinda takut aku terkena ambien karena aku lama dalam posisi duduk.

__ADS_1


Entah di awal saja, atau sampai seterusnya. Bang Daeng turun tangan untuk mencuci pakaian seperti ini. Semoga, ia selalu mengerti akan kondisi istrinya. Apa lagi, saat tibanya aku bernifas.


Aku tidak masalah dengan pakaian luar. Namun, jika pakaian dalam itu sudah termasuknya rahasia. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa itu adalah aib kita.


"Dek... Cepet mandinya, kita sarapan dulu."


"Ya, Bang."


Ternyata bang Daeng sudah kembali. Aku bahkan lupa mengunci pintu kos tadi, untungnya tidak ada yang masuk.


Setelah aku berpakaian, aku langsung menyantap makanan buatan bang Daeng. Entah ini apa namanya. Menurutku, lebih enak mie instan rasa ayam spesial. Dari pada makanan yang muluk-muluk seperti ini, apa lagi bumbunya begitu asing di lidahku.


"Abang mau pijat malam nanti. Adek mau coba gak? Nanti Abang carikan tukang pijat perempuan." ucapnya kemudian.


"Tak, Bang." aku adalah orang yang gampang geli. Aku tidak suka dipijat.


"Yuk siap-siap, kita ke klinik kecantikan." ia bangkit, lalu meraih celana jeans-nya.


"Nanti, Bang. Sini dulu coba." aku menepuk tepian tempat tidur, karena aku duduk di lantai yang dekat dengan tempat tidur ini.


"Apa?" ia menaruh kembali, celana yang ia ambil barusan.


"Abang kerja apa sih?" semoga ia tidak tersinggung.


"Pengawas, mandor kah kalau bahasa umumnya? Tapi capek betul, padahal cuma ngawasin, bantu-bantu, naliin, ngatur mobil parkir." aku yakin ia tidak sedang berbohong.


"Kerja sama Putri?" aku teringat akan PT. Indo Walet Internasional itu.


Ia menoleh ke arahku, sepersekian detik ia terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Lalu, ia membuang wajahnya ke arah lain, dengan ia menggosok telinganya.


"Gak, Dek. Masa kerja bisa pulang pergi gini? Jadi Abang kek gantiin posisi sementara aja, karena posisi lagi kosong. Sedangkan belum dapat pekerja baru, yang posisinya cocok."


Ini di luar pemikiranku. Lagi pula, gerak-geriknya seperti tengah berbohong. Bang Daeng tidak pernah berbicara dengan membuang muka seperti ini. Ia adalah pengunci pandangan yang handal.


"Aneh aja, Bang. Kok bisa Abang dapat posisi itu? Kok bisa Abang yang ditarik? Padahal kan, Abang orang luar dari PT itu." ini masih tidak masuk di akalku.

__ADS_1


...****************...


Yey, mampu up sepanjang punya suami. Alhamdulillah 😊🤭


__ADS_2