
"Mah..." aku memandang wajah beliau.
"Kenapa?" mamah Dinda membenahi rambutku yang keluar dari hijab.
"Sejauh ini.... Cuma Lendra yang meratukan aku. Aku ngerasa hidup tanpa aturan dari dia, aku nyaman tinggal sama dia. Otaknya pun, tak melulu se*s. Sama Chandra pun dia urus, Mah. Tapi, Mamah tau sendiri kan tabiat Lendra?"
Mamah Dinda mengangguk, "Yaaa... Mamah doain, yang terbaik buat kau aja. Ya menurut Mamah sih, Lendra udah sadar. Mungkin dia takut mati, entah karena dia udah sadar dari kesalahannya kemarin. Tapi, Dek. Ada perempuan lain di sisinya, namanya Hala Hamidah, dia anaknya orang yang jual ladang ke Lendra."
Jantungku bagaikan terhantam benda tumpul.
Biji mataku pun, mungkin akan segera menggelinding.
"Mamah tau?" suaraku sudah tidak stabil.
Mamah Dinda mengangguk, "Dua kali, atau tiga kali, papah sama Mamah datang ke rumah Lendra yang di Pintu Rame Gayo. Pas yang terakhir ke sana, Mamah itu papasan sama Lendra di jalan. Nah, Lendra lagi boncengan sama si Hala itu dan Jasmine. Kan sekarang, Jasmine pindah ke tangan Lendra."
Apa sih yang terjadi di luar sana?
Kenapa ini seperti puzzle, yang begitu sulit aku susun.
"Gimana ceritanya?" alisku menyatu.
"Panjang deh."
"Ya gimana, Mah?" aku sampai menggoyangkan lengan beliau.
Mamah Dinda menghembuskan nafasnya kasar.
Kemudian beliau melirikku, "Masa Lendra nengok Ceysa sama ayahnya itu. Malamnya kan dia ke rumah Mamah sama ayahnya. Dia situ, dia sungkem, dia minta maaf. Tapi sungkemnya berlutut, terus dia cium tangan Mamah. Karena kan, masa itu Lendra pasca operasi. Dia tak bisa ngerunduk gitu."
__ADS_1
Aku manggut-manggut, "Terus, Mah?" aku begitu penasaran.
Pantas saja, saat mamah Dinda pulang dari SD setelah membawa Ceysa. Mamah Dinda terlihat sudah akrab, saat mengobrol dengan bang Daeng.
"Dia minta izin, buat rujuk sama kau. Dia minta izin, buat buka usaha untuk masa depan Ceysa. Jadi, Lendra ini kek udah bagi waris. Biar anak-anaknya tak rebutan warisan. Usaha distributor ikan air tawar itu, rencananya mau dicap jari sama Chandra. Peti mati itu, mau dicap jari sama Jasmine. Nah, Ceysa ini kebagian ladang sawit. Ikan sama peti mati udah stabil, tinggal ladang ini. Apa lagi Lendra baru pengolahan tanah, terus baru mesen benih. Panen pertama tuh, usia pohon sekitar tiga puluh satu bulan. Tapi kata papah, pakai metode apa gitu, nanti bisa panen usia pohon dua puluh delapan bulan. Usia produktifnya pohon ini, sekitar dua puluh lima tahun. Nah, peremajaan pohon usia tiga puluh tahunan. Cocok, buat masa depannya Ceysa."
Jika sudah membicarakan bisnis, aku seperti manusia yang otaknya kurang segenggam. Aku paham, ini adalah pengetahuan dan hitung-hitung menambah wawasan. Namun, aku benar-benar sulit mengerti.
"Terus gimana, Mah?
Kalau bisa, aku mau skip cerita tentang ladang ini. Aku tidak mengerti pembenihan dan masa panen.
"Yaaa.... Entahlah. Masalah rujuk, itu terserah kau sama Lendra. Tapi Lendra bilang, kau diajakin rujuk, langsung nolak aja. Ya mungkin, dia sekarang berpikirnya cari yang cepat buat nikah. Karena Jasmine ikut sama dia. Dia butuh pernikahan, buat akte kelahirannya Jasmine. Makanya... Mungkin Lendra dekat sama perempuan di sana itu, karena pengen kasih akte kelahiran buat Jasmine."
Beginikah patah hati?
Apa aku terlalu serakah kemarin?
"Kenapa Jasmine bisa ikut Lendra? Mamah mikir tak sih? Kalau Lendra ini, kek egois gitu. Tinggal nikah aja sama Putri tuh, sampai dibuat ribet betul."
Aku masih tidak habis pikir, kenapa bang Daeng memilih enggan untuk menikah dengan Putri.
"Ini sih menurut alasannya Lendra ya. Yang pertama, Putri ini jiwa pemimpin. Laki-laki ini lebih suka jadi pemimpin, ketimbang dipimpin. Yang kedua, Lendra tak cinta sama Putri. Yang ketiga, lebih banyak debat ketimbang ngertiin keadaan sama Putri. Logikanya, kalau memang Putri pantas. Keknya, tak ribut terus sama Givan. Orang yang tak disiplin kek Lendra aja, dia enggan sama Putri. Apa lagi orang yang penuh aturan dan disiplin kek Givan. Givan itu tak pernah mau diatur orang loh, dia yang lebih suka ngatur-ngatur. Kau ngerasain sendiri kan? Lima tahun sama Givan dan aturan hidupnya?"
Aku menganggukkan kepala beberapa kali.
"Yang terakhir, Lendra ada masalah sama keluarga Putri. Tapi, Lendra tak mau cerita ke Mamah." mamah Dinda mengucek matanya.
"Ya memang, perempuan itu dari tulang rusuk yang bengkok. Tak ada yang sempurna, tapi selalu ada yang cocok dan terbaik untuk diri kita sendiri. Mungkin, Putri bukan porsi untuk Lendra dan Givan. Entah gimana nantinya, Mamah juga masih nunggu cerita dari Givan."
__ADS_1
Benar sekali. Apa lagi aku, aku tipe perempuan yang berat tangan dan malas. Tapi, aku akan selalu mengutamakan dan mengusahakan untuk kelangsungan hidup anak-anakku.
Meski dulu aku kenyang perintah dari mas Givan. Tapi, aku tidak pernah membantah perintah darinya. Aku selalu menyanggupi dan mengiyakannya, karena aku berpikir, bahwa itulah salah satu kewajiban istri.
"Masih bingung, Mah." aku menerawang jauh.
"Sama, Mamah bingung dengan hubungan Putri sama Givan. Gimana endingnya gitu? Mana Jasmine udah sama Lendra kan? Aturan kan, Givan udah tak ada alasan lagi buat nikahin Putri. Tapi yang bikin Mamah tambah bingung, kenapa Jasmine bisa sama Lendra? Kan, yang mau nikah ini Putri sama Givan. Mungkin Lendra ambil Jasmine, biar Givan jadi nikah sama Putri. Tapi, kan tujuan Putri nikah kan untuk keperluan akte kelahiran Jasmine. Kok malah Jasminenya dipindah tangan ke bapaknya, yang entah pengen nikah lagi tak. Jadi bikin bingung sendiri gitu, Dek. Ini mereka gimana maunya." mamah Dinda menggaruk pelan pelipisnya.
"He'em, Mah. Aku jadi ikut mikirinnya aja." tambahku kemudian.
"Kau nanti coba tanya aja ke Lendranya langsung. Mamah tak berani nanya terlalu jauh, kalau Lendranya tak cerita sendiri. Sejauh ini, Mamah papah sama Lendra tuh cuma ngobrolin ladang dan ngarahin tentang berladang aja. Untuk masalah intern Lendra, Mamah sama papah tak berani campur tangan. Dia bukan siapa-siapa Mamah, tapi dia orang yang mau mikirin masa depan cucu Mamah, makanya Mamah sama papah bantu."
Mereka orang baik. Jadi ini alasan terbesar mereka, untuk mau membantu bang Daeng?
"Tapi komunikasi lancar, Mah?" tanyaku kemudian.
"Tak juga." mamah Dinda melirikku sekilas, lalu ia memandang lurus ke depan kembali.
"Kalau dia tak tau step pengolahan tanah selanjutnya, dia hubungi papah atau Mamah. Terus, ya Mamah sama papah datang ke sana."
"Bener tak sih dia sekarang, Mah? Kok aku khawatir, nama papah dipakai untuk kepentingan pribadinya. Kata mas Givan juga, usaha Lendra ini di sana cepat stabil. Jadi pasti pakai cara licik. Karena kalau melalui step aman kek mas Givan, kan prosesnya lama. Gitu kata mas Givan, Mah." aku ragu jika bang Daeng insaf.
Karena, licik itu pilihan orang tersebut. Ada jalan yang jarak tempuhnya jauh, tapi orang tersebut lebih mengambil jalan pintas yang lebih cepat, meski resikonya dikejar begal dan jalanan rusak.
"Eummm..." mamah Dinda merubah posisi duduknya.
Beliau terlihat begitu serius sekarang.
"Untuk peti kemas, dia ngakunya itu adalah usaha kakeknya. Jadi, PT milik Lendra ini cuma jadi distributor resminya aja. Bukan pengusaha peti matinya. Jadi, mungkin cepat stabil karena dia cuma distributor. Terus, untuk ikan air tawar. Dia......
__ADS_1
...****************...
Gantung terus 😑 jumlah katanya banyak juga, rasanya kurang tuntas aja 😌