Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD346. Ngemall


__ADS_3

"Aku mau rujuk sama bang Lendra." aku menjawabnya sambil tertunduk.


Aku takut ia marah.


"Oh, gitu?"


Aku tak berani menatapnya. Aku hanya mengangguk lembut, untuk menjawabnya.


"Ya udah, tak apa."


Huft...


Aku kira, mas Givan akan memaksa nanti.


"Di depan ada mall, mampu jalan tak? Belikan lah dulu lah."


Aku langsung memperhatikan jalanan di depanku. Benar, sudah ada mall yang tidak begitu besar.


"Ditemani sama Mas." aku menoleh ke arahnya.


Mas Givan hanya mengangguk tipis, lalu kendaraan yang ia kendalikan ini perlahan masuk ke area parkiran mall.


"Serius, mampu tak jalannya?" tanyanya, saat kami sudah berada di luar mobil.


"Bisa, Mas. Tadi aja aku jalan kan?"


Ia mengangguk kembali, kemudian kami mulai melipir memasuki kawasan mall di siang hari ini.


Meleset jauh. Ternyata, kita malah singgah untuk makan siang terlebih dahulu. Lalu membeli sepatu anak-anak dan milikku, kemudian mencari kemeja untuk mas Givan.


"Aku lebaran tak beli baju tau, Dek."


Aku selalu terhenyak, tiap kali ia menyebutku dek. Itu terasa manis sekali.


Aku memperhatikan wajahnya dari samping. Ketampanannya berkadar seribu kali lipat, jika ia tengah terdiam dengan pandangan fokus pada sesuatu. Ia terlihat seperti laki-laki alim dan tidak muluk-muluk.


Ya hanya kelihatannya saja.


"Kenapa tak beli?" aku mengalihkan pandanganku pada kemeja yang tengah ia bolak-balikkan.


Aku takut dicolok olehnya, karena terus memandangnya.


"Tak ada yang nemenin ke mall, atau ke pasar. Buat zakat aja, cuma kasih uang ke mamah, biar mamah yang arahin zakatnya. Waktu sama Nadya, zakatnya diurus tante Shasha."


Jaman sekarang ada COD, banyak platform belanja online. Apa mas Givan tidak pernah mencobanya?


"Kan Shopee bisa, Mas." timpalku kemudian.


"Siapa Shopee? Memang dia bisa urus perihal takaran zakat?"


Tepuk jidat.


"Aduhhh.... Maksudnya tuh, beli baju bisa lewat Shopee."


Ia tidak merasa bersalah atau merasa lucu. Wajahnya tetap saja datar.


"Tak pernah beli baju online, tak pernah pas ukuran kalau kemeja. Tau sendiri, kalau online lebih baik parfum atau produk dari official shop."


Aku mengangguk, teringat akan semua awal cipratan perdebatan di antaraku dan mas Givan dulu.


"Udah belum, Mas?" tanyaku setelah ia telah mendapatkan kemejanya.


"Bentar, satu lagi. Mau kemeja putih lengan panjang, mana tau dipakai buat akad nanti." ia mengedipkan matanya genit.


Tetep Ghifar yang juara, jika memberi kedipan mata. Tapi sudahlah, aku tak akan membawa-bawa nama Ghifar lagi. Aku sudah cukup trauma pada suami orang itu.


Mumpung di mall, sekalian pikirku. Tapi, apakah boleh?

__ADS_1


"Mas...." aku mengganduli lengannya.


"Hmm?" ia tidak keberatan dengan beban di lengannya.


"Boleh ke counter kosmetik tak?" aku mendongak menatap wajahnya.


Pandangan kami bertemu di tengah, "Boleh. Abis bayar ini ya?" ia menganggukkan kepalanya.


Reflek, aku pun mengikuti anggukan kepalanya.


Ia memutuskan pandangan kami. Lalu ia memanggil SPG yang dekat dengan kami.


"Campur sama yang tadi, Kak." mas Givan menyerahkan kemeja yang sudah ia pilih.


"Baik. Langsung ke kasir aja ya, Pak. Barangnya nanti diambil di kasir."


Mas Givan hanya mengangguk.


"Nemplok terus. Risih aslinya, tenggleng. Tapi takut kau tak kuat jalan, nanti jatuh lagi." ucapnya, saat kami melangkah ke arah kasir.


Cepat-cepat aku melepaskan lengannya. Mas Givan malah terkekeh kecil.


"Aku paling risih digandulin gitu. Kenapa ya? Dari dulu pun begini, tapi kadang kasian sama yang dapat aku. Keknya, ujian hidup betul gitu loh."


Ternyata ia mengerti, bahwa dirinya dulu adalah ujian terberat dalam hidupku.


"Alasannya?" kami masih berjalan beriringan menuju kasir. Tentu dengan langkah kakinya yang menyeimbangi langkah kakiku.


"Lebih enak nyender, dari pada disenderin."


Luar biasa.


"Dari kecil sampai sekarang, aku selalu sandaran ke mamah. Meski ditoyor, dimarahin, tapi tetap gak bosen nyender di mamah."


Uhh, sulung ternyata manja juga.


Aku mengangguk, membiarkannya berbaris dalam antrian. Aku hanya memperhatikannya dari belakang, sambil melihat sekelilingku.


Beberapa saat kemudian, aku langsung memilih counter skincare yang aku butuhkan. Wajahku tidak terurus sekarang. Kulit wajahku gradakan, berjerawat, berminyak, komedo, bekas jerawat, bahkan sampai terdapat milia di bagian bawah mata.


Aku tidak mengerti jika wajah kecanduan skincare rutin, maka akan langsung berubah jika tidak menggunakannya kembali.


"Biar aku bantu pilihkan. Pakai brand itu aja." mas Givan menunjuk counter kosmetik paling ujung.


"Punya Putri ya?" tabakku kemudian.


Aku tidak kenal dengan brand itu. Aku pun tidak pernah memakai brand dari produk itu.


"Bukan lah. Itu brand luar, tapi ada official resminya di Indonesia. Harganya sedikit mahal, tapi coba deh. Aku juga pakai satu, yang patch gitu, apa namanya?"


Aku tidak kenal dengan brand itu, apa lagi mengenai produknya.


Aku mengedikan bahuku, "Tak tau lah aku, Mas."


"Hmm, pokoknya itu lah. Nanti aku tunjukkan, kalau ada ditunjukkan sama SPG-nya."


Akhirnya, sampai juga. Pada counter bernuansa mewah, MECCA.


"Ada yang bisa dibantu, Pak? Bu?" sapa SPG berhijab tersebut.


"Ada, Saya mau lihat daily routine untuk permasalahan wajah istri Saya."


Aku langsung menoleh padanya dengan mata yang mekar.


Aku mantan istrinya!


"Ok, baik. Ini ada..........." panjang kali lebar, kali tinggi, kali keliling dan lingkar dijelaskan dan ditujukan produknya satu persatu.

__ADS_1


"Saya ambil semua. Sama apa tuh," mas Givan merapatkan matanya, dengan memegangi dahinya.


Ia berusaha mengingat sesuatu.


"Daily rutin untuk Bapaknya?"


"Ah iya." mas Givan tersenyum lebar, "Tapi Saya lupa namanya, yang kapas basah gitu nah." tambahnya kemudian.


Jika Raka operasi plastik. Lalu, apakah mas Givan sejenis penyuka sesama jenis karena ia memiliki koleksi kosmetik?


Aku jadi teringat ejekan m*ho dari Ghifar untuk kakaknya ini.


"Oh, iya. Ini nih, Pak." ia mengambil satu produk jar kaca dari dalam etalasenya.


"Oh, iya bener. Ya udah, Saya ambil ini semua ya?" putus mas Givan.


"Baik, Pak. Nanti bisa diambil di kasir ya, Pak."


"Ok, baik. Terima kasih." mas Givan menarik pergelangan tanganku, untuk memutari counter kosmetik ini.


"Milih apa lagi, Mas?" aku menaruh curiga padanya.


"Nah itu. Nanti gantian spa ya." ia menunjuk counter yang asing bagiku kembali.


"Produk luar lagi, Mas?" tanyaku kemudian.


"Iya lah. Yang penting jangan buang di luar aja." ia berbisik dengan senyum usilnya.


Hufttt....


Ini malah aku yang menemaninya berbelanja.


Frank Body.


Counter bernuansa peach.


"Ini jagonya scrub loh, Canda." tambahnya kemudian.


"Aku beli satu paket ya? Nanti barengan aja, mahal nih soalnya." ia berbisik, sebelum kami sampai di brand itu.


Tak dikasih pun, aku tak akan menangis. Segala diminta berbagi, memangnya aku dan dia kakak beradik satu ibu?


Mas Givan mendapatkan yang ia inginkan. Senyumnya begitu lebar bagai jok motor Nmax.


Yang tak terpikir olehku. Ia bahkan membeli scrub bibir. Aku yang perempuan saja, tidak pernah membeli produk itu. Aku hanya menggunakan masker bibir, serum bibir, atau pelembab bibir paling sering. Tidak sampai membeli scrubnya juga.


"Apa lagi, Mas?" aku hanya menurutinya, saat ia menarik pergelangan tanganku ke sana ke mari.


"Beli jajanan dulu sih."


Sabar, Canda. Maklum, OKB.


"Baik, Mas."


Namun, mas Givan malah merangkulku dan tertawa geli.


"Capek ya?" tangannya kemudian.


"Tak, Mas. Masalahnya, aku cuma dapat baju atasan sama skincare daily rutin aja." jawabku dengan cemberut.


"Huuuu... Bersyukur dong. Sana minta ke daeng Lendra, kalau mau skincare mingguan, bulanan. Kau diajak rujuk tak mau, tapi minta barang banyak. Barang aku aja cuma satu, mana cuma besar kepala lagi. Kau malah minta banyak."


Jika tanganku sampai, aku ingin menjitak kepalanya. Aku mengibaskan tangannya, agar tidak hinggap di bahuku lagi. Lalu aku menatapnya tajam, dengan menyudutkan dirinya.


...****************...


🤭

__ADS_1


__ADS_2