Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD259. Kuah beulangong


__ADS_3

"Kau sering chatting sama dia?" tanya mamah Dinda.


"Tak, Mah. Itu Lendra baru chat." aku jujur mengenai ini.


"Tengok di rumah aja. Jangan terlalu lama, jangan dibawa pergi Ceysanya."


Alhamdulillah.


"Boleh, Mah?" sepertinya mataku berbinar-binar sekarang.


Mamah Dinda mengangguk, "Boleh, nengok aja." jelas beliau.


"Tapi perkenalan kau sama Raka berlanjut kan?"


Aku kaku sekarang.


"Mah... Kan hari itu kita pernah ngobrol. Aku keberatan kalau sepuluh anak." aku tidak berbicara langsung pada intinya.


"Iya, Mamah pun udah nembusin langsung ke ibunya Raka. Dia cuma diam aja."


"Jadi aku sama dia gimana, Mah?" aku ragu mengenai ini.


Papah Adi mengacungkan telunjuknya, "Kau yang setengah hati sama dia ya?"


Aku menunduk, aku tak ingin menjawabnya. Aku takut mereka tersinggung.


"Hmm... Suka dia sama yang jelek-jelek. Lendra gitu contohnya. Mana mau dia sama model rumahan kek Raka." itu adalah suara papah Adi.


"Tak mau kah sama dia? Mau yang hitam-hitam?" mamah Dinda mencolek lenganku.


"Yaaaa... Kalau bisa sih, orang sinian aja." mayoritas orang sini adalah berkulit hitam manis. Tapi banyak dari mereka, adalah pekerja kasaran.


"Ya udah, kalau Raka tak ada kabar lagi. Kita udahin aja perkenalan sama dia. Nanti cari orang sini aja." terang mamah Dinda.


Aku menegakkan pandanganku kembali. Aku sampai deg-degan, kala papah Adi menatapku begitu intens.


"Memang, kami tak ada hak. Tapi, kok rasa-rasanya, kau ini mentok di Lendra aja. Dari sikap kau, pembahasan tentang Lendra." ucap beliau kemudian.


"Tak begitu, Pah. Masalah Lendra, aku cuma pengen Ceysa tau bahwa Lendra ini ayahnya. Ya setidaknya, setahun sekali nengok dia gitu. Masalah pendamping hidup, tak masalah anak rumahan kek Raka. Tapi aku mulai setengah hati, masa dia minta sepuluh keturunan. Ditambah lagi, mas Givan ada bilang, kalau Raka ini anak mami. Kalau bisa, orang sinian aja. Tak apa pekerja kasar pun, yang penting dia tak banyak nuntut, bertanggung jawab juga."


"Kek Zuhdi gitu maksud kau?" ujar papah Adi.


"Yaaa... Bukan kek Zuhdi juga. Yang kek mas Givan juga tak apa." sahutku kemudian.


Namun, mereka malah terkekeh geli.


"Mau cari sendiri? Tapi jangan sampai hamil duluan ya?"

__ADS_1


Cepat-cepat, aku menoleh ke arah mamah Dinda.


"Cari gimana, Mah?" aku bingung di sini.


"Ya bergaul gitu. Ngobrol ke tetangga, atau main ke Giska sana. Kan banyak pemuda, nanti kau bisa kenal sama mereka." ungkap mamah Dinda, dengan mengusap kue yang belepotan di mulut Ceysa.


"Tau belum caranya biar tak hamil?" tanya papah Adi.


Mamah Dinda sudah tertawa renyah saja.


"Ini sih bukan ngajarin kau buat zina. Tapi, misal kejadian tanpa kau kehendaki. Minta laki-laki kau, buat buang cairannya itu di luar. Di perut, di dada, di muka, suka-suka kau lah." tukas mamah Dinda.


Sekarang, giliran papah Adi yang terbahak-bahak.


"Kalau bablas, kau langsung minum pil lovonergestrel. Itu pil KB darurat, dijual bebas di apotek." lanjut mamah Dinda.


"Satu lagi, Dek. Kalau bisa, cari bujang."


Papah Adi melempar plastik bekas kerupuk yang sudah direm*s, "Itu sih selera Adek."


Tawa mamah Dinda begitu renyah, "Memang kenapa lah? Enak bujang kok, aku tak perlu ngasih makan anak tiri."


Papah Adi cekikikan, "Nyatanya ngasih makan anak tiri juga."


Oh iya, aku baru ingat jika Icut adalah anak tiri mamah Dinda.


"Lendra yang statusnya bujang aja, ternyata punya anak dua." aku menimbrungi percakapan mereka.


"Alambara sama Jasmine ya, Dek?" aku langsung mengangguki pertanyaan mamah Dinda tersebut.


"Tapi Abang tak habis pikir." papah Adi seperti tengah menerawang jauh, "Tau pacarnya hamil, melahirkan, punya keturunan dari dia. Kok bisa-bisanya dia tak mau nikahin?" papah Adi baru menoleh ke arahku.


"Lendra tuh katanya baru ngerasain jatuh cinta sama aku, Pah. Dia nikah, karena cinta." aku berpendapat sendiri.


Papah Adi mengerutkan keningnya, ia masih seperti terheran-heran.


"Udah jangan jauh-jauh mikirnya. Waktu Maya ngandung aja, gimana keputusan Abang masa itu?" mamah Dinda menepuk pundak suaminya.


Untungnya, anak-anakku anteng dengan kuenya. Jadi kami lancar mengobrol.


"Iya sih, Abang pun milih tak tanggung jawab. Tapi di situ kan, karena Abang ragu. Masa iya hamil anak Abang? Buktinya, Abang mampu bikin Adek hamil aja setelah nikah dua bulan. Berartikan, kehamilan itu tandanya tak instan. Masa itu, Abang cari laki-laki yang mau sama Maya. Giliran laki-lakinya dapat, Abang tetap ditarik juga." ujar papah Adi dengan mengusap mulutnya.


"Berarti Lendra punya alasan untuk itu juga, Bang."


Mamah Dinda kadang-kadang pro terhadap bang Daeng, tapi kadang-kadang terlalu menyudutkan bang Daeng juga.


"Yung, mumu." Ceysa sampai monyong-monyong.

__ADS_1


"Minum?" tanyaku yang langsung diangguki olehnya, "Bentar ya? Biyung ambil dulu." aku bangkit, lalu berjalan ke arah dapur.


"Pulang lah dulu kau, Dek. Barangkali ibu atau Ria mau makan." seru mamah Dinda.


"Ya, Mah." aku berjalan kembali dengan segelas air putih.


"Chat aja Lendranya. Boleh nengok, tapi tak boleh dibawa pergi. Yang tau waktu gitu." ujar beliau, saat aku tengah membantu Ceysa minum dari gelas.


Ceysa cukup beruntung, meski ia memiliki nasib sama seperti kakaknya. Saat berusia satu tahun, Chandra harus aku bawa keluar rumah, karena perpisahan dengan ayahnya itu. Kali ini terjadi lagi dengan nasib Ceysa. Hanya saja, Ceysa kini memiliki rumah berteduh bagian dari kakaknya itu.


"Ya, Mah. Aku bawa balik dulu makanannya, makasih."


Aku mengajak Chandra untuk bangkit, "Pulang dulu ayo, Bang." ajakku padanya.


Alisnya langsung menyatu, ia masih saja seperti ini.


"Abang main Nenek." ia melirik neneknya.


"Udah sana, nanti gampang Mamah anter kalau nangis. Chandra sih anteng, yang penting ada mainan, ada makanan."


"Ya, Mah." aku menggandeng tangan Ceysa.


"Jalan, Dek." pintaku pada anak yang mirip manggenya ini.


Ceysa mengangguk, ia memasukkan lagi makanan ke mulutnya. Kaki kecilnya mulai melangkah perlahan.


Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti. Tubuhnya berputar ke belakang, "Bang." ia melambaikan tangannya pada kakaknya.


Chandra menggeleng, "Abang dak pulang."


Ceysa mengangguk, ia berputar dan melangkah kembali.


"Uhh, dasar Unyil Ceysa." seru papah Adi dengan tertawa lepas.


Perawakan Ceysa cukup imut. Badannya tidak gemuk berisi, tetapi badannya cukup padat. Ia pun tidak terlalu tinggi, masa ia dilahirkan saja hanya sekitar empat puluh enam sentimeter.


Tapi di usianya sembilan bulan, ia sudah bisa menopang tubuhnya. Hanya saja, ia tidak berani melangkah. Saat usia sebelas bulan, ia sudah bisa menggunakan kakinya untuk melangkah. Kosa kata pun, ia miliki. Gigi juga sudah tumbuh sebanyak enam buah.


Rambutnya hitam, lebat dan tebal. Seperti rambut Jasmine. Juga mungkin, seperti rambut milik manggenya.


Aku menghela nafasku, melihat seseorang yang tersenyum di luar pagar.


Tahu ada dia, aku malah enggan untuk pulang dari rumah mamah Dinda.


...****************...


Udah ditungguin aja 🤭 siapa yaaaaa 🤔

__ADS_1


__ADS_2