Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD264. Diapelin


__ADS_3

Zuhdi terbahak-bahak, sampai memegangi perutnya sendiri.


"Gurau, Ibu. Ya ampun, sampai lepas biji mata gitu." terang Zuhdi, dengan masih tertawa saja.


"Kamu beneran mau jomblangin adik kamu sama Canda? Kamu kan tau, kalau Canda janda anak dua." tutur ibu kemudian.


"Itu sih terserah Ardi, aku cuma ngenalin aja. Tapi dengan tandanya dia berani berkunjung itu, dia serius. Ya mungkin, Canda bukan perempuan pertamanya. Tapi kan diliat dari keseriusannya." jelas Zuhdi dengan menyomot martabak.


"Baru juga kenal, Bang Adi." aku bangkit, hendak turun ke lantai bawah kembali.


"Iya, terserah aja bagaimana ke depannya." Zuhdi terlihat santai, meski berada di tengah-tengah keluarga mantan ipar.


"Ayo, Ceysa. Turun yuk." aku teringat akan Ardi, yang takut difitnah.


"Au...." Ceysa menunjuk makanan yang aku sajikan tadi.


"Ambil-ambil." ibu membawa tangan Ceysa untuk memilih makanan yang ia inginkan.


Ceysa mengambil martabak manis, lalu ia baru melangkah ke arahku. Aku segera menggendongnya, lalu menuruni tangga kembali.


"Hai, Adek." sapa Ardi, saat Ceysa sudah sampai di sofa tamu ini.


Ceysa seperti kebingungan, ia menoleh ke arahku, lalu menoleh ke arah Ardi kembali.


"Itu Om, Ceysa." tuturku, dengan mendudukkan Ceysa di sofa.


"Um?" Ceysa mulai mencicipi makanan yang ia bawa itu.


"Ajarin manggil abu dong." Ardi mengedipkan sebelah matanya genit.


Masya Allah, pesona Ghifar kalah hari ini.


Apa ini yang dinamakan, the next level godaan?


Apa aku termasuknya jatuh cinta pada pandangan pertama?


"Nanti lah, takut tak jadinya. Main abu-abu aja." tukasku lirih.


"Ya dari pada pink-pink, mending abu-abu."


Bagaimana nanti jika ia tahu, kalau aku penyuka warna pink? Sampai-sampai, cat di kamarku dan sprai berwarna pink juga?


Untungnya furniture berwarna putih, karena mamah Dinda yang membelanjakannya. Meski memang, itu bersumber dari uangku.


"Sini, Dek." Ardi menepuk tempat di sebelahnya. Pandangan matanya, fokus pada anak keduaku saja.


Ceysa menggeleng, anak-anakku sedikit anti dengan orang baru.


"Kalau kita berlanjut, minggu depan aku bawa kau ke rumah ma ya? Bawa Chandra sama Ceysa juga tak apa."


Aku melongo sesaat, lalu aku langsung menutup mulutku. Benarkah secepat ini?


"Kita serius? Hubungan apa?" aku tidak mau salah berharap.

__ADS_1


"Suami istri lah, masa iya kakak adik. Aku ke perempuan selalu serius, apa lagi sekarang aku dapat peringatan dari abang aku sendiri." Ardi melirik tangga sekilas.


"Peringatan apa?" tanyaku kemudian.


"Jangan main-main sama keluarga teungku haji, nanti pencari nafkah di rumah yang jadi korban." tutur Ardi lirih.


"Maksudnya gimana?" aku masih tidak mengerti.


Ardi membuang nafasnya, "Gini loh..." wajahnya condong ke depan.


Aku dan dirinya disekat oleh meja saja.


"Misal aku main-main. Keluarga aku yang kerja di ladang teungku haji, pasti diberhentikan. Nanti keluarga aku makannya dari mana? Itu resiko besar."


Oh, aku baru mengerti. Menurutku, papah Adi bukan lah manusia yang seperti itu.


"Memang kau kerja apa sekarang?" tanyaku kemudian.


Ardi menyandarkan punggungnya kembali, "Aku bangunan, ikut proyeknya abang aku sendiri. Kalau dia borong orang, aku pasti diikut sertakan. Sebelumnya, aku ikut teungku haji juga. Aku buruh di ladangnya. Entah sih suruh mupuk, mangkas rumput, basmi hama, atau panenan. Kau keberatan kah sama kerjaan aku?"


Apakah pekerjaan cukup sensitif untuk para laki-laki?


"Aku tak masalah. Aku punya toko dari mantan mertua."


Ardi malah terkekeh geli, "Ternyata kau orangnya gini ya?"


Memang aku manusia yang bagaimana?


Aku hanya jujur saja.


Ardi tertawa renyah. Benar-benar Teuku Ryan suaminya Ricis ini sih.


"Ayah Ceysa tak pernah nengok kah? Tak jamin Ceysa juga kah? Maaf, bukan maksud bagaimana. Cuma pengen tau aja."


Aku paham maksudnya, aku tak boleh berprasangka jelek.


"Sampai saat ini sih, belum pernah nengok lagi. Tapi dia udah ngabarin, kapan-kapan mau nengok. Belum pernah jamin juga, dia juga abis operasi usus buntu di sananya."


"Nanti kalau dia nengok, panggil aku ya? Aku pengen kenal." ia tersenyum samar.


Aku membalas senyumnya, "Insya Allah."


"Jadi, kapan aku dikenalin ke orang tua kau? Dikenalin ke teungku haji?"


Apakah ini yang dinamakan ngelunjak?


"Nanti deh. Kita pastiin dulu perasaan kita. Aku takutnya, orang tua udah pada tau, tapi kita belum mantap."


Aku melirik Ceysa, yang turun dari sofa untuk mengambil tutup toples. Ia masih makan martabaknya, tetapi tangannya yang lain mencoba menumpuk tutup toples.


Ardi menyeruput kopinya, lalu ia menaruh kembali di atas meja.


"Menurut aku. Dengan aku sering berkunjung, kita sering tuker chat, perasaan pasti tumbuh sendiri. Lama kelamaan, takutnya zina. Kita bareng satu rumah, udah sah, pasti kita bisa saling cinta. Mau bagaimana pun, aku ini laki-laki, biar dikata aku belum berpengalaman bikin anak juga. Itu naluri laki-laki, aku pasti bisanya." Ardi berkata pelan, suaranya ditekan lembut. Mungkin agar tidak terdengar orang, karena pembicaraan ini cukup sensitif.

__ADS_1


Benar juga sih. Tapi aku tidak mau terburu-buru.


"Nanti aku obrolin sama ibu aku dulu ya? Aku tak tau, kalau kau mintanya cepet-cepet." aku memperhatikan Ceysa sesekali.


"Bukan cepet-cepet juga. Tapi aku udah punya rencana, buat kita nikah. Tolong jangan tinggikan jeulame-nya kek bang Adi sama Giska dulu, aku takut tak sanggup."


Aku tertawa lepas, "Nikah KUA aja aku mau." ujarku kemudian.


"Aku harap, tak sampai seminggu. Aku udah diminta datang lagi, buat dikenalin ke ibu atau ke teungku haji. Abang aku ada bilang, teungku haji ikut andil di sini, aku tak boleh ngelangkahin keputusan beliau."


Sepertinya Zuhdi banyak menitipkan pesan.


"Iya, aku usahain kau bakal cepat aku kenalin."


Ardi mengangguk, "Aku balik dulu ya? Tak enak ada abang di atas, nanti aku diledekin."


Aku terkekeh kecil, "Ya udah. Nanti main lagi ya?"


Ia mengangguk, "Nanti aku ajak jalan-jalan juga." ia tersenyum ramah.


"Okeh." aku membalas senyumnya.


Ardi menoleh pada Ceysa, yang tengah merogoh isi toples.


"Ceysa... Om pulang dulu ya?"


Ceysa menganggukkan kepalanya, ia malah fokus kembali dalam misinya mengambil makanan dalam toples.


"Ati-ati, Ardi." aku membantu membuka pintu teralis.


Ia menoleh, posisi kami begitu dekat.


"Boleh minta dipanggil abang aja?" senyumnya tak pernah pudar.


Aku mengangguk, aku salah tingkah jika terus-terusan dihadapkan dengan Ardi.


"Gimana?" ia masih enggan melangkah keluar, meski pintu teralis sudah terbuka.


"Iya, Bang." ujarku kemudian.


Senyumnya semakin menawan, "Okeh, makasih. Dek Canda."


Ia melangkah keluar, kemudian menaiki motor maticnya yang terparkir di dekat pintu belakang ini.


Berapa kira-kira penghasilannya? Motornya berbodi bongsor seperti milik Ghifar, yang jelas memiliki harga. Meski DP di awal, selanjutnya menyicil. Tapi DP motor itu cukup besar setahuku.


Mungkin malam ini, aku akan membicarakan perihal hubunganku dengan Ardi pada ibu. Ardi meminta untuk serius, ia takut berbuat zina.


Ehh, dengan ia mengatakan hal itu. Apa kah dia hanya berna*su saja padaku?


Tidak benar-benar karena niat baiknya?


...****************...

__ADS_1


Teuku Riyan donggggg 🤩


__ADS_2