Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD288. Ghibah bersama Giska


__ADS_3

"Kau tiap hari begini terus, Giska?" tanyaku dengan terheran-heran.


Ia menggeleng, ia melirikku sekilas. Lalu ia sibuk mengunyah dan menelan makanannya lagi.


"Tak juga sih. Kadang ngemil yang pedes juga. Ada tappoki instan juga, yang di minimarket itu nah. Aku pesen salak pliek juga sih, tapi besok diantarnya. Nanti ke sini aja ya?"


Apa isi otaknya?


"Maksud aku, aktivitas kau." jelasku kemudian.


Lantas, aku langsung memperhatikan aktivitas anak-anak lagi. Hadi asik dengan dunianya sendiri, Ceysa pun anteng dengan mainan yang menarik perhatiannya.


"Ohh..." ia cekikikan sendiri.


"Iyalah. Aku urus sarapan, ya memang sih beli. Karena aku bangun jam setengah enam, langsung buru-buru mandi, terus sholat. Jam enam lebih, aku keluar rumah, beli sarapan. Bang Adi sibuk giling cucian. Pokoknya sebelum dia berangkat kerja itu, biasanya dia udah jemur baju. Aku balik ke rumah, biasanya Hadi udah bangun, lagi ditimang bang Adi. Terus sarapan bareng, sekalian nyuapin Hadi. Abis sarapan, nyantai, main HP. Nanti jam delapanan, barulah aku beli sayur. Udah, beli aja. Kadang keasikan main sama Hadi, jadi males masak. Paling aku nyempetin nyapu, sama lap-lap aja. Kalau belum masak kan, nanti jam setengah dua belas siang, aku beli lauk, buat makan siang bang Adi. Kadang sempat masak itu sore, abis bangun tidur siang. Lepas mandi, sholat ashar, biasa kita keliling kampung motor-motoran."


Sesederhana itu bahagianya?

__ADS_1


Ia bahkan sampai tersenyum lebar, saat menceritakan aktivitasnya.


"Bang Adi tak bawel soalnya, Canda. Jadi aku betah hidup di rumah yang beda betul sama rumah mamah di sana. Malah lebih bebas gitu, karena tak melulu diteriakin mamah sama papah. Tapi ya... Kadang kangen juga sama orang tua. Padahal, setiap saat bisa ketemu." ia seperti memandang kosong.


Aku manggut-manggut, "Enak ya? Pikiran kek plong gitu." tambahku kemudian.


Giska mengangguk. Ia menoleh ke arahku, "Tapi tetap aja, mertua recok, ipar tukang komen. Rumah tangga tuh, tak ada yang mulus mujur beneran deh." ia memasukkan lagi makanannya ke mulutnya.


Aku mengerutkan keningku.


Mertua recok?


Bukannya mereka begitu menyayangi Giska ya?


"Memang keluarga bang Ardi gimana?" tanyaku kemudian.


Keluarga bang Ardi, adalah keluarga Zuhdi juga.

__ADS_1


Giska menoleh sekilas, lalu pandangannya tertuju pada aktivitas anaknya lagi.


Ia melambaikan tangannya. Sesi gosip dimulai.


Bibirnya sudah mengriting, "Ma itu..." Giska memainkan jemarinya seperti bermain piano.


"Kenapa ma memang? tanyaku kemudian.


"Recok, abu juga. Urus sih urus, kek anak sendiri. Tapi tuh kalau main, komen aja. Apa mereka tak tau ya? Kalau cucunya kek belut digaramin gitu. Aku sih udah biasa aja ya, liat Hadi naik turun loncat-loncat gitu. Tapi, ma heboh aja kalau Hadi naik-turun kursi. Naik-naik ke ranjang gitu, dibentak-bentak lah si Hadi. Aku tak suka, Canda. Kalau anak aku dimarahin orang. Mamah Dinda aja, kek santuy aja punya cucu-cucu perusak tembok tuh. Ya memang, mereka khawatir, mungkin takut Hadi jatuh. Tapi ya, sok gitu diangkat sendiri Hadinya. Tak perlu gitu teriak-teriak, biar Hadi mau ngerti. Apa lagi sampai seru-seru manggil nama aku, cuma buat ngasih tau kalau Hadi naik-naik ke kursi. Pas malam minggu kemarin aja, aku biarin Hadi dibawa nginep mereka. Nyata kan, minggu sorenya ma minta dianterin ke dokter, karena tengkuknya kaku. Udah tuh, ma pasti darah tingginya kambuh, kena mental, ngadepin cucunya yang katanya paling pinter itu." Giska menunjuk anaknya dengan dagunya.


Aku malah tertawa geli. Ya ampun, Giska selelah itu mengurus anaknya rupanya.


"Terus sih?" tanyaku kemudian.


...****************...


Oh, tujuannya ke Giska ini mau galih informasi tentang calon mertua 🤭

__ADS_1


__ADS_2