Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD74. Tato


__ADS_3

Aku sudah berada di salah satu hotel, di kota Parepare Sulawesi Selatan. Bang Daeng tengah dikerik punggungnya oleh kak Raya. Sedangkan aku, aku baru selesai mandi.


"Maknanya apa sih tato di punggung ini, Len?" tanya kak Raya, sampai ke telingaku.


"Mau gerhana bulan total ceritanya. Paham kan?" jawabnya dengan sedikit memiringkan kepalanya.


Aku berjalan memutar ranjang, berniat melihat tato milik bang Daeng.


Jika dilihat dari dekat, memang gambarnya seperti gerhana bulan. Setengah terang, setengahnya lagi gelap. Sayangnya, di tato tersebut berwarna hijau. Hijau tato pada umumnya.


"Kebaikan yang tertutup keburukan kah?" tanya kak Raya kembali.


"Suka-suka kau mengartikan sih. Tapi dalam kehidupan aku... keberanian yang tertutup ketakutan. Aku berani bertanggung jawab, tapi aku takut dihakimi oleh waktu. Aku takut gak mampu."


Ke mana arah pembicaraannya?


"Kapan kita libur, Ya? Aku mau ke Makassar bawa Canda."


Aktivitas mengoles wajahku dengan krim malam terhenti, karena ucapannya yang menyeret namaku.


"Mau kenalin? Biar gak serangan jantung kek Putri?" kak Raya terkekeh kecil.


"Biar gak kek Enis aja, kasian. Gak ada hubungannya juga kali!" bang Daeng tertawa samar.


"Udah aja lah ya, sakit." bang Daeng langsung bangkit.

__ADS_1


Aku pura-pura sibuk dengan cermin kecil dan jar krim malamku.


"Kita ke Makassar ya, Dek?" aku meliriknya, bang Daeng tengah berjalan ke arahku.


"Hmmm..." dengungan itu berasal dari kak Raya.


"Sore tadi pihak terkait nelpon aku. Bos mereka lagi di luar kota, jadwalnya minta diundur dua hari. Cukup gak ke Makassar cuma dua hari? Perjalanan sih paling tiga atau empat jam."


Aku melihat kak Raya tengah mencocokkan data di bukunya, dengan ponselnya.


"Cukup. Kau gak apa di tinggal di sini? Aku sama Canda ke Makassar dulu."


Aku belum menjawab, ia malah sudah membuat rencana saja.


Sebenarnya ada apa di Makassar?


Kenapa Putri sampai terkena serangan jantung?


Jadi, bang Daeng dan Putri ini putus atau belum?


Srupppp....


"Ihh!!! Aku langsung mendorong tubuh bang Daeng.


Benar-benar laki-laki ini! Ia malah mengecup pipiku, seperti ia menyeruput sup dalam sendok.

__ADS_1


"Hilang skincare aku. Baru oles-oles padahal! Kesel aku!" aku memberinya bentakan keras dan pelototan tajam.


Namun, ia malah tertawa lepas.


Aku melemparkan bantal padanya. Aku sungguh kesal pada sikap tidak sopannya.


"Gimana caranya biar gak kek Enis. Jangan cuma dorong-dorong badan, jangan cuma berontak." ia malah mengambil ancang-ancang, untuk siap menindihiku.


Sudah semestinya terjadi dalam hitunganku. Ia mengungkungku di atas sofa panjang ini.


"Len... Jangan mulai, Len! Kau tau, mulut Canda heboh aja. Dia gak kek Enis, yang diam kalau udah kau dekap-dekap." kak Raya dengan santainya mengambil tasnya, yang tergeletak di atas meja di depan sofa panjang ini.


"Kak... Jangan dulu pergi. Bisa mati aku." aku melihat kak Raya sudah mengenakan sweater.


Pasti ia akan pergi, di malam hari ini. Apa lagi, pekerjaan akan ditunda selama dua hari.


"Stttttt...." wajah bang Daeng semakin dekat dengan wajahku.


"Abang! Abang!" aku sekuat tenaga menggerakkan kedua tangan dan kakiku.


"Abang....." tangisku pecah. Aku takut situasi seperti ini. Aku teringat mas Givan yang berada di atasku, lalu dirinya bertanya padaku tentang kem*luannya yang dibandingkan dengan milik Ghifar.


...****************...


Harap maklum dengan up yang cuma sedikit ini. Author lagi kurang sehat. Batuk, pilek, meriang. Mana ada jualan juga, jadi kadang gak nulis kalau barang datang. Mohon maklumnya aja 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2