
"Enak yang ngurusin aku lah. Mamah ini! Masa dibandingkannya sama mantan ipar."
Ghifar tanpa ragu, mengatakan hal itu.
Gelak tawa mamah begitu renyah. Aku hanya menimbrunginya saja. Aku paham posisiku.
"Mas Givan kapan pulang, Mah?" aku mencari topik pembicaraan lain.
"H-3 lebaran katanya sih. Dia lagi ngurus masalah saham, Dek. Ada beberapa masalah saham sama Putri, sama satu vendor lainnya. Jadi Givan ini, kek beli balik saham yang ditanam mereka, buat menstabilkan PT dia kemarin."
"Kenapa sih, Mah?" aku memperhatikan wajah mamah Dinda dari bawah.
"Orang kata Lendra aja, Putri ini tukang setir yang handal. Model manusia licik kek Lendra aja bungkam, apa lagi modelan Givan. Keknya, Givan milih beli saham balik. Biar Putri tak terlalu nyetirin dia. Kau dulu hidup sama Givan aja, kau kan yang ikut aturan hidup dia? Kek harus tidur jam sembilan malam, bangun harus subuh, sarapan setengah enam pagi. Kau kan yang ikut dia? Bukan dia yang ikut kau?"
Aku mengangguk-angguk cepat. Itu benar sekali.
"Putri ini padahal udah diperingati beberapa kali sama Mamah. Bahkan kemarin aja mamah chat tak enak, gara-gara dia berani post video singkat berdua di ranjang."
"Hah?" aku reflek kaget mendengar ucapan beliau.
Mamah Dinda tertunduk untuk bisa melihatku, "Jadi kek bersandar di kepala ranjang gitu nah, Dek. Givannya telanjang dada. Putrinya gerak-gerakin kepala, sambil ngusap rahang Givan. Bukan Mamah bela Givan, tapi Givan ini sifat laki-laki. Perempuannya aja yang bodoh, malah diumbar lagi. Bikin jelek nama baik mereka aja, meski cuma di post di aplikasi chat."
Apa ya maksudnya Putri sampai seperti itu?
"Pas bulan puasa ini, Mah?" Ghifar sepertinya menyimak cerita mamah Dinda.
"Bukan, Far. Seminggu yang lalu kalau tak salah."
Sepertinya, bau-bau konflik di antara mas Givan dan Putri.
"Kok aneh ya, Mah?"
"Aneh gimana? Berzina sih kapan aja, Far."
Ghifar dan aku tertawa geli.
"Bukan masalah zina. Tapi seminggu sebelum puasa, ya hari minggu juga. Minggu kemarin berarti ya?" Ghifar menjeda ceritanya, "Aku liat Jasmine di pinggir jalan, dia mau nyebrang jalan gitu, dia dari minimarket keknya. Tapi sendirian, tak ada Putri." lanjutnya kemudian.
"Memang kau tak tau? Kalau Jasmine ikut Lendra."
"Yang betul, Mah?" aku yang malah dibuat terkejut.
"Betul lah. Mereka kan tinggal di Pintu Rame Gayo, Lendra punya ladang sawit di sana."
Aku seperti orang yang baru keluar dari penjara. Kok bisa-bisanya, aku tidak tahu dengan informasi tentang manggenya Ceysa?
"Gimana ceritanya, Mah?" tanyaku kemudian.
"Balik lagi aja, Mah. Canda udah sembuh ini." tutur Ghifar.
"Biar tak tambah stress, sakit, tertekan. Makanya Mamah bawa ngobrol, Far. Dia ini tak bisa gerak, tubuh bagian bawahnya. Bukan tak bisa ngomong." terang mamah Dinda.
Aku tidak mendengar Ghifar menyahuti kembali. Mobil cukup lama berdiam di tempat, meski deru mesin masih terasa menyala. Sepertinya, jalanan tengah macet sekarang.
__ADS_1
"Mah... Gimana ceritanya?" aku menggoyangkan lengan beliau.
"Ehh...." mamah Dinda menunduk melihatku sekilas, "Ya terus, Jasmine sama Lendra. Mamah taunya, pas dia lagi nengok Ceysa kemarin itu. Dia kan ada ke rumah pas malam hari, katanya sorenya dari tempat kau. Dia juga sedikit cerita, tentang Givan dan Putri. Tapi...." lanjut mamah Dinda.
"Tapi apa, Mah? Lendra tak cerita, Mah. Gimana ceritanya?"
Pantas saja, masa itu mamah Dinda terlihat bisa mengobrol santai dengan bang Daeng. Ternyata, sudah ada obrolan sebelumnya di belakangku.
"Bentar-bentar." mamah Dinda membuka pintu mobil.
Aku lekas mendongak. Ternyata, aku sudah sampai di depan IGD RSUD Muyang Kute.
Dua orang perawat datang menghampiri. Aku diangkat oleh Ghifar, dengan dibantu oleh perawat tersebut. Sedangkan mamah Dinda, entah beliau ke mana. Sepertinya, beliau tengah mengurus dokumen pendaftaran.
Aku sudah berada di atas brankar. Ranjang yang memiliki roda di bagian bawahnya. Brankar di dorong, dengan Ghifar ikut membantu.
"Jangan cemas." Ghifar tersenyum amat manis.
Aku hanya mengangguk samar. Aku hanya bisa memperhatikan penerangan rumah sakit, yang berada di tengah-tengah plafon.
Tangis anak kecil begitu memekan telinga. Suara orang merintih, sesak nafas. Bahkan, suara mesin-mesin yang seperti ada di sinetron bersahutan.
Beginikah suasana IGD?
Kenapa membuat jantungku berdebar kencang?
Aku khawatir. Aku takut.
Aku sudah sampai di suatu tempat yang ditutupi dengan tirai. Ghifar berbicara dengan perawat tersebut dengan tersenyum manis. Lalu, dua perawat tersebut meninggalkan aku dan juga Ghifar.
"Nanti, mamah masih urus." Ghifar menghampiriku.
Ia tersenyum sekilas. Kemudian ia menghadap ke arah lain, dengan merogoh sakunya.
Tak lama, ponsel ia keluarkan. Lalu ia fokus pada ponselnya. Boro-boro ia mengalihkan pikiranku dengan obrolan.
Ponselnya berpindah ke telinganya, "Mamah urus kamar, Pah. Ya Papah bantu mamah aja, biar aku yang nungguin Canda. Di IGD, tak boleh banyak family yang masuk Pah."
Ghifar melirikku, "Kau belum batal puasa kan, Dek?" tanyanya kemudian.
Aku menggeleng cepat untuk menjawabnya.
"Belum katanya, Pah. Ya udah belikan aja di minimarket rumah sakit, keude mana ada yang buka soalnya." Ghifar menggaruk pelipisnya dengan satu jari tangannya.
"Okeh, Pah." ponsel turun dari telinganya, lalu ia memasukkan dalam sakunya kembali.
"Dicek dulu, Pak." salah satu perawat yang tadi muncul.
Ia mendorong meja stainless steel, yang terdapat beberapa alat-alat kesehatan. Entah apa saja namanya.
"Bapak siapanya ini?" perawat tersebut memperlihatkan Ghifar.
"Aku adik iparnya, Sus." jawab Ghifar kemudian.
__ADS_1
"Silahkan di luar dulu. Saya mau tutup tirainya."
Ghifar mengangguk, lalu ia keluar dari gorden yang cukup tinggi ini.
"Keguguran? Atau bagaimana, Bu?" ia menggulingkan kain di lenganku.
Ini alat untuk tensi darah.
"Bangun tidur tiba-tiba kaku, lemes, berat. Aku tak bisa bangun atau jalan, tak bisa gerak juga. Tapi bahu, leher, tangan sama kepala bisa gerak."
Alisnya menyatu. Ia manggut-manggut, di sela aktivitasnya.
"Darahnya rendah. Tujuh puluh per enam puluh." ia menggeleng samar.
Ia menggulung alat tensi darah itu. Lalu ia membereskan alat yang lain, yang sepertinya akan ia gunakan.
"Maaf ya, Bu. Saya mau periksa dulu." bajuku disingkap olehnya sampai leher.
"Aku mau diapakan?" tanganku reflek menutup bagian dadaku.
Ia tersenyum samar. Tangannya menangkup di depan dada.
"Maaf ya, Bu. Ini alat rekam jantung, atau EKG, elektrodiografi." ia menunjuk alat yang berada di meja yang ia bawa tadi.
"Okeh." aku langsung menurunkan tanganku.
Dengan cepat, ia memasangkan beberapa alat di bagian dada dan kakiku. Kemudian, muncul seperti struk pembayaran dari alat yang berada di meja, yang terhubung dengan alat-alat yang tersambung dengan kabel yang menempel dengan alat yang berada di dada dan kakiku. Intinya seperti ini, entah bagaimana menjelaskan alat tersebut.
Setelah itu, ia membenahi alat-alat tersebut dan pakaianku.
"Mati rasa? Kesemutan?" ia menyentuh betis kakiku, tangannya sudah terlapisi sarung tangan yang berbahan karet.
"Minta tolong cubit, Sus." aku tidak tahu pasti.
Ia langsung melakukannya, dengan aku yang langsung merasakannya. Aku tidak mati rasa.
"Terasa, Sus." jawabku kemudian.
Ia mengangguk, "Saya ambil sampel darahnya ya? Sekalian pasang infus juga." ujarnya kemudian.
Tegang.
Aku sudah berdebar tidak karuan, saat ia tengah mempersiapkan alat-alat dan suntikan yang berada di meja dorong itu. Rasanya aku ingin kabur saja. Aku takut melihat selang infus itu. Aku trauma rasanya diinfus, aku teringat akan pengalamanku di rumah sakit, saat aku menjadi korban pemerk*saan dari ayahnya Chandra.
Ia menggulung lengan bajuku. Lalu, ia mengikat lenganku dengan tali yang memiliki fungsi seperti gesper tarik. Harap-harap cemas, saat ia menggosokkan kapas basah di bagian siku dalamku.
Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Aku takut melihat lenganku ditusuk dan diambil darahnya. Pasti, ini mengagetkan.
Sudah kuduga. Aku langsung mengeratkan rahangku, agar aku tidak merintih kesakitan.
...****************...
Aku pun trauma, keingat waktu di kuret 😠gara-gara plasenta bayi terpotong di dalam 😢 Itu masih jadi kenangan yang teringat jelas 🥺
__ADS_1