Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD169. Wedang jahe


__ADS_3

"Ndhuk... Ini Ibu, Nak." kini aku berhadapan dengan wanita paruh baya, aku taksir usianya tidak beda jauh dengan mamah Dinda.


Aku mengingat suara itu, aku merasa familiar dengan suara itu.


Ia membelai pelipisku, "Ini Ibu, Ndhuk. Ini, Canda Pagi Dinanti binti Mansyur." ia menunjuk tepat di bawah leherku.


"Ini Ibu, yang lahirin Canda. Ummu Habibah binti Abdul Qadir."


Aku langsung memeluknya erat, tangis kami menyatu. Aku menghirup wangi yang selalu aku rindukan, aku mencoba menggali sisa-sisa kenangan bersama beliau.


Pantas saja, aku seperti pernah mendengar nama itu. Kala Ghifar mengatakan, bahwa yang mengasuh Chandra adalah ibu Ummu Habibah. Ternyata, Chandra diasuh oleh neneknya sendiri.


Ya Allah, semoga aku bukan termasuk anak yang durhaka. Karena malah lupa, dengan rupa ibuku sendiri.


"Ibu kemana aja? Kenapa bibi Hana bilang, Ibu hilang kabar?" aku membingkai wajah yang sudah samar diingatkanku. Ibu jariku terulur, untuk mengusap air mata beliau.


"Bapak sambung kamu meninggal dunia di Saudi, setelah kamu nikah. Ibu masuknya udah TKW ilegal, karena Ibu kabur dari majikan pertama. Sejak hari itu, Ibu cari agen yang pekerjaankan TKW ilegal. Pada akhirnya, majikan yang terakhir ini pindah ke Brasil. Dia pun urus dokumen penerbangan Ibu sama Ria. Sampai pada akhirnya, majikan Ibu meninggal juga. Dia janda, tapi memang ada anak laki-laki yang udah berumah tangga di Brasil itu. Almarhum majikan Ibu itu, tetangga rumah Mamah Dinda. Karena kita sama-sama dari Indonesia, ngobrol banyak Ibu sama Mamah Dinda. Sampai akhirnya di kirim ke sini, buat bantu urus cucu-cucunya." ibu bercerita sembari menyeka air mataku beberapa kali.


"Kamu Canda yang jadi keributan malam tadi, Ndhuk?" tanya beliau, yang hanya bisa aku angguki.


"Chandra anak kamu, Ndhuk?" mata ibu berair kembali.


Aku mengangguk mantap, lalu memeluk dirinya lagi. Perasaan ini campur aduk.


Akhirnya, aku dipertemukan ibuku yang terpisah sejak aku duduk di bangku kelas dua SD. Ternyata, beliau masih sehat wal'afiat. Aku sangat bersyukur untuk ini.


Tidak semua orang seberuntung diriku.


"Iyunggg..." suara melengking dengan tawa lepas itu berlari ke arahku.


Aku segera mengangkat tubuhnya, lalu aku menciuminya dengan gemas. Ternyata, darah dagingku tak melupakanku.


Tawanya pecah begitu geli, "Nen." ia menepuk-nepuk dadaku.


Semua orang tertawa lepas, saat Chandra merindukan pabrik ASInya.


Namun, tawaku sirna karena seorang laki-laki yang tengah menggendong bayi yang dibedong dengan kain jarik. Ia terlihat ikut bahagianya saja, karena melihat interaksiku dan Chandra.


"Sini, Dek. Cebok dulu." aku menoleh pada gadis tanggung yang berjalan ke arahku.


"Nah..." ibu menyentuh lengan gadis tersebut.


"Ini Ria, adik kamu. Namanya, Ceria Skalane Waktu. Beda bapak, satu ibu." terang ibu dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


Aku tersenyum pada Ria. Mau bagaimana pun ceritanya, ia adalah adikku sekarang.


Ria cepat-cepat mencium tanganku.


Ia tidak mirip denganku. Sepertinya, ia lebih dominan mirip dengan bapaknya. Wajahnya terlihat begitu bringas. Ehh, bukan bringas juga. Apa ya namanya?


Menurut orang-orang terdekatku, wajahku terlihat alim. Namun, jika melihat Ria. Ia seperti begitu energik dan bersemangat, terlihat dari urat wajahnya.


Bentuk wajahnya pun berbentuk lonjong, dengan dagu yang begitu lancip. Bibirnya tebal, tetapi memiliki garis mulut yang sesuai. Hidungnya pun, begitu tinggi.


Aku jadi teringat seseorang. Ria seperti anak bibi Hana, Ria cukup mirip dengan Izza. Kearab-araban, tapi wajahnya lonjong tidak bulat.


"Bu... Ibu bukan hamil sama orang Arab kan?" pertanyaanku terdengar seperti menuduh.


Ibu tertawa, lalu menepuk pundakku.


"Lancang!" jawab ibu dengan tertawa kecil.


"Bukan lah! Aku anak pak Yoni." elak adikku dengan sedikit nyolot.


Sudah aku duga, Ria adalah orang yang seperti ini.


"Siapa pak Yoni, Bu?" tanyaku pada ibuku.


"Mantan pacar Ibu dulu. CLBK di Saudi. Bapak pun dikuburkan di sana." terang Ria cepat.


"Terus gimana nasib istrinya di kampung?" tanyaku dengan fokus pada Ria.


"Ngeledek ya kamu, Ndhuk?! Masa iya Ibu mau sama orang yang punya anak istri!" ibuku menggelitiki perutku.


"Ee..." rengek Chandra yang masih berada di gendonganku.


Tiba-tiba Ria mengambil alih Chandra, "Iya, makanya cebok! Malah lari!" wajah Ria terlihat geram pada Chandra.


"Ee, Bang..." Chandra menangis samar dalam gendongan Ria, yang membawa pergi Chandra ke belakang.


"Iya, Abang ee. Cebok dulu makanya! Risih kan?!"


Sepertinya cara berbicara Ria memang sedikit ketus. Aku jadi geli sendiri melihatnya yang memarahi keponakannya sendiri, karena lari saat ingin cebok. Pantas saja, Chandra hanya mengenakan diapersnya saja.


"Nih..." aku tersentak kaget, karena mendapat sodoran gelas tiba-tiba.


"Istirahat gih!" itu adalah papan Adi.

__ADS_1


Aku tersentuh dengan mantan ayah mertuaku ini. Ia begitu tidak sungkan sekarang, saat mengulurkan kebaikannya padaku. Pasti di pikirannya, tidak ada hak mas Givan lagi untuk menolak apapun yang ia berikan padaku.


"Tapi, Pah..." aku melongo saat melihatnya berlalu dengan merangkul istrinya.


Ia menoleh, "Istirahat aja dulu. Itu wedang jahe instan, sana bawa masuk ke kamar."


Aku hanya mengangguk.


Terlihat mamah Dinda membisikkan sesuatu pada ibu, lalu mamah Dinda pergi dibawa papah Adi.


Mas Givan pun terlihat menyusul orang tuanya. Percakapan mereka tidak bisa aku tangkap, karena mereka berada di dapur sepertinya. Entah mereka menuju halaman belakang. Karena arah langkah kaki mereka ke belakang dari ruang tamu ini.


"Ayo Ndhuk." ibu menarik tanganku pelan.


"Di mana kamar aku sekarang, Bu?" tanyaku lirih.


Aku teringat letak kamarku di rumah ini, ya itu kamar yang dekat dengan pintu samping. Tapi rasanya tidak mungkin aku masih menempati kamar itu, karena statusku di rumah ini sudah berbeda.


"Di kamar Ibu sama Ria aja dulu. Soalnya kamar lain kosong lama, belum dibenahi kata mamah Dinda. Kata mamah Dinda, nanti mamah ke kamar kamu, lagi nunggu situasi kondusif dulu katanya. Mamah Dinda sama papah Adi masih kaget, mereka lagi coba hibur diri mereka dulu, main-main sama cucunya, biar tak drop. Soalnya, semalam papah Adi udah ngeluh kram tengkuk aja, darahnya udah tinggi aja. Mereka khawatir, sama keadaan diri mereka sendiri. Maklum lah, udah tua." jelas ibu dengan membawaku ke lantai atas.


Jujur, aku tidak mampu untuk naik turun ke lantai atas. Apa lagi, jika mendapat kamar di lantai atas. Pasti aku akan sangat malas untuk turun, karena naik turun tangga cukup menguras tenaga untukku.


Ya, ampun.


Tralis tangga sampai dibuat seperti pagar berduri. Aku yakin, ini semata-mata agar anak-anak tak berani memanjat tralis. Karena Mikheyla sering sekali memanjat tralis tangga tanpa sepengetahuan orang-orang.


"Rumah ini dilengkapi cctv juga, Ndhuk. Ati-ati kalau mau berbuat, kontrol cctv ada di kamar nak Ghifar sama di kamar mamah." tambah ibu, ketika kami sampai di kamar ibu.


"Istirahat, diseruput wedang jahenya. Ibu mau jaga anak-anak dulu, gak enak kalau lalai tugas. Soalnya, Ibu di sini kerja." ibu meninggalkanku di kamar sendirian.


Kamar ibu adalah kamar yang letaknya paling dekat dengan tangga. Bersebelahan dengan kamar Ghavi, dengan view halaman belakang.


Padahal ini hanya kamar pekerja, tapi sebagus kamar utama. Ranjangnya besar dan juga nyaman. Tentu, ini menggunakan spring bed merek langganan rumah ini. Furniture dan perabot di kamar ini pun lengkap, ada televisi dan juga sofa santai.


Kamar ini adalah bangunan baru. Dulu, ruangan atas seperti lapangan bola. Hanya diisi tiga ruangan untuk kamar Ghifar, Ghava dan Ghavi. Itu pun, di sudut yang berbeda-beda.


...****************...


Masih menunggu?


Sama, aku juga ✌️🤭


Pasti pengen langsung jebret-jebret ya 😂

__ADS_1


__ADS_2