Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD110. Dicuekin


__ADS_3

"Abang gak yakin masakan Adek enak masalahnya." ucapnya begitu serius.


Aku kang mencubit lengannya, dengan memberinya pelototan tajam. Bisa-bisanya ia meledekku?


Tawanya begitu renyah, "Uwu-uwuan gitu pengen Abang. Baca novel bareng, usap-usap rambut, nyariin kutu. Masak-masak segala, macam enak aja nantinya." ungkapnya kemudian.


Pipiku bersemu merah, aku malah teringat kegiatan dewasa kami.


"Ya udah, balik ke kos aja." aku langsung menutup mulutku.


Aku khawatir, bang Daeng berpikir bahwa aku menginginkan bermesraan dengannya. Meski memang, kenyataannya seperti itu.


"Ok." bang Daeng langsung tancap gas kembali.


Beberapa saat kemudian, kami sudah bersantai di atas tempat tidur. Dengan pintu kos yang setengah terbuka, agar hembusan angin masuk ke kamar ini.


Aku bersandar pada dadanya. Sedangkan sang pemilik tubuh, ia tengah fokus pada novel di tangannya.


Bang Daeng tidak memiliki kemesuman yang berarti. Harusnya jika ada kesempatan seperti ini, bang Daeng mengajakku belajar biologi lagi.


"Bang, aku udah selesai haid." kode ini, yang selalu aku gunakan untuk mas Givan.


Ia mengusap kepalaku, "Ya sholat lah, Dek." pintanya kemudian.


Sholat?


Itu tentu aku lakukan.


Apa bang Daeng tidak mengerti?

__ADS_1


Aku membuat tulisan yang tidak jelas di perutnya dengan jariku. Aku bosan, aku malah dicuekinnya dengan novel mamah Dinda.


"Apa sih, Dek? Abang geli." tangan bang Daeng menahan tanganku yang masih bermain di atas perut seksi.


"Abang kenapa sih?!" aku meliriknya tajam.


Ia mengerutkan keningnya, "Abang gak kenapa-kenapa. Memang kenapa?" tanyanya kemudian.


Aku yakin, bang Daeng adalah orang yang peka. Sejauh ini, ia selalu mengerti akan diriku.


"Tau ah!" aku langsung memunggunginya. Berharap dirinya langsung memelukku dari belakang, lalu tangannya bergerilya kemana-mana.


Namun, tidak ada pergerakan apapun.


Masa nikah baru satu minggu, ia sudah bosan padaku?


Apa di sini aku diminta untuk mengerti, bahwa dirinya sekarang tidak menginginkan hal itu?


Aku ingin berteriak saja padanya.


Sudahlah, aku memilih untuk tidur sampai waktu ashar tiba.


~


Malam harinya, kami tengah duduk di teras kos-kosan. Kami baru selesai makan bakso di depan gang, lalu kami memilih untuk bersantai di sini.


"Jangan deket-deket, Abang lagi ngerokok." bang Daeng menjauhkan puntung yang terselip di jarinya.


"Aku pengen deket Abang." ucapku menurun.

__ADS_1


"Lah??? Memang dari tadi dekat siapa? Gih rebahan aja, biasanya juga nonton sinetron jam segini tuh." bang Daeng melirik jam tangannya.


Ada pula suami yang menyuruh nonton sinetron?


Saat aku di rumah megah itu, mas Givan selalu memarahiku jika aku menonton sinetron. Ia mengatakan, tontonan itu unfaedah. Lebih baik aku melakukan hal di dapur, yang sekiranya membuat orang rumah senang. Tapi, masak atau membuat kue pun tak mungkin aku lakukan. Karena aku tak memiliki modal untuk membeli bahan-bahannya. Lagi pun, mas Givan tak memberiku modal untuk membeli bahan-bahannya.


"Gih!" ia mencolek lenganku.


"Ya, Bang." aku bangkit, hendak masuk ke dalam kos kami.


"Gak usah cuci piring, besok aja. Sehari sekali tuh cuci piring, dikumpulkan dulu. Biar gak capek, bolak-balik cuci piring aja." aku berhenti sejenak, untuk mendengar ucapan itu.


Ada juga laki-laki yang meminta jangan mencuci piring?


Masak aku dilarang, cuci piring yang hanya beberapa biji saja pun diminta nanti saja. Jadi, kerjaanku sebagai istri hanya untuk menemaninya seharian penuh dan menyapu lantai saja?


Sungguh luar biasa Daengku ini.


"Ya, Bang." aku melanjutkan langkah kakiku kembali.


Lalu aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Mencari siaran televisi yang menarik perhatianku.


Jika tiap hari begini saja, aku pasti bosan. Entah ia kelewat sayang, atau bagaimana. Tapi, kerjaanku melulu diminta untuk rebahan saja.


Kadang aku berpikir, apa ia trauma dengan rasa masakanku? Terakhir aku memasak pun, saat membuat semur telur itu.


"Udah tidur, Dek?" bang Daeng masuk ke dalam, kemudian langsung mengunci pintunya.


...****************...

__ADS_1


Udah dikunci aja pintunya??? Mau apa mereka? 😳


__ADS_2