Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD249. Operasi plastik


__ADS_3

Tawa Raka langsung lepas saja. Ia masuk ke list orang menyebalkan untukku.


"Dosa. Nawarin segala."


Hah?


"Hei, Kinclong! Bukan aku nawarin. Cuma kecium bau-bau laki-laki modus kek kau." ketusku dengan menunjuk wajahnya.


"Huh, sembarangan. Kinclong, kinclong! Ini hasil operasi plastik, Sis. Makanya bagus kek gini." ia mengusap-usap dahinya.


Ia peka juga ternyata.


"Bagus apanya? Lebar betul, kek lapangan bola." ledekku kemudian.


"Aku pernah kecelakaan, tulang kepala retak di atas mata. Luka jahitnya serem, karena sobeknya parah. Aku oplas di hospital Hongkong, cuma buat balikin wajah yang ancur aja."


Benarkah?


Jadi aku telah membully seseorang?


"Ohh, maaf." aku tertunduk merasa bersalah.


"Tak apa. Jadi gimana tentang kau?"


Aku meluruskan pandanganku padanya. ia tengah menatapku, dengan senyum manisnya.


"Aku nikah muda, aku cuma lulusan MA. Aku sempat kuliah, tapi berhenti di semester dua. Aku lebih milih jadi istri orang aja masa itu." akuku kemudian.


Ia manggut-manggut, "Jadi kapan kita nikah?"


Darahku mendidih lagi.


Ini manusia apa sebetulnya? Obrolannya naik turun seperti ini.


"Kau siapa sebetulnya, Raka? Hari itu kau bawa anak. Sekarang, kau ngaku bujangan. Jujur sama aku, kau lurus kah belok?" aku sampai menunjuk-nunjuk dadanya.


"Aku Raka. Aku bujang, belum menikah, tapi memang pernah c*li." aku tertawa lepas mendengar akhir penuturannya, "Terus punyaku lurus, tak belok ke kanan ataupun ke kiri. Tak ke atas atau ke bawah juga, lurus aja normal."


Mataku melotot sempurna.


"Ada apa?" pertanyaan konyol apa itu.


"Aku bukan nanyain batang kau?!" suaraku penuh penekanan.


"Lah, terus?" ia terlihat santai saja.


"Orientasi se*sual kau, Bodoh!"


Aku ingin menggigit lengannya. Aku benar-benar geram padanya.


Ia terkekeh kecil, "Memang aku kek perempuan ya?" ia malah bertanya pula.

__ADS_1


Aku mendengus sebal, "Jujur ya." aku mengacungkan telunjukku.


"Pas awal kita ketemu di toko kosmetik itu, aku kira kau suka sesama jenis. Maaf-maaf." aku menangkupkan kedua tanganku di depan dada, "Kau montok. Kau kinclong, klimis. Kau milih-milih kosmetik." lanjutku kemudian.


Ia hanya tersenyum samar. Lalu ia merogoh kantong jaketnya. Ia menunjukkan layar ponselnya padaku.


"Ini, masa aku sebelum dioperasi."


Setelah ini, sepertinya aku tidak akan doyan makan. Tulang tengkorak bagian dahinya terlihat di foto tersebut.


"Aku jatuh dari motor, karena jalan berlubang parah. Jatuh kan di aspal yang rusak itu, yang krikil dan tanah udah keliatan. Motor aku, masa itu motor kopling. Jadi dia masih jalan, masanya aku jatuh itu. Kesered lah aku dua meteran, terus jadi kek gitu bagian wajah. Ini tuh, aku udah operasi. Tapi daging yang ilang itu, tak bisa tumbuh lagi. Jadi, mau tak mau. Pilihlah aku jalan operasi itu." ia menarik layar ponselnya, ibu jarinya menggulirkan sesuatu.


"Nih, ini foto lama aku sebelum kecelakaan." ia menunjukkan layar ponselnya kembali.


"Ini, masa aku baru pulang dari pondok. Jidat aku, tak begitu jenong kek sekarang. Rambut aku dulunya agak turun, tak begitu jauh dari jidat begini." terangnya kemudian.


Aku mengangguk, lalu aku memandang wajahnya.


"Masalah klimis, kinclong, karena hal itu. Wajah aku dulu penuh jahitan. Jadi, aku ambil jalan itu biar wajah dan kepercayaan diri aku kembali. Tapi, karena tulang kepala retak itu. Sampai sekarang, aku selalu sakit kepala kalau kena air hujan. Sebenarnya sih, kata dokter udah sembuh. Tapi katanya memang sensitif, kalau tulangnya pernah cidera." jelasnya perlahan.


Papah Adi pun demikian. Ia akan merasa sakit pada tulang kakinya, saat ia terkena air hujan. Mungkin, Ghavi pun sama.


"Terus, orientasi se*sual kau?" tanyaku kemudian.


"Aku ngerasanya normal. Aku suka sama perempuan, aku bern*fsu ke perempuan, aku punya minat ke tubuh perempuan." jawabnya kemudian.


"Kalau liat laki-laki gimana?" aku masih belum percaya.


Mesum juga mulut laki-laki ini.


"Tiga bulan? Yang betul aja?!" aku meliriknya sekilas.


"Karena dua puluh lima tahun, adalah umur yang sudah matang sempurna." ia membuat isyarat bulatan dengan tangannya.


"Jalani aja dulu lah. Matang, matang, apanya? Aku tak nampak kematangan dalam diri kau." aku tak kuasa untuk menolaknya.


Ia adalah pilihan mamah Dinda dan papah Adi.


"Kenapa sih?" ia menyipitkan matanya, "Belum move on ya?" tuduhnya kemudian.


"Kau tak pernah jawab, kalau aku tanya masalah anak perempuan itu." ungkapku kemudian.


"Aku tak punya anak, Canda. Main aja deh ke rumah, biar tau anak yang mana. Di rumah, ada beberapa orang juga yang tinggal."


"Okeh." aku menoleh dengan mengacungkan ibu jariku, "Tapi nanti." lanjutku kemudian.


"Jangan kelamaan lah. Nanti-nanti terus. Diajak nikah aja nanti, apa lagi diajak kawin." ia langsung murung dengan berpangku dagu.


"Apa sih kau? Begini kah kalau ke perempuan? Kau ngebet betul keknya." cetusku kemudian.


Ia menoleh, dengan senyum yang seakan-akan dibuat semanis mungkin. Itu tidak mempan untukku. Aku tidak tersepona sama sekali.

__ADS_1


Eh, terpesona lah maksudku.


Aku tidak terpesona sama sekali.


"Wajah kau alim, cantik, bibir kau gemesin, hidung kau ramping, sorot mata kau selalu nunduk." ia tengah merayu rupanya.


"Ya lah. Aku ini ekonomi menengah, lumayan kalau ada uang jatuh. Itu fungsinya kenapa aku selalu nunduk." ketusku cepat.


"Kau kek gini kah ke laki-laki?"


Aku herannya, ia tidak cepat tersinggung lalu mengamuk.


"Tak lah, ke kau aja. Kau nyebelin, bikin aku badmood aja."


Tawanya langsung lepas saja.


"Ya udah, aku pulang ya? Nanti esok atau lusa aku jemput, kau harus main ke rumah aku. Masalahnya aku lupa, anak siapa yang aku bawa masa itu. Jadi aku tak tau, yang kau maksud anakku itu." ia bangkit dari duduknya.


"Ya udah sana pulang. Turun sendiri aja, aku masih pengen duduk di sini."


"Okeh." ia berlalu pergi.


Aku menerawang jauh. Masa iya aku menikah dengan seseorang yang membuat moodku buruk seperti ini?


Apa aku boleh, menuntutnya untuk merubah bentuk tubuhnya?


Tidak gemoy maksudku. Karena ia terlihat seperti, laki-laki bertulang lunak yang pandai berghibah.


Apa memang ia bukan seleraku?


Tapi bagaimana caranya aku menolaknya?


Aku tak enak, jika berterus terang pada mamah Dinda. Kalau memang sebenarnya aku belum bisa melupakan bang Daeng dengan seutuhnya.


Apa lagi, kabar tentang kesehatannya kemarin. Itu cukup membuat pikiranku merumit.


Siapapun pasangan hidupnya sekarang. Setidaknya, bang Daeng harus bahagia dan sehat.


Tak apa, ia jarang menengok Ceysa. Yang penting, ia tahu tumbuh kembang Ceysa.


Katakanlah, aku ingin menjalin hubungan baik dengan manggenya Ceysa. Seperti hubunganku dengan mas Givan.


Aku ingin, kami sering bertukar kabar. Meski hanya topik anak-anak yang kami bahas. Seperti isi chattingku dengan mas Givan.


Key, Chandra dan Zio yang sering jadi pertanyaannya.


Sampai hari ini, aku masih mengunggu manggenya Ceysa menghubungiku lebih dulu. Mungkin, aku akan menjawab pesannya baik-baik. Asal, tentang Ceysa yang ia tanyakan. Jangan tentang hatiku.


...****************...


Jadi, ini Canda move on belum sih? 🙄

__ADS_1


__ADS_2