
"Gimana menurut kau?" tanya mamah Dinda yang duduk di sampingku.
"Gemoy. Aku kek.... Kurang tertantang gitu loh, Mah." aku menerawang jauh.
Pasti ia orangnya manut-manut saja. Pasti ia selalu serius jika diajak mengobrol.
"Lendra bukan tandingan kau. Givan yang jinak-jinak merpati aja, kau tak bisa jinakkan dia. Terus siapa? Ghifar gitu? Jangan cari masalah." papah Adi nyerocos saja. Ia malah membawa-bawa nama Ghifar kembali.
"Ya mungkin.... Memang perlu kenal." ujarku kemudian.
Aku tidak boleh terlalu awal memutuskan.
"Kalau Mamah juga, memang tak tertantang kalau dapat yang gemoy gitu. Bukan gemoy juga sih disebutnya, tapi kek alim terlalu alim gitu. Tapi jangan disangka, Canda. Pembunuh itu, biasanya jarang yang gagah. Yang gemoy, cungkring gitu, biasanya kalau pembunuh itu." ujaran mamah Dinda membuatku melongo.
Papah Adi melempar tutup toples pada istrinya, "Kek komplotan mafia, malah cari pembunuh. Carilah suami yang baik dan benar."
Aku dan mamah Dinda terkekeh geli.
"Aku balik ya, Mah. Barangkali toko ramai, kasian ibu sama Ria."
Aku kini sudah terbiasa mengasuh tiga anak. Siapa anak satu lagi? Tentu saja Zio, anak yang sering ditindas oleh Chandra. Chandra cengeng saja, bisa menindas Zio. Mungkin karena ukuran badan yang berbeda, jadi Zio selalu kalah.
Aku juga sekarang bisa melayani pembeli di toko. Aku memiliki alat bantu, untuk membawa galon dan gas. Jadi, tidak perlu susah-susah menggotongnya. Aku hanya perlu memindahkan barang tersebut, dia atas kereta penarik.
Chandra pun, pernah nyungseb di kereta itu gara-gara Ria. Entahlah, bibi macam apa Ria ini.
"Sana ceritain ke ibu kau." seru mamah Dinda, saat aku berlalu.
"Ya, Mah." aku menyahuti tanpa menoleh.
Ghifar tengah berada di Cirebon, bersama Kinasya dan anak-anak mereka. Ceritanya, mereka tengah berkunjung ke om Haris. Mereka sudah satu minggu berada di sana.
"Kak.... Beli gas." ibu hamil yang satu ini, sudah bermandikan keringat saja.
"Mana gasnya?" aku hanya melihat Winda berjalan sendirian.
Ia cengengesan, "Di rumah, Kak. Biar nanti siang bang Ghava antar tabung kosongnya. Aku tak kuat bawanya."
"Ada tarikan itu." aku menunjuk alat yang tengah dipakai Ria.
Kami berjalan bersama menuju ruko.
"Ribet lah, enak nyuruh bang Ghava aja."
Aku tertawa geli, mendengar jawaban Winda.
Ia tengah mengandung anak pertama mereka. Winda sekarang lebih gemuk, juga lebih sering dimarahi mamah Dinda. Masalahnya satu, ia selalu mengikuti Ghava bekerja.
__ADS_1
"Yang pink apa biru?" tanyaku kemudian.
"Pink, Kak. Nih uangnya." kami sudah sampai di ruko.
Aku dibantu dengan Ria, memindahkan gas berwarna pink ini. Kemudian, Ria membawakan gas itu sampai ke rumah Winda.
"Yung...." Zio menyerukanku.
"Bentar, Dek."
Zio sudah berusia dua tahun lebih. Ia tumbuh, dengan postur badan yang cenderung tinggi dan kurus.
"Ain... Ain..." sepertinya teriakan Zio dari lantai dua.
"Bentar, Dek. Biyung jaga toko dulu, nunggu tante Ria datang." tumpukan gas ini, memang tersusun di bawah tangga.
Sepertinya Zio berada di tralis yang mirip besi tahanan penjara itu. Ia melihatku, yang tengah beraktivitas di bawah sini.
"Assalamualaikum...."
Biasanya pembeli langsung berteriak "Beli." Bukan assalamualaikum seperti ini.
"Ya, wa'alaikum salam." sahutku cepat.
"Mangge Yusuf?" aku terbelalak melihat kehadiran beliau.
Aku langsung menunduk, untuk mencium tangannya. Lalu, aku mempersilahkan beliau duduk di kursi panjang yang terdapat di teras rukoku.
"Pengen nengok anaknya Lendra. Sebentar aja. Mumpung Mangge lagi lewat di dekat sini." ujarnya kemudian.
"Mangge tau aku tinggal di sini?" aku menyediakan air mineral kemasan gelas, yang tersedia di samping kursi panjang ini.
Jika tengah bermain di luar, anak-anak selalu minta minum. Membuatku membukakan satu dus air mineral ini, untuk stok minum mereka ketika bermain.
"Lendra pernah kasih alamat lengkapnya, Mangge pernah diminta untuk nengok kalian sama Lendra. Mana anaknya, Canda? Mangge gak bisa lama di sini, soalnya masih ada kerjaan."
Aku mengangguk, kemudian berlalu ke lantai atas. Ceysa ada di sana, ia tengah makan biskuit bayi bersama ibu saat aku pamit untuk menuruti mamah Dinda tadi.
Aku membuka tralis pintu ini. Acak-acakan, tidak ada kerapihan. Chandra tengah tidur-tiduran di atas bantal, dengan kaki menendang tubuh Zio yang merebahkan tubuhnya di dekat kakaknya itu. Mereka sepertinya kelelahan bermain.
"Ceysa mana, Bu?" tanyaku pada ibu, yang tengah duduk dengan menonton televisi.
"Tuh..." ibu menunjuk kipas angin stand.
"Astaghfirullah..." aku tersentak, melihat anak perempuan itu yang tengah memeluk kipas angin.
"Ngapain kau, Nak?" aku menghampirinya, kemudian menarik tubuhnya.
__ADS_1
"Manjat pohon kelapa. Udah, suka-suka Inces aja. Rewel, teriak-teriak aja dikasih taunya." gerutu ibu yang membuatku terkekeh.
Anak Lendra ini, sungguh aktif dan rewel. Ia hanya pandai berteriak saja sampai saat ini.
"Awas Chandra, Bu. Ada bapaknya Lendra di bawah, mau nengok cucunya."
"Hah?" ia seperti tidak mencerna kalimatku.
"Ada kakeknya Ceysa, mau nengok sebentar katanya." aku berkata dengan berlalu pergi.
Aku mengunci kembali tralis besi ini, kemudian menuruni tangga dengan berhati-hati.
Ceysa, namanya. Tapi ibu suka memanggilnya, Inces. Berbeda dengan mas Givan, ia lebih latah menyebutkan Ces. Ria apalagi, ia selalu meledek Ceysa dengan sebutan Eces.
Aku bisa melihat mangge Yusuf tengah memperhatikan Ria yang tengah sibuk mengisi galon.
"Mbak, pihak A*ce kirimnya hari kamis katanya. On time kamis pokoknya, meski stok eskrim Mbak udah habis juga." lapor Ria dari jarak jauh.
"Ya udah." sahutku seperlunya.
"Hai, Kakek. Ini Ceysa." aku mengajari anakku berdada ria pada kakeknya.
Aku bisa melihat netra mangge yang begitu bahagia, bisa melihat cucunya.
"Mangge pengen gendong Ceysa, boleh?" beliau menggulirkan pandangannya padaku.
Aku mengangguk samar, "Agak rewel dia, Mangge. Langsung nyaring aja bunyinya, kalau dia tak nyaman sama orang." ujarku menaruh Ceysa di pangkuan kakeknya itu.
"Hai, Nak. Sehat-sehat, Nak. Cepatlah besar, jenguk mangge kau. Dia sakit, Nak."
Hah?
"Bang Lendra sakit apa, Mangge?" tanyaku kemudian.
"Usus buntu. Kemarin, dia operasi di Singapore. Doain mangge cepet pulih ya, Nak. Biar bisa tengok Adek Ceysa yang cantik lagi." mangge Yusuf mencium pipi Ceysa.
Ia meluruskan pandangannya padaku, "Maafin Lendra, kalau dia punya salah ya Canda. Kalau memang umurnya sampai di sini, doain dia semoga dapat tempat yang terbaik di sana. Kalau memang umurnya dipanjangkan, semoga hidup Lendra setelah ini jauh lebih baik dan jadi pribadi yang lebih berguna." ia berbicara dengan suara yang bergetar.
Aku jadi ikut sedihnya saja.
"Jadi Mangge datang, buat nyampaiin kabar buruk ini? Gimana kondisi bang Lendra sekarang?" aku tidak menangis, tapi air mataku memang sudah bocor.
"Ini inisiatif Mangge sendiri. Katanya masih belum sadar. Takut kalau denger tentang operasi begini, temen-temen Mangge ada yang meninggal setelah dioperasi. Ya memang, mungkin udah takdir. Tapi pikiran Mangge udah semrawut. Mau nengok Lendra di sana, tak tau meski ke mana. Mangge tak tau, Lendra Singapore-nya di mana." ungkap beliau.
"Di mobil, banyak barang-barang yang Lendra kirim ke rumah. Tapi buat......
...****************...
__ADS_1
Ditunggu jam tiga sore... Baru juga tadi bilang karma kecil, eh udah sampai aja.. cepet betul ya 😣 kek santet 😩