Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD258. Givan berangkat


__ADS_3

Apa kabar?


Kangen Ceysa.


Pesan messenger itu masuk dari akun bernamakan Noy.


Pasti ia sudah sehat sekarang.


Alhamdulillah.


Ya, aku hanya ingin dia sehat dan bahagia saja. Karena aku masih ingin Ceysa memiliki mangge, meski tidak bersama kami lagi.


Baik.


Lalu aku mengirimkan foto Ceysa pagi tadi, saat ia tengah disuapi oleh ibu.


Semoga, foto itu bisa menjadi pelipur rindunya.


Mangge kangen, Ceysa. Tanya nenek, mangge boleh nengok gak. Mangge gak mau ada keributan.


Aku memejamkan mataku, meredam rasa campur aduk yang memuncak di pelupuk mata.


Kalian bisa bayangkan, bagaimana perasaanku sekarang.


Nanti disampaikan.


Aku hanya membalas seperti itu.


Terbaca, tidak ada tanggapan lain. Yang jelas, aku tidak boleh berharap tentang hal ini.


Bang Daeng hanya merindukan anaknya. Ya, sebatas menjenguk seperti mangge Yusuf.


"Chandra... Iyo... Ces... Yayah berangkat dulu ya?" mas Givan berdiri di depan toko, dengan menggendong ranselnya.


"Ayah..." Chandra berlari ke arah ayahnya.


Chandra sudah jelas menyebutkan ayah.


"Hei, Sangar. Ayah kerja dulu ya? Buat Chandra sunat nanti." mas Givan menekuk lututnya, agar tingginya sejajar dengan Chandra.


"Dak mau sunat." inilah Chandra, ia selalu mengatakan dak. Jika ia ingin mengatakan tak.


"Okeh, jadi Cina aja biar kaya." mas Givan mengusap-usap kepala Chandra.


"Ikut Ayah." Chandra malah memeluk leher ayahnya.


"Okeh. Nanti kita liburan ke rumah Ayah yang di sana, ajak Biyungnya." ia melirikku yang duduk di bangku panjang, yang berada di samping etalase toko ini.


"Liburan ke Sabang aja, Yah. Tak perlu jauh-jauh ke Kalimantan." ucapku dengan tersenyum lebar.


Ia menunjukkan ibu jarinya, "Nanti kalau Ayah pulang lagi ya? Ayah harus kumpulin uang dulu. Kita wujudkan liburan kita yang tertunda."


"Okeh." aku mengacungkan ibu jariku juga.


Chandra mencium tangan mas Givan. Lalu, ia pun menciumi wajah anaknya.


"Iyo... Ayah berangkat dulu." mas Givan bangun, lalu ia berseru kembali.


"Yo ci angan." Zio muncul. Ia berlari dengan menunjukkan dua telapak tangannya yang basah.


"Iyo abis main tanah." tambahku kemudian.


Zio langsung mencium tangan ayahnya. Mas Givan pun menunduk, lalu menciumi wajah anak bungsunya itu.


"Iyo yang nurut sama Biyung, sama ibu ya?" ia mengusap kepala Zio.


Zio manggut-manggut, "Ya, Yayah."

__ADS_1


Mereka berdua memperhatikan ayahnya.


"Ces... Ayah berangkat dulu." mas Givan berjalan ke arahku.


Ia langsung menunduk dan mencium Ceysa.


"Ati-ati Yayah." tuturku kemudian.


Mas Givan mengangguk, "Dadah semuanya." ia berjalan pergi.


Ia masuk ke mobil, yang sudah menunggunya di depan Riyana Studio. Sepertinya, itu mobil milik Ghifar. Pajero Sport putih, langsung meluncur meninggalkan halaman keluarga besar ini.


"Mbak... Mamah nelpon. Disuruh ke sana tuh." seru Ria, dengan dirinya melayani pembeli.


"Ada apa katanya?" tanyaku kemudian.


"Gak tau. Coba ke sana aja." Ria duduk di tempatnya kembali, dengan langsung memainkan ponselnya.


Sudah cukup lama, ia tidak pernah meninggalkan ponselnya. Entah apa yang membuat ponsel itu begitu istimewa.


"Bang Chandra, Iyo, ikut tak?" aku bangun dan membenahi posisi Ceysa.


"Ikut." Chandra berjalan ke arahku.


Aku menoleh pada Zio, "Ayo Zio." aku melambaikan tanganku padanya.


Ia menggeleng, "Atut atek." ia malah menghampiri Ria.


Ya ampun, Zio. Ia sampai mengatakan takut pada kakeknya.


Papah Adi pun, ternyata masih ketus saja dengan Zio. Zio selalu menjadi bulan-bulanan papah Adi, dari kesalahan ibunya Zio. Padahal sudah jelas, Zio pun cucunya juga.


"Ayo, Biyung." Chandra sudah tidak sabar ternyata.


"Yuk." aku menggandeng tangannya.


Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di rumah megah ini. Aku langsung nyelonong masuk, karena sudah biasa seperti ini.


"Apa itu?" Chandra menilik piring kakeknya.


"Nasi, kuah beulangong." papah Adi menyuapkan pada cucunya.


"Dak mau." Chandra bangkit, lalu berjalan ke arah lain.


"Kak Key..." ia mendongak di bawah tangga.


"Kak Key lagi batuk-batuk, Bang. Abang tak boleh main sama kak Key dulu, nanti ikut batuk-batuk." seru mamah Dinda dari dapur.


Aku menggandeng tangan Chandra kembali, "Ayo ke belakang, sama nenek." ajakku kemudian.


Chandra mengangguk, ia mengikuti tarikan tanganku.


"Nenek lagi apa?" tanya Chandra, setelah melihat neneknya tengah beraktivitas di dapur.


"Lagi beres-beres dapur. Abang makan belum?" tanya mamah Dinda dengan tersenyum lebar.


Chandra manggut-manggut, "Udah." ia berjalan ke arah lemari pendingin.


"Abang mau kue." ia membuka lemari pendingin tersebut.


"Ambilah. Kasih Adek Ceysa." sahut mamah Dinda.


"Kenapa, Mah?" aku menurunkan Ceysa.


Anak itu langsung berjalan menuju kakaknya.


"Bawa itu kuah beulangong. Mamah masak banyak." mamah Dinda menunjuk ke wadah yang berada di dekat kompor.

__ADS_1


"Au, au."


Aku menoleh cepat ke arah anak-anak. Chandra tengah memberikan kue pada adiknya. Ia pun mengambil kembali sepotong kue, lalu menutup pintu lemari pendingin tersebut.


"Ya, Mah."


Aku memilih untuk menghampiri anak-anak, karena mereka masih berdiri di depan lemari pendingin saja.


"Makannya di depan sana, sama kakek." aku menggiring mereka berdua.


Mereka berjalan beriringan. Aku hanya memperhatikan saja, sampai mereka duduk di ruang keluarga bersama kakeknya.


"Pakai Tupperware itu, Dek." mamah Dinda menunjuk wadah yang berada di rak piring.


"Ya, Mah." aku menuruti beliau.


Sebenarnya ibu sudah masak. Tapi mamah Dinda pasti tersinggung, jika aku tak menerima masakannya.


"Givan baru cerita tadi, ternyata dia masih sama Putri." mamah Dinda membantuku menuangkan hasil masakannya ini.


"Iya, Mah. Mas Givan pun ada bilang kemarin." tambahku kemudian.


Mamah Dinda mengerutkan keningnya, "Kok kau tak ada bilang ke Mamah?" tanya beliau.


"Aku pikir, aku tak ada hak buat ngasih tau. Mas Givan juga pasti ceritanya kalau sama Mamah sih." aku mencari tutup wadah kedap udara ini.


"Dia nanya, kapan baiknya buat nikah. Nanti bikin dokumen Jasmine sama Zio juga katanya."


Nah, loh. Ternyata mereka sama-sama membutuhkan. Aku baru ingat, jika Zio tak memiliki akte kelahiran karena ibunya menikah siri dengan mas Givan.


"Secepatnya aja kata aku sih, Mah. Kasian Jasmine, mau sekolah." aku menutup wadah tersebut.


"Dibawa, Dek. Ayo liat TV." mamah Dinda berjalan lebih dulu.


Aku membawa wadah kedap udara berbentuk seperti rantang ini. Aku pun mengekori beliau, untuk berkumpul di ruang keluarga.


"Canda udah tau katanya, Bang. Kalau Givan masih sama Putri." adu mamah Dinda, dengan duduk di samping cucu-cucunya itu.


"Pastilah tau, Givan anteng di kamar atas aja sama dia." papah Adi menyindirku.


Aku tertawa pelan, "Cuma ngobrol, ngelonin anak-anak Pah." terangku kemudian.


"Ck..." papah Adi melirik malas ke arahku, "Alesan!"


"Mas Givan tak kek Ghifar lah, Pah." aku tak ingin mereka berpikiran jelek tentang aku dan mas Givan.


Mamah Dinda manggut-manggut, "Iyalah, Abang ini. Segitu Givan udah ngaku, bahwa dia tak ngapa-ngapain juga. Masih tak percaya aja."


"Abang laki-laki, Dek. Makanya Abang tak percaya."


"Iya, Pah. Tapi beneran tak ngapa-ngapain." jelasku kembali.


"Ya udah lah, ya udah." papah Adi langsung berekspresi masam.


"Bang, katanya beneran Givan masih sama Putri." mamah Dinda membuka topik obrolan tentang mas Givan lagi.


Papah Adi melirikku sekilas, "Kenapa Putri tak sama Lendra aja sih? Toh, Lendra pun udah bebas."


Ini pun yang menjadi pertanyaanku. Namun, tetap tak pernah terpecahkan.


"Oh iya, Mah. Bang Lendra chat messenger, katanya dia mau nengok Ceysa. Boleh tak, Mah?"


Perhatikan mamah Dinda dan papah Adi tertuju ke arahku.


"Kau......


...****************...

__ADS_1


Boleh tak yah 🤔


santai ya 😌 tapi perasaan tetap gak puas bacanya gitu 😣


__ADS_2