Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD148. Dipaksa percaya


__ADS_3

"Bisa. Udah coba, Dek. Abang kerja halal, gak neko-neko. Kita nganggur nih di bulan ini, kita nanti cuma dapat gaji aja. Dari gaji Abang, nanti Abang transfer ke Adek. Lah, terus makan kita? Kebutuhan kita? Abang mikir ke situnya, makanya ambil opsi LDR satu minggu ini. Abang sampai geser-geser jadwal. Aturan hari ini masih kerja, jam sebelas malam baru selesai. Tapi Abang geser jadwal, beberapa hari terakhir jam malam Abang minta tambah. Jadi pekerjaan baru selesai jam dua malam, jam lima udah operasi lagi. Untungnya operator alat berat pada mau, jadi Abang bisa pulang lebih awal. Udah coba curigaanya, Abang ini cari nafkah, bukan cari janda. Segitu video call, Abang foto juga kondisi di sana. Masih aja nanya-nanya yang bikin tersinggung."


Aku langsung menunduk, air mataku sudah mengumpul di pelupuk mata. Ia tidak membentakku, tapi ucapannya begitu tegas. Ia pun terlihat marah dari ekspresi yang ia perlihatkan.


Aku takut bertanya jika sudah begini.


"Dengan Abang ambil pilihan buat kita nikah. Itu tandanya Abang udah berani berkomitmen, berani ambil keputusan, berani buat gak main-main lagi. Kalau Abang masih mau check-in sana, check-in sini. Ngapain Abang nikah? Toh bujang lebih bebas masuk kamar manapun. Abang gak mungkin ada yang larang, gak mungkin ada yang nangisin, buat singgah di mana aja. Nikah itu pilihan Abang, Abang udahin main-mainnya karena Abang udah berani bertanggung jawab sekarang. Bukan cuma masalah surga dan neraka, tapi kebutuhan dan perut Adek. Yang ngerti coba, Dek." ia menggenggam tanganku.


Aku sudah terisak tak karuan. Aku seperti membeku, dengan pernyataan yang masih membuatku penasaran. Kenapa sesulit ini menanyakannya langsung? Malah, ia sekarang marah lebih dulu.


"Udah, jangan nangis." ia memelukku dan mengusap-usap punggungku.


"Abang jahat!" suaraku serak dan bergetar hebat.


"Maaf, tapi ini cara Abang buat hidupin Adek. Yang jelas, Abang kerja halal."


"Aku tak mau Abang kerja di sana!" aku memberontak atas pelukannya.


Ia menatapku, aku langsung menunduk karena takut dengan sorot tajamnya. Helaan nafasnya begitu berat. Aku sudah tersedu-sedu, karena penegasannya itu. Bang Daeng tidak menjelaskan, tetapi ia memaksaku untuk percaya padanya.


"Abang gak butuh persetujuan Adek. Abang udah bilang, Abang kerja halal. Gak begini, kapan Abang bisa belikan hunian nyaman buat Adek? Adek kira Abang gak tersiksa nahan kangen? Pengantin baru, di PT. Suplai Nova Scotia, diganggu Raya yang selalu pengen satu kamar. Di PT ini, Abang harus rela waktu Abang tersita. Abang bukan pengen bareng terus sama Adek karena se*snya. Tapi Abang pengen yang begini-begininya. Ada yang nemenin, ada yang ngajakin ngobrol, seneng-seneng bareng, mesra-mesraan di tempat tidur." kalimatnya seperti menggantung, lalu ia membuang nafasnya kasar.


"Ngerti tanggung jawab gak Adek ini?" ia melontarkan pertanyaan yang hanya bisa aku angguki.


"Nah, ini yang lagi Abang usahakan. Seorang suami itu, bertanggung jawab memberikan hunian yang layak dan aman. Adek bisa tuntut itu dari Abang. Abang pernah dapat ceramah tentang itu. Seorang suami wajib memberikan hunian yang layak dan aman, wajib memberikan pakaian yang layak, wajib mendidik dan menafkahi keluarganya. Banyak deh, Abang paham tentang itu. Abang udah tua, udah mau tiga puluh satu tahun. Biar Abang usahakan dari sekarang, mumpung masih punya tenaga yang kuat. Biar tua nanti, kita udah bernaung di hunian yang aman. Biar tua nanti, kita tinggal petik hasilnya, ngerasain masa-masa bersama setiap hari." terangnya kemudian.

__ADS_1


"Kalau ada Putri di antara kita, masa-masa tua kita tak bakal ada." aku berkata begitu lirih, aku takut mendapat bentakan darinya.


"Jadi masalah Putri?"


Aku langsung mengangguk. Yang membuatku curiga, ia hanya diam dan tidak menimpali apapun.


"Abang masih ada hubungan sama Putri?" tanyaku kembali.


Ia menoleh, lalu pandangannya fokus ke arah lain. Ini bukan Daengku. Bang Daeng tidak pernah membuang pandangannya, ketika kami sedang berbicara.


"Gak ada. Kalau memang denger kabar kek gitu. Coba tanyakan langsung ke Abang, coba tanyakan bagaimana Abang ke Putri. Jangan termakan kabar burung di luar sana. Coba tembusin langsung ke Abang." jawabnya begitu lirih.


"Abang kemarin kerja di PT walet. Putri anak pemilik sarang walet." aku harap ia mengerti arah pembicaraanku.


Ia menoleh kembali, tanganku ia genggam begitu erat.


"Pengepul gimana?" aku ingin penjelasan yang lebih terinci.


"Supplier, semacamnya. Jadi pengepul ini ambil dari petani, kek pak Hanung gini. Kita sebut lah kek gitu, biar Adek paham. Nah, terus dari pengepul ini di pasarkan lagi ke berbagai daerah. Nantinya pakai merek mereka. Kek ayam potong aja. Di pasar, ayam potong perkilo lebih murah, tapi dikemas pakai kantong kresek aja. Nah, di supermarket kan ayam potong ada mereknya. Contohnya So Good ayam potong. Ada mereknya, pengemasannya bagus, ada logo halal MUI dan pasti harganya lebih tinggi. Gitu aja sederhananya." jelasnya kemudian.


"Memang cara kerja Abang kemarin sama pak Hanung itu gimana? Apa gak sama?" aku masih ingat bahwa pak Hanung adalah ayahnya Putri.


"Udahlah!" ia memberiku tatapan mematikan.


Aku langsung menunduk, dengan menganggukkan kepalaku samar.

__ADS_1


"Ayo jadi gak ke kliniknya? Kita jalan-jalan, tapi jangan sampai malam. Karena malam nanti, Abang mau dipijit."


Aku langsung menggeleng, aku benar-benar tidak ingin apapun sekarang. Moodku hancur lebur.


"Ck... Diusahakan biayanya, malah gak mau. Ya udahlah, terserah Adek!" ia langsung berpindah tempat.


Aku meliriknya, ternyata ia tengah berada di depan rak play station miliknya. Aku menggulingkan tubuhku ke tempat tidur, lalu memeluk bantal guling dengan menghadap tembok.


Kos ini hanya satu petak ruangan. Jika ada ruangan lain pun, aku ingin bersembunyi dan menenangkan diri di ruangan lainnya saja.


Suara game perang sudah berbunyi. Suka-suka dia sajalah. Ia mengatakan ingin menghabiskan waktu denganku, nyatanya ia menghabiskan waktunya untuk video game itu.


Membuang mas Givan. Yang aku dapatkan, rupanya keras kepala seperti mas Givan juga. Masih untung mas Givan ada tunduknya ke mamah Dinda. Lah, bang Daeng. Ia begitu sulit sekali dinasehati. Ia kekeh dengan pendirian dan pandangannya sendiri.


Kuatkan sabarku, ya Allah.


Lapangkan ikhlasku, ya Allah.


Ternyata seperti ini, jodoh yang kau beri untukku.


Semoga saja, pikiran dan hati bang Daeng terbuka. Aku paham ia tengah mencoba memenuhi tanggung jawabnya. Namun, tak seharusnya ia banyak berdalih seperti tadi. Ngomong ngalor ngidul, membuatku merasa bersalah sendiri atas lontaran pertanyaanku.


Jika disudutkan, ia langsung mengiba. Mencoba memaksaku untuk percaya padanya.


Jika aku ditanya tentang keraguan hati. Jelas aku ragu. Bang Daeng terlihat banyak berbohong tadi dan aku tahu itu.

__ADS_1


...****************...


Bagaimana?


__ADS_2