
"Dari mana kau?"
Aku mendapat teguran yang tidak bersahabat. Aku kira ia pergi ke mana, ternyata ia ada di rumah orang tuanya.
"Dari sana." aku melewati begitu saja.
Bagiku sekarang. Yang terpenting, aku ingin menangis dulu. Itu membuatku cukup bisa menguasai diriku sendiri.
Brughhhh....
Aku tidak sadar, menutup pintu kamar terlalu kuat.
"Gotong kamar kau, Canda! Tapi jangan rusak pintu Papah!" suara papah Adi bagai geledek.
Aku baru ingat, jika beliau tidak suka barang-barangnya dirusak. Apalagi dijual.
Aku lebih memilih langsung tengkurap, dengan menyembunyikan wajahku di bantal. Aku melelehkan, apa yang membuat hatiku kaku tadi.
Aku janji setelah menangis, moodku akan jauh lebih baik.
Ceklek.....
Kleb.....
Aku lupa mengunci pintunya.
"Kau dari mana?" pertanyaan itu terdengar datar.
Aku engga menjawab, karena pasti ketahuan kalau aku tengah menangis.
"KAU DARI MANA, CANDA?"
Isakanku langsung terdengar, kala suara meninggi itu menggema.
Hatiku diremukan dengan meningginya suaranya.
"Huh....." helaan nafasnya terdengar begitu memburu.
"Tak mau jawab juga?!" aku merasakan sisi tempat tidur, di mana aku berada sedikit bergoyang.
"Siapa yang bikin kau nangis?"
Apakah bisa aku menjawab itu?
Apa harus aku katakan, bahwa dia yang membuatku menangis.
Baru saja merasa diratukan selama beberapa hari. Ternyata, terbuka sudah kedok si rajaku ini.
__ADS_1
Pesanku saja pada pembaca novelku ini. Tolong, milikilah usaha kecil-kecilan. Untuk membahagiakan dirimu sendiri, untuk meratukan dirimu sendiri.
Karena kita tidak tahu raja apa yang datang untuk kita. Jika kalian mendapatkan raja Fir'aun sepertiku, aku yakin diary kalian akan penuh dengan segala aduanmu.
Belum lagi jika ditambah dengan mertua julid. Aku doakan, semoga kalian masih waras.
"Sesusah itu kah buat jawab, Canda?!" suaranya terdengar menakutkan.
Aku bangkit dari posisiku, aku memandangnya dengan getir sembari memeluk bantal yang penuh dengan air mata ini.
"Lebih baik kita jadi partner orang tua yang baik aja, Mas. Biarkan aku balik ke ruko aku, dengan usaha kecil aku yang aku pegang sendiri."
Aku memilih untuk membebaskannya.
Jika memang ia akan hidup dengan dunianya sendiri, aku pun bisa melakukannya.
Ia menyatukan alisnya dengan sorot tajam, "MAKSUD KAU APA?!
Aku sampai tersentak karena suaranya.
Aku tidak biasa lagi seperti ini. Aku takut dengannya.
"Kau pernah tawarkan itu waktu kita di Pulau Weh."
"Kau, Canda? Suamimu ini disebut kau ya?" ia memperjelas setiap katanya.
Ok, sepertinya aku akan memulai dengan sebutan itu.
"Iya! Kau pernah tawarkan itu. Hari ini, aku milih buat ambil opsi itu."
Jika kalian bertanya apa alasannya?
Jujur, aku tersinggung dengan teka-teki pilihannya. Aku barang murah dan juga aku wanita yang paling dekat dengan anak-anaknya.
Ia tidak akan sayang untuk membuang barang murah ini.
Wajahnya berubah menyeramkan. Ia tidak terlihat tampan sama sekali.
"Begitu kah? Ghifar lagi kah? Atau laki-laki yang kau temui di rumah Giska pagi tadi?"
Aku memandang matanya dengan keberanian yang tersisa, "Aku tak pernah sedikitpun mikirin laki-laki lain, Mas. Tapi nyatanya apa coba? Aku cuma wanita, yang kau anggap barang murah dan fleksibel. Di pikiran kau itu, cuma anak-anak yang kau beratkan. Kau ragu jadikan Putri ibu dari anak-anak kau, makanya kau tarik aku."
"Oh, Putri?" ia berdiri dari posisinya.
Ia bertolak pinggang, dengan kaki yang memutar beberapa kali posisi tubuhnya.
Ia mengusap wajahnya kasar. Lalu, telunjuknya mengarah padaku.
__ADS_1
"NYATANYA KAU PUN SAMA KAN? KAU JANGAN MANGKIR, CANDA. KAU PUN BERAT DENGAN ANAK KAU. KITA SAMA-SAMA ADA ANAK, YANG KITA PIKIRKAN TENTANG KEDEPANNYA."
Ini juga benar.
Aku akan mencari otakku.
Aku sulit mencerna dan melemparkan semua hasil pemikiranku padanya.
"KAU PIKIRKAN CEYSA, KAU PIKIRKAN CHANDRA. AKU PUN PUNYA PIKIRAN KE DARAH DAGING AKU SENDIRI. KITA SAMA, CANDA!!!" lanjutnya kemudian.
"Kalau memang kau sesali aku campuri, karena denger bagaimana mesumnya aku sama Putri kemarin. Jangan bawa-bawa anak-anak, untuk kau ambil keputusan bahwa kau lebih milih jadi partner orang tua yang baik. Aku udah jujur dari awal, bahkan aku ceritakan sedikit keluhan aku tentang kelam*n aku. Aku tak ngaku bersih, aku tak ngaku suci dan kau tau itu. Apa karena kau dengar aku begini-begitu ke Putri, lantas kau langsung berpikir kita untuk sendiri-sendiri? Udah telat, Canda!" mas Givan geleng-geleng kepala, "Kau terlambat ambil keputusan itu. Karena, kalau aku bermasalah atau mengidap sesuatu. Kau udah tertular dari suami kau yang siang tadi berji*ak dengan kau."
Merambat.
Aku menggeleng, "Ini tak ada sangkut pautnya dengan hubungan itu." aku membuang nafasku perlahan, "Aku tersinggung, Mas. Aku akui, aku ini bodoh. Tapi tidak dengan harga diri aku. Pikir aku, mahar itu tergantung bagaimana kemampuan laki-lakinya. Nyatanya, laki-laki aku milihnya dia yang maharnya paling rendah."
Dahinya mengekerut, nafasnya bagaikan banteng yang akan diadu ketajaman tanduknya.
"Sebaik-baiknya perempuan itu, mereka yang tidak meninggikan maharnya. Saat kau dipilih dan dimuliakan, Canda. Kau malah bahas dan tersinggung dengan mahar yang kau minta sendiri??? Bukannya, masa pernikahan pertama kita pun. Dari pihak kau yang nentuin maharnya, bukan aku ngasih sendiri?"
Apa aku bersalah di sini?
"Kau jangan buat aku bingung ya, Canda! Kau limpahkan masalah ke aku, yang tak jelas titik masalahnya. Kau minta mahar dengan ladang, tapi kau yang tersinggung sendiri. Berbicara kenyataan pun, rasanya memang kita masing-masing milih nikah karena kepentingan anak-anak juga. Kenapa, seolah aku yang salah dan egois di sini?" mas Givan duduk di tepian tempat tidur, tetapi membelakangi posisisku.
"Untuk masalah aku dan Putri, tak ada sangkut pautnya dengan hubungan kita. Aku dan dia putus, satu bulan lebih sebelum kita nikah."
Nah ini.
"Kalaupun memang masalah aku dan Putri belum selesai, kami tak ada bawa-bawa nama kau. Ini murni masalah nama baik dan keuangan aja. Aku bisa bereskan itu sendiri, tanpa bantuan dari kau." nada suaranya sudah mulai stabil.
Aku mengusap air mataku, kemudian menarik air hidungku.
"Ya udah, aku pulang ke ibu sampai masalah kau dan Putri selesai."
Kepalanya langsung berputar, dengan urat-urat leher yang mengencang.
Telunjuknya bergerak bagaikan sebuah isyarat peringatan, "Kau jangan bikin aku ngucapin kalimat keramat tak langsung lagi, Canda. Kita baru nikah sekitar dua minggu, jangan bikin nama baik orang tua aku tercoreng karena sikap kau ini!"
Talak maksudnya.
"Kan kau yang bilang mau bereskan sendiri tanpa campur tangan aku. Ya udah, datanglah kalau memang masalah yang tak mau aku campuri itu, udah kau selesaikan." kakiku menginjak lantai, kemudian aku bergerak ke arah pintu kamar.
Aku akan pulang ke ibuku.
...****************...
Jangankan Givan, Author pun rasanya pengen cekik Canda 🤣
__ADS_1