Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD32. Membersihkan kamar


__ADS_3

"Sampai apa?" kak Anisa melotot ke arah bang Dendi.


Bang Dendi tertawa lepas, lalu ia bangkit dari posisinya.


"Beli jajan yuk, Dek. Om pengen jajan yang kriuk-kriuk." bang Dendi mengulurkan tangannya pada Chandra.


Chandra memamerkan giginya, ia begitu cepat merangkak saat ada yang mengajaknya.


"Jangan jauh-jauh, Bang." ucapku, karena Chandra hanya mengenakan diapers saja. Chandra terpaksa aku lucuti, karena ia penuh dengan biang keringat di lehernya dan punggungnya.


"Kenapa? Takut anak kau diculik lagi?" Chandra sudah berada di dekapan bang Dendi.


Kak Anisa tertawa lepas, saat melihat wajah kesal bang Dendi. Kenapa sih laki-laki mudah mengekspresikan wajahnya? Aku takut terlalu dekat dan akrab dengannya nanti.


"Iyalah!" ketusku cepat.


"Nyulik anaknya, buat apa? Mamahnya aja sekalian yang Abang culik." ujar bang Dendi dengan berlalu pergi.


Beginikah rasanya punya teman lawan jenis?


Hati terus-terusan dibuat semriwing oleh gurauannya.


"Kak." aku fokus menghadap kak Anisa yang tengah bermain ponsel.


"Hmm." jawaban singkat dari kak Anisa.


"Enak kah sama suami orang, Kak?" aku segera menutup mulutku, karena saat itu juga kak Anisa memberi tatapan seribu maknanya.


"Enak sama bujang. Kalau bisa, bujang yang gak punya pacar. Bang Lendra minus ada pacar aja. Kalau gak ada pacar, bang Lendra terbaik untuk aku. Itu pun, kalau bang Lendranya juga suka sama aku. Kalau suami orang, dosa kita tuh nambah tau. Udah dosa zina, dosa merebut kebahagiaan wanita lain. Udah mana kan, suami orang itu pasti main sama istrinya. Lepas itu, ketemu kita, pasti main sama kita." kak Anisa memandang langit-langit kos ini.


Aku paham arti main dalam ucapan kak Anisa itu.


"Jangan pernah berpikir merebut Ghifar dari istrinya. Bukan karena kamu kalah cantik." kak Anisa memandangku sekilas, lalu ia kembali menatap langit-langit kamar.


"Tapi perempuan itu mulia, jangan buat kamu jadi rendahan karena udah rebut suami orang. Suami itu bukan apa-apa, tanpa doa dari istrinya. Yang suami punya itu, itu adalah segala bentuk dari rezeki istrinya. Kalau kamu tergoda sama suami orang karena dia kaya, jangan terlalu berambisi mati-matian untuk dapatkan dia. Karena rezeki istri suami orang itu, gak mungkin sama dengan rezeki kamu. Bukan aku ngatain kamu miskin, tapi pahami bahwa rezeki orang itu beda-beda." lanjut kak Anisa kemudian.


Aku tidak percaya, mendengar penuturan kak Anisa. Aku tidak percaya, ternyata ia memiliki pemahaman tentang ini.


"Bukan karena aku dapat azab, terus aku jadi paham. Tapi aku kasian, kalau nanti kamu malah terjebak dengan suami orang. Lepas dari suami orang, gak semudah lepas dari pacar bujang. Pokoknya jangan coba-coba deh." kak Anisa bangkit, lalu ia mulai menikmati rokoknya.

__ADS_1


"Carilah laki-laki yang sayang sama Chandra. Tapi jangan buru-buru, kamu masih muda. Lebih baik, bahagiakan dulu diri kamu sendiri sama anak kamu." tambah kak Anisa kemudian.


"Aku ambil kunci kosnya bang Lendra dulu ya, Dek? Besok pagi jam sembilan ada job yang dari bang Dendi itu. Lima orang, dibagi tujuh ratus ribu. Gak diambil, gak ada pegangan. Diambil, nyesek betul." kak Anisa bangun, lalu berjalan ke luar.


Uang pegangan milikku pun, tinggal tiga ratus saja. Bukannya aku pelit, hanya saja aku belum memiliki kerjaan pasti. Untuk makan-makan saja, aku selalu berbagi dengan kak Anisa. Karena aku tahu, kak Anisa tak memiliki uang lagi. Dalam perjalanan, kami berbagi makanan untuk mengenyangkan perut kami. Jika kami selalu meminta pada bang Lendra, aku yang malah tak enak hati.


Aku memilih untuk mandi, agar badanku menjadi lebih segar.


Saat aku sudah selesai, aku melihat Chandra tengah duduk dengan makanan ringan yang berantakan di lantai. Bang Dendi, tengah asik menikmati gorengan yang terhidang di atas kertas.


"Dek... Tolong masakin nasi."


Aku mengangguk, lalu segera mencuci beras yang ada.


Beberapa saat kemudian, kak Anisa datang. Kunci kamar kos bang Lendra sudah diberikan padaku. Esok aku akan segera membersihkan kamar yang lama kosong itu. Semoga saja, aku tak melihat makhluk halus di kamar kos bang Lendra itu.


Sedikit rasa sedih. Mungkin ini adalah hal pertama kali untukku juga.


Rasanya memang nikmat, gurih dan renyah. Hanya saja, aku begitu tidak percaya. Di rantau orang ini, pengalaman mengajarkanku makan dengan lauk gorengan yang terbuat dari tepung terigu saja.


Nikmati dan syukuri apa yang kalian makan saat ini. Karena belum tentu, orang lain menikmati hal yang sama.


~


Aku menyalakan lampu, karena aku takut. Lantai kamar mandinya sampai begitu kering. Gas ukuran tiga kilogram, tak terpasang dengan regulatornya. Bang Lendra paham keamanan ternyata.


Di dekat pintu kamar mandi, terdapat keranjang baju kotor berwarna pink. Sama seperti milikku, yang terdapat di kamar mandi kamar pribadi kami.


Kaku rasanya, saat awal pernikahan. Mas Givan begitu terlihat manis dan menyayangiku. Sayangnya, rupa rasa sayangnya hanya kamuflase agar aku mau mengurusnya.


Aku memilih untuk merendam baju kotor tersebut. Sembari aku membereskan pekerjaan yang lain, sekaligus menunggu Chandra tertidur. Aku tidak tenang, jika beraktivitas di kamar mandi. Sedangkan Chandra masih terbangun, dengan aktivitas merangkaknya yang tak diawasi. Itu cukup bahaya untuknya, karena Chandra selalu meraih apa saja yang mampu ia gapai.


Aku mengambil lap kering milik kak Anisa, karena aku tak menemukan lap di kos milik bang Lendra ini.


Aku membersihkan barang elektronik dari debu. TV yang menggantung, beberapa peralatan untuk video game. Sticknya seperti setir mobil, dengan kotak play station yang tak tertata sempurna.


Satu yang menjadi perhatianku. Tumpukan buku-buku di rak buku minimalis, yang terdapat di pojok kamar paling kiri ini.


"Yung..." Chandra menghamburkan makanan ringan itu.

__ADS_1


Huh, biar nanti sprainya aku cuci.


"Iya, sok mamam." aku tersenyum manis pada Chandra.


Chandra menganggukkan kepalanya, giginya mengintip di balik tarikan bibirnya. Ia fokus kembali pada tayangan di ponselku. Untungnya, aku memiliki beberapa video animasi yang sudah aku download.


Aku mengambil satu buku dari tumpukan paling atas. Ini sebuah novel, gambar laki-laki di sampul novel ini seperti familiar di pandanganku.


Tapi siapa ya?


Aku membalikkan novel ini, melihat sampul bagian belakangnya.


Terdapat foto seorang wanita berukuran sangat kecil, di bagian kiri bawah sampul bagian belakang ini.


Wanita memakai hijab modis, ia mengenakan kacamata di atas dahinya. Lalu gambar di ambil dari belakang tubuh wanita tersebut, dengan pose wanita tersebut tengah menoleh ke arah kiri bahunya sambil menatap ke arah kamera.


Aku menjelikan mataku, untuk bisa mengenali foto kecil dalam sampul belakang ini.


Sayangnya, mataku malah fokus di bagian bawah foto dalam sampul belakang tersebut.


Adinda


Tercetak tebal dengan awalan huruf kapital.


Apakah ini salah satu karya milik mamah Dinda?


Aku pernah mendengar, tentang mamah Dinda adalah seorang penulis novel dan juga penulis skrip film lokal di provinsi Aceh.


Aku membalikkan kembali novel tersebut, judulnya tercetak jelas dan berukuran sedikit besar.


Agam


Apakah tokoh utama di kisah ini bernamakan Agam?


Atau Agam dalam kosa kata bahasa Aceh?


Mataku melebar, kala aku teringat dengan...


...****************...

__ADS_1


Karena sebuah karya tidak akan pernah lekang oleh waktu 😊


Kita turun dulu ya, nyantai aja dulu 😉


__ADS_2