Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD319. Obrolan kosong 2


__ADS_3

"Nah, jadi kek gitu lah gambaran Putri. Egonya besar, dalam hal apapun. Jangankan laki-laki, dalam bisnis aja dia begitu. Makanya kenapa, dulu begitu sulitnya lepas dari Putri. Masalah anak, memang Abang akuin egois, tapi Abang punya alasan juga di balik ini semua. Tapi perempuan kek gitu, buat apa dijadikan istri? Saat Abang bilang, ya udah Put kita nikah seadanya aja, yang penting anak ada akte. Itu tuh, masa Abang baru tau kalau dia hamil. Tapi, dia bilang kek gini. Ya gak bisa gitu dong, Len. Aku kau pernikahan impianku, aku mau keluarga besar maupun kawan aku tau semua. Masalahnya masa itu, Abang bukan siapa-siapa. Di situ lah mulai Abang putar otak, gimana caranya hasilkan uang lebih banyak dan lebih cepat. Mulai dari situ, Abang gali bisnis kotor. Untuk masalah Abang makan uang haram, dari muda pun cara Abang nyari uang yang penting dapat, buat jajan sendiri dan jajan Dikta. Pekan ganti bulan, perut tambah besar, tuntutan makin banyak. Mana kan di daerah Abang itu, perempuan ini mahal. Sarjana, PNS, udah tuh tembus seratus juta buat panai aja. Sekelas artis siapa tuh, tembus lima milyar. Apa lagi, sekelas bisnis yang punya banyak warisan. Abang dituntut tiga puluh milyar, minimal. Apa gak gila? Dengan gaji sepuluh juta."


Mataku sampai tak berkedip saat mendengar penuturannya. Kenapa ini sangat berbeda dengan pengakuan Putri? Dalam cerita Putri, bang Daeng selalu menolak pernikahan.


"Jujur tak ini?" aku memastikan, dengan telunjukku yang terarah ke bawah.


"Jujur lah. Memang Putri bilang gimana? Dia ada bilang gak masalah panai harus tiga puluh milyar?"


Aku menggeleng berulang, "Putri tak ada bilang masalah panai. Tapi dia bilang, Lendra punya seribu alasan buat nolak nikahin dia."


Mungkin, aku adalah jenis manusia yang suka adu domba. Aku mendengar itu dari Putri. Namun, aku malah membukanya di depan bang Daeng.


Bang Daeng mengusap wajahnya, ia geleng-geleng kepala dengan memalingkan pandangannya sejenak.


"Logikanya gini." bang Daeng menunjuk tempat tidur dengan telunjuk yang menempel ke sprai.


"Ini di luar kita belum kenal dan belum ketemu." bang Daeng beralih menatapku.


Aku hanya mengangguk menanggapi.


"Ada perempuan, hamil, dengan Abang yang melakukan. Okelah, gak terima. Terlalu cepat, shock. Tapi, perut dia nambah besar. Tertekan Abang di situ, karena anak Abang yang dikandungnya. Dengan bodohnya lagi, Abang pernah minta dia gugurkan. Karena takut Abang ini, Dek. Abang takut dihakimi, Abang takut dengan tanggung jawab sebagai seorang ayah." ia mengetuk jarinya ke atas tempat tidurku beberapa kali.


"Singkat cerita. Beranikan diri buat datang ke orang tuanya, jujur Abang ke mereka, ada etika baik mau bertanggung jawab juga. Tapi tiba-tiba nih, tiga puluh milyar panai ya Len, kan setelah kau nikah sama Putri, kau bisa lebih hasilkan lebih banyak uang dari bagian Putri. Ditambahkan lagi sama ibunya, bulan depan datang ya Len dengan uang yang kami minta."

__ADS_1


Inikah cerita versi aslinya?


Logikanya, memang sedikit janggal cerita dari Putri ini. Namun, jika dari bang Daeng terdengar masuk akal.


Giska saja mahal, apa lagi modelan Putri dengan segala warisannya.


"Udah ngelamun aja Abang tuh. Jangankan tiga puluh milyar, buat pegangan trip bulan depan aja gak ada. Temen ngopi di warung depan kantor, Eko Pujiyanto namanya. Dia supir box, peti kemas M*ersk L*n*. Abang cerita, dia langsung manggut-manggut aja tuh. Ya udah, coba masukin titipan barang dari dark business boss aja, nanti diupah sekian ratus juta katanya. Langsung berbinar Abang, cepat nih cari uang. Diajarin kan caranya, ditambah ilmu bahasa Inggris Abang kuasai juga. Finish dengan selamat, langsung dibayar. Tapi setelah Abang pikir ulang, ini resikonya hukuman mati. Gak bisa keluar, karena terlanjur masuk dalam jaringan." aku langsung menjeda ucapannya.


"Narkoba itu?" tanyaku cepat.


Ia mengangguk, "Iya, opium."


Okeh, aku harus mengunci kata opium di ingatanku untuk menambah wawasanku.


"Terus selanjutnya gimana?" tanyaku kemudian.


Cepat juga. Kandungan Putri baru empat bulan, bang Daeng sudah mendapatkan dana senilai satu miliar.


"Terus?" tanyaku kemudian.


"Abang serahin ke ibunya, satu miliar itu. Dua bulan selanjutnya, datang lagi. Gak cukup lagi katanya. Sampai datangnya Putri lahiran, Dek." ia geleng-geleng kepala sendiri, "Ya Abang udah bosan kek gitu terus. Abang minta balik uang yang udah terkumpul itu, karena sia-sia aja ngumpulin tapi gak dinikahin terus. Tapi apa coba yang Abang dapat? Segitu udah punya etika baik nikahin dan nyicil panai juga. Abang dipolisikan, Dek. Ya ampun, gak ketangkep polisi karena bisnis gelap. Malah ditangkap polisi karena panai gak nyampe. Tuntutan di polisi sih, pemerkosaan Dek. Tapi gimana ya? Diperkosa kok sampai hamil gitu. Aturannya sih, polisinya mikir." ia membantu Ceysa naik ke atas ranjang.


Ceysa masih sibuk dengan jagungnya. Ceysa duduk di sampingku, ia selonjoran sepertiku dengan gigi yang terus bekerja.

__ADS_1


"Abang jangan bohong!" aku memberinya peringatan lagi.


"Serius." ia sampai menegakkan posisi duduknya, "Abang udah capek mikir buat bohongi Adek. Sekarang kan, kita lagi ngobrol kosong aja nih. Cerita-cerita aja, biar Adek tau cerita tentang Abang sama Putri dan Jasmine ini."


Aku mengangguk, bersiap mendengar cerita dari sudut pandang bang Daeng kembali.


"Bukannya Abang bagaimana tentang adat panai itu. Abang dukung, karena itu pun dalam rangka memuliakan perempuan. Buktinya, Abang sampai nyicil meski ngerasa gak sanggup."


Okeh, aku mengerti maksudnya.


"Terus, Bang?" aku merangkul Ceysa. Dengan cepat, Ceysa pun bersandar padaku.


"Terus tuntutan dicabut setelah masa tahanan satu bulan, dengan syarat dan antek-anteknya yang sulit Abang raih. Masih tuh, berusaha buat nikahin Putri. Abang nyambi usaha lain lagi, ya jaringan gelap lagi memang. Mulai tuh dari pakaian monza, kosmetik ilegal, HP black market, ngoplos brand, keluarin barang pabrik tanpa izin. Tapi Abang udah gak main transaksi opium lagi, karena dipenjara itu. Orang-orang bos kira, Abang ketangkap karena jaringan mereka. Mereka kan gak mau tau tuh, yang penting jaringan mereka tetap aman."


Kenapa di sini, bang Daeng seperti sapi perah?


"Sampai Jasmine lima bulan, Abang putusin tuh. Karena udah masuk sekitar dua puluh miliar, tapi tuntutan makin merumit. Abang coba tumpul hati, coba gak kasian sama Putri dan Jasmine. Pacaran lagi, buka lembaran baru lagi. Tapi, Putri makin agresif nih. Abang dan pacar Abang, selalu putus karena Putri. Abang dituntut nafkah, pas Putri berantem sama Abang. Tapi, dipolisikannya karena penipuan coba. Ya ampun, kenyang bolak-balik sidang. Nikahin gak jadi, sampai masuk penjara dua kali."


Benarkah?


"Terus?" aku masih menyimak dengan baik.


"Terus, Putri lobi masalah usahanya. Jujur, Abang pengen kaya. Abang takut...

__ADS_1


...****************...


Lega belum 😄 Masih ada lagi loh 😉 Belum tuntasssssssss 🤗


__ADS_2