Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD66. Iseng


__ADS_3

"Hmm? Apa?" pandangan mata kami bertemu.


"Jangan terlalu dekat." ucapku lirih.


"Biar Abang hapus rasanya. Mungkin kau tak bisa tidur karena ini." aku tak mengerti maksud ucapannya.


Tangan yang tadi berada di atas perutku, sekarang sudah berada di bagian rahang bawahku. Ia mengunci pergerakan leherku, membuatku tetap menghadap padanya.


Mataku membulat sempurna, bang Daeng sungguh keterlaluan!


Bahkan, bunyi kec*pannya sampai terdengar jelas di sepinya malam ini.


Aku bergumam, mencoba mengingatkannya bahwa aku tidak nyaman beradu bibir seperti ini.


Ternyata ia mengerti, bang Daeng melepaskan p*gutannya. Ia begitu seksi, saat lidahnya membasahi bibirnya yang penuh dengan saliva kami.


Aku melirik sekilas, kala ibu jarinya terulur untuk mengusap saliva yang tersisa di bibirku.


"Tidur!" pintanya lirih, matanya pun terpejam.


Aku tidak bisa santai, saat laki-laki bertato leher seperti Tora Sudiro ini begitu mengekang pergerakanku. Apa lagi, tindakannya barusan membuat kewarasanku kolaps.


Tangannya kembali lagi ke atas perutku, satu kakinya naik untuk membelenggu kakiku. Ia ingin aku umur panjang, tapi caranya membuatku sesak nafas.


"Jangan liatin muka Abang aja! Merem! Istirahat!" pintanya begitu lembut, suaranya pun cenderung lemah.


Benar-benar tingkah laki-laki ini.


Ia tidak bisa ditebak sama sekali.


Tangannya masuk ke dalam bajuku. Ia mer*mas pelan perutku yang pernah mengembang ini, lalu ia mengusap-usapnya lembut.


Bagaimana aku bisa tidur? Saat ia aktif beraktivitas seperti ini.


"Serum bibir kau mahal, Abang bayar senilai dua ratus ribu. Dengan mudahnya, kau diam aja dik*cup papahnya Chandra. Bukannya kau yang minta cerai kemarin? Tapi kenapa masih doyan aja? Abang gak butuh penjelasan. Tapi Abang sakit hati, tau kau begitu murahnya untuk papahnya Chandra. Abang udah minta, jaga diri kau. Tapi kau... Malah bikin kecewa!"


Apa kak Raya mengatakannya pada bang Daeng? Tentang aku yang berciuman dengan Ghifar siang tadi?


Pasti kak Raya pun salah paham tadi, karena Ghifar mengatakan bahwa dirinya adalah papahnya Chandra. Membuat keadaan seperti ini. Bang Daeng menuduhku dengan menyebut papahnya Chandra.


"Jangan dipikirkan! Tidur!" pintanya kembali, saat aku tengah memikirkan hal ini.


"Ya, Bang." aku berusaha memejamkan mataku.


Namun, aku malah dibuat merinding. Sentuhannya kian menjadi-jadi. Merambat naik, menghitung jumlah tulang rusukku bagian bawah. Lalu, tangan itu turun kembali saat bertabrakan dengan gundukan yang tak aku kenakan wadahnya.


Aku terbiasa tak mengenakan kemasan pabrik ASI pada malam hari.


Ia membuang kasar nafasnya, meluncur lembut masuk ke telingaku.


Telinga ini, adalah bagian sensitif untuk perempuan. Sontak saja, tindakan ringannya itu membuat leherku tak stabil.

__ADS_1


Aku mencoba menggerakkan kepalaku, karena bang Daeng malah terus bernafas tepat di telingaku.


"Abang ngapain sih?!" aku benar-benar sudah terpancing karena tindakannya.


"Lagi tidur." ia menggeser sedikit tubuhnya, lalu ia menatapku dengan alis terangkat.


"Kenapa kau gelisah kek gitu?" tangannya enyah dari atas perutku.


"Gak bisa aku ditiup-tiup gitu. Malah tak bisa tidur aku, tangan Abang tak mau diam." aku memeluk bantal di atas dadaku.


"Sang*k?"


Aku menoleh, saat kata itu keluar.


"Bodoh!" untuk pertama kali aku memakinya.


Sialan bang Daeng ini!


Terdengar kekehan gelinya, lalu ia menarikku lagi dalam pelukannya.


"Orang lagi elus-elus. Abang kasih nyaman, biar ngantuk." tangannya kembali masuk ke dalam bajuku, mengusap langsung kulit perutku.


"Kau bukan elus-elus! Tapi kau gr*pe-gr*pe!" aku memunggunginya, dalam posisi ia masih memeluk tubuhku.


"Begini nih kalau gre*e."


Tangan yang tadi di perutnya, kini langsung menangkup pabrik ASI milik Chandra. Ia mengusap lembut, kemudian memainkan benda kenyal itu.


"Abang!"


"Abang!!!"


Suaraku meninggi lepas. Aku tidak terima dengan tindakannya.


Lebih-lebih, aku merasa his*apan kuat di leherku. Sepertinya, ia tengah membuat tanda kepemilikan di sana.


"Abang!!!!" tubuhku berontak, mencoba melepaskan pelukannya.


"Lendra!" bentak kak Raya, dengan menghidupkan lampu kamar ini.


Bang Daeng tertawa puas, lalu ia bangkit melepaskanku.


"Gurau, Ya." ia menyugar rambutnya ke belakang, dengan memperhatikan kak Raya yang menatap dirinya tajam.


"Bercanda kau gak asik, Len. Kau bilang sendiri, Canda punya trauma pemer*osaan." seru kak Raya, dengan dirinya merebahkan tubuh kembali ke atas sofa dekat jendela.


Aku membenahi pakaianku, memeluk erat guling di atasku. Dari ujung mataku, aku bisa melihat bang Daeng tengah termenung dengan mengacak-acak rambutnya.


"Maaf, Dek." bang Daeng kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Jangan nangis." tangan sialan itu melingkar kembali di perutku.

__ADS_1


"Rese kali!!!" aku memukul tangannya yang masih setia di atas perutku.


"Memang rese orangnya. Maaf ya?"


Apakah itu pengakuan?


Atau, agar aku memaklumi segala kelakuannya?


"Tidur, Len! Besok jam tujuh udah ada janji." peringatan keras datang dari kak Raya.


"Ok, Ya." bang Daeng melepaskan tangannya dari atas perutku.


Aku meliriknya sekilas, terlihat bang Daeng tengah memunggungiku.


Syukurlah, setidaknya orang rese itu tak menggangguku lagi.


~


"Abang mau ke Pontianak lepas ini. Tapi ada arahan tambahan, ada rapat sama petinggi PT. Sekalian antar kau, sekalian urus perputaran tugas kau sama Sari."


Kami tengah berjalan buru-buru di area dalam bandara ini. Setengah jam lagi, pesawat yang kami tumpangi akan take off.


"Ke Jambi dulu berarti kita?" kak Raya tengah menarik dua koper, satu miliknya dan satu lagi milik bang Daeng.


"Iya, ambil mobil."


Aku sampai terseret-seret, karena langkah kaki mereka begitu lebar.


Ya, kak Raya adalah perempuan bertubuh tinggi. Langkah kakinya begitu lebar, dikarenakan kakinya yang panjang. Namun, tubuhnya tidak sebesar Kinasya. Ia cenderung ramping, memiliki dada dan part belakang yang biasa saja. Mungkin karena ia aktif bekerja, tidak sempat untuk olahraga sejenak. Jika berada di hotel, kak Raya malah asik video call dengan kekasihnya.


Sedangkan bang Daeng, yang sering usil padaku ini. Ia selalu melakukan peregangan dan latihan ringan untuk ototnya, meski hanya sekedar sit up dan push up. Ia mengatakan, masa otot mempengaruhi penampilannya. Ia pun mengatakan, ia harus terlihat berwibawa dan tegas. Agar klien segan dan tak mempermainkannya.


Susu tinggi protein pun, rutin dikonsumsinya. Ia tidak pemilih makanan, tapi menunya harus ada daging-dagingan dan sayur hijau. Sedikit paham kenapa ia gampang kehabisan uang. Karena, sekali makan ia bisa mengeluarkan dana sekitar tiga ratus ribu.


Jika aku masih bersama mas Givan, uang tiga ratus ia berikan untuk jatahku satu minggu. Berbeda dengan bang Daeng ini, ia royal jika mengenai makanan. Aku bekerja padanya, tak pernah kelaparan. Bahkan, jika tengah malam kami masih membahas tentang tugas-tugas kami. Ia memesan makanan lagi, untuk diantar ke hotel tempat kami tinggal. Ia paling tidak bisa kelaparan, karena dirinya sendiri jika kelaparan langsung gemetaran. Padahal tubuhnya kokoh, tetapi bang Daeng bisa selemah itu ketika telat makan.


"Penutup telinga anti tekanan ada gak ya di online shop? Makin ke sini kok, makin sering naik pesawat. Perasaan, drop betul badan kalau abis naik pesawat." curhat bang Daeng, ketika kami sudah bersiap di dalam pesawat.


Jika ada yang mendengarnya pun, sepertinya ia akan tertawa tertahan. Untuk menjaga perasaan preman bertato leher ini, agar ia tidak tersinggung.


"Naik mobil kelamaan pun kau sakit, Len. Kau gagah orangnya aja, perjalanan jauh kau langsung drop. Dari linu tulang lah, nyeri panggul lah, sakit otot lah, mual, muntah, pusing, kunang-kunangan, udah macam mamak-mamak hamil." hanya kak Raya yang berani meledeknya begitu jatuh.


Bang Daeng mengh*sap bibir bagian bawahnya. Mungkin ia tengah dilanda malu sekarang.


"Jadi pengen hamilin mamak-mamak." tiba-tiba bola matanya tertuju ke arahku.


Sejurus kemudian, matanya berkedip begitu genit.


"Astaghfirullah.....


...****************...

__ADS_1


Lendra gimana sihhhh 🤣


__ADS_2