Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD298. Tidak diizinkan


__ADS_3

Hari ini, adalah grand opening warung seblak Canda Ceria.


Seperti nama sanggar senam, jika menilik lagi nama gabunganku dan Ria.


Dengan meja yang cukup besar, kompor dua tungku dan perkakas lainnya. Jangan lupakan spanduk seukuran meja, yang menggantung di ujung meja, agar orang yang lewat bisa tahu, bahwa ada warung seblak di sini.


Mamah Dinda masih menggendong Ceysa dengan alisnya yang menyatu. Ia adalah orang pertama, yang tidak menyetujuiku membuka usaha ini. Namun, aku dan Ria sudah bertekad.


"Untungnya, Ceysa udah lepas ASI." mamah Dinda seperti menggerutu, dengan menatapku malas.


Aku tidak berniat agar Ceysa lepas dari ASI. Namun, anak itu sudah malas sendiri. Entah aliran ASIku tidak kencang, membuatnya lebih suka menggunakan botol dot dengan susu formula.


"Betul deh, Mah. Aku tak minta Mamah urus cucu." aku berjalan ke arah beliau, lalu menyentuh lengan beliau.


"Terus????" mamah Dinda langsung menoleh dengan pelototan tajam, "Cucu-cucu Ane terlantar, Ane diam aja begitu?!" beliau begitu ketus.


Sampai-sampai, mamah Dinda enggan untuk ikut mempromosikan. Entah apa alasannya, itu masih belum terungkap. Biasanya sih, akan terungkap setelah sekian episode. Ya, biasanya seperti itu cara author kami menulis.


"Tak aku telantarkan juga, Mah. Kan pasti ada jeda tuh, aku juga bisa gantian sama Ria. Aku bisa sambil urus anak-anak aku." aku meringis kuda.

__ADS_1


Mamah Dinda membuang pandangannya, wajahnya begitu menyeramkan.


"Tak ada! Udah sekalian, kau tak perlu jadi ibunya. Chandra ikut Mamah, dia harus tinggal di rumah Mamah. Mamah tak mau ya, cucu yang Mamah nantikan lima tahun itu, tiba-tiba nyungsep dari tangga, karena lepas pengawasan. Entah Ceysa sih. Jangankan naik ke tangga, yang jelas kakinya pun tak mungkin sampai."


Inilah mamah Dinda kami. Mulutnya memang tiada duanya.


"Kok Mamah bilang gitu? Kenapa tak bawa Ceysa sekalian?" aku langsung memasang wajah lesu.


Nyata.


Mata mamah Dinda akan menggelinding, ia sepertinya benar-benar tidak suka dengan candaanku.


Alhamdulillah, garis senyum mamah Dinda tertarik samar.


"Mamah putar juga kepala kau, Canda." tutur mamah Dinda lirih.


Aku masih meredam tawaku, "Gurau aja, Mah." aku bersandar pada lengan beliau.


"Kalau Chandra dibawa gitu, nanti aku jemput masanya aku udah tutup jualan." aku coba melobi keputusan mamah Dinda.

__ADS_1


"Ceysa aja yang kau jemput, Chandra tak usah. Biar Mamah yang asuh Chandra, sampai kau berhenti dagang seblak ini. Kau tau kan? Meski hasil seblak kau enak, terus kau bisa jadi kaya, Mamah tetap tak setuju kau jualan makanan dalam bentuk apapun. Bakso kek, mie ayam kek, tetap tak setuju. Kecuali, kalau kau pekerjakan orang." mamah Dinda mengacungkan jarinya.


Hal itu benar-benar seperti peringatan.


"Mamah memang tak repot?" aku memberikan pandangan yang berbinar-binar.


"Repot. Udah muak betul urus kau, tapi tak pernah mau dengar. Harus aja dulu dapat akibat, baru mau dimengerti setelah nangis."


Untungnya, aku sudah terbiasa dengan mulut tajam ibu mertua terbaik ini.


"Aku pengen mandiri, Mah." aku tertunduk lesu.


"Mandiri! Mandiri! Urus bayi sendiri aja kau belum bisa, segala ngomongin mandiri. Mau kek mana kau kelak? Sukses kah? Atau kismin kah? Kau tetap anak Mamah, yang apa-apa butuh orang tuanya. Di mata orang tua, tak ada anak yang mandiri." beliau masih sewot saja.


Mamah Dinda kembali melirikku, "Tetap sih neriakin Mamah, butuh Mamah, nyariin Mamah, ngerepotin Mamah. Udah banyak anak yang bikin pusing. Mamah cukup senang, kalau yang jadi anak itu nurut. Udah, nurut aja udah cukup buat Mamah. Mamah tak nuntut kau jadi kaya kah, harus mandiri kah, yang penting nurut!"


Amarahnya sampai meledak. Aku kaget, melihat tanggapannya yang sebegitu marahnya karena ulahku yang tidak menurutinya ini.


...****************...

__ADS_1


Jualan? serius?


__ADS_2