Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD345. Drama CD


__ADS_3

Aku mengagumi sosok ayahnya Chandra ini. Diam dengan sorot yang serius seperti ini, ia terlihat begitu mempesona. Pantas saja, Chandra tumbuh menjadi cucu paling ganteng di antara cucu lainnya.


"Aku colok juga mata kau, Canda!"


Aku langsung memalingkan pandanganku, melihat jalanan yang cukup ramai.


Setelah sepuluh hari aku di rumah sakit. Aku dinyatakan stabil dan boleh pulang, dengan ketentuan cek up yang harus berulang.


Aku dijemput oleh si cuek ayahnya Chandra, yang dari urat wajahnya ia terlihat tengah memendam kekesalan. Karena biasanya, mas Givan tidak seperti ini jika moodnya tengah bagus.


"Mas...." aku sebenarnya takut memanggil namanya.


"Hmm." sedatar itu ayahnya Chandra.


"Mas tadi pagi ngapain? Sampai aku nungguin Mas di depan poli umum."


Mas Givan datang sejak pagi untuk menjemputku. Namun, saat ia sudah siap mengurus dokumen untuk kepulanganku dari rumah sakit. Mas Givan malah pergi entah ke mana, dengan memintaku menunggu di depan poli umum saja. Karena tempat itu dekat dengan parkiran.


"Cek darah pas sebelum ke kamar kau. Terus pas nyuruh kau nunggu, aku lagi minta hasilnya."


Aku melirik ke arahnya. Lalu memilih menjadikannya sebagai fokusku.


"Udah dibaca hasilnya, Mas?" tanyaku kemudian.


Ia mengangguk, "Masih aman, masih sehat. Ketar-ketir, tak bisa tidur beberapa hari. Gara-gara di bagian bawah biji itu gatal, takutnya penyakit k*l*min."


Jadi ia memiliki ketakutan juga mengenai masa depannya?


"Terus, apa kata dokter tentang gatal-gatal kau itu Mas?"


Ia menoleh sekilas padaku, lalu kendaraan roda empat ini tiba-tiba menepi.


"Lembab. Ya, gatal-gatal biasa. Karena CD kurang bersih, bisa juga telat ganti." ia menjeda kalimatnya, "Jangan cerita ke orang-orang ya? Aku malu."


Tapi ia malah bercerita padaku.


Apa ia tak malu?


Apa ia tak berpikir, bahwa aku bisa saja mengejeknya.


Aku mengangguk menyanggupi keinginannya, "Terus dapat obat? Atau gimana?"


"Ya, dapat salep, dapat obat juga." ia menunjukkan kantong plastik berwarna putih dari saku jaketnya.


Aku menerima obat tersebut, saat mas Givan mengulurkannya. Meski tidak mengerti, aku melihat-lihat isi obat tersebut seperti reflek manusia pada umumnya.

__ADS_1


"Kau tak pernah pakai pengamanan kah, Mas? Sampai-sampai, kau curiga bahwa kau kena penyakit k*l*min." aku memberikan kembali obat tersebut.


"Dulu sebelum nikah sama kau. Memang jarang pakai pengaman, karena yang aku pakai pun barang pabrikan. Terakhir juga sama Ai, yang jelas perawan dan bersih. Jadi dulu, tak pernah kepikiran kena penyakit itu, mana kan tak ada gejala apapun." ia membuang nafasnya gusar, "Sejak duda sih, rutin pakai pengaman. Karena, males bikin masalah, apa lagi karena perempuannya hamil. Trauma sama cerita nikahan aku sama Nadya. Cuma sama Putri ini, beberapa kali kadang nyerobot aja, masa aku belum pakai pengaman. Mana kan, Putri bukan perawan. Dia pasti bekas orang, pernah melakukan hubungan dengan orang lain. Jadi langsung panik, pas di bawah biji gatal itu."


Aku manggut-manggut mengerti. Yang jelas, aku sudah tidak kaget dengan tabiat mas Givan si penjahat k*l*min ini.


"Liat hasil cek darah tadi?"


Aku bingung ingin menanyakan hal apa lagi.


Mas Givan merogoh saku lain dari jaketnya. Lalu, ia memberikan kertas yang sudah terlipat-lipat itu. Lantas, aku langsung membuka perlahan kertas tersebut karena takut sobek.


Kembali lagi, aku tidak mengerti bacaan di sini. Tapi, memang tidak ada yang mencurigakan.


"Tapi darah aku tinggi. Padahal, bukan keturunan langsung dari papah Adi." suaranya menurun menyedihkan.


Aku terkekeh geli mendengarnya. Lalu, aku menepuk pundaknya. Mas Givan melirikku, dengan ekspresi yang masih sedih itu.


"Nanti aku rebusin daun seledri ya?" aku mencoba membangkitkan semangatnya.


Namun, ia malah memandang lurus dengan tatapan kosong.


"Tapi... Benarkah aku kena darah tinggi?" mas Givan mengusap tengkuknya, "Tak kaku leher, tak sakit kepala juga. Minum manis, hampir tak pernah, karena tak ada yang nyediain. Kopi pun, tak tentu. Tak pasti setiap hari. Makan masakan asin, jelas gak pernah lagi." mas Givan melirikku saat kalimat terakhirnya.


Aku tersinggung.


"Maksud Mas, masakan aku dulu selalu asin?" mungkin wajahku sedikit nyolot sekarang.


"Yaaa... Memang. Buktinya, kau aja jarang makan masakan sendiri. Apa lagi kalau tak ada racun, atau memang rasanya tak pas. Aku sih cuma bisa menghargai, dibuatin, ya dimakan." ia menjelaskan hal itu begitu enteng.


"Buktinya kau sehat!"


"Ya memang, karena masakannya polos rasa, cuma kuat garam aja. Entah dikasih atau tak itu semacam mecin, penyedap rasa." ia menjawab seperti menggerutu.


Aku mendengus sebal. Lalu bersedekap tangan, dengan memandang lurus ke depan.


"Lain kali, aku campurkan juga racun ke makanan kau!" aku menggerutu di sini.


"Oh, bisa. Siap-siap ngandung lagi aja!" mobil perlahan naik kembali ke atas aspal.


Apa hubungannya racun dengan kehamilan?


Jika memang aku meracuninya lebih dulu. Ia pasti mati lebih awal, sebelum mampu menghamiliku.


Apa-apaan juga ini? Aku kan akan rujuk dengan bang Daeng, kenapa ia sampai berani menghamiliku?

__ADS_1


Geram betul rasanya, pada duda tiga anak itu.


"Belikan CD, yang bahannya adem nyerap itu. Kau yang turun, aku kasih uangnya. Aku malu beli sendiri." ujarnya, saat beberapa saat senyap dengan kehebohan pikiranku sendiri.


"Yang mahal itu?" aku teringat harga ce*ana d*l*mnya, seharga satu hari jatah belanjaku.


Perbuah, seharga lima puluh ribu. Itu pun, dalam acara diskon besar-besaran karena perayaan tahun baru di salah satu swalayan besar. Untuk membeli c*lana da*amku sendiri, seharga tiga puluh lima ribu perbuah, aku berpikir seribu kali. Alhasil, aku lebih memilih ****** ***** seharga sepuluh ribu tiga. Agar keluarga kecilku, tetap bisa makan.


Mobil berhenti kembali karena berada di lampu merah, "Yang berapa sih mahal tuh?" ia menoleh memperhatikanku.


"Yang waktu ke Suz*ya cuma beli CD punya Mas tiga biji itu." aku mengingatkan kembali masa yang pernah kita lewati.


Masa memuakkan, karena aku yang selalu berkorban dan mengalah.


Ia memanyunkan bibirnya dengan rapat, "Lima puluh ribu dibilang mahal." ia menarik celana jeans-nya ke bawah, pada bagian yang melekat di pinggangnya.


Terlihat karet dari segitiga yang ia kenakan itu, "Ini tiga ratus ribu, satu biji. Standar, malah cepat sobek bagian belakangnya." lanjutnya kemudian.


Aku memalingkan wajahku sebal.


Memang seperti itu CD miliknya sejak dulu. Entah barang bagus, atau barang murah. CD miliknya, akan selalu sobek dan menipis di bagian belakang. Ibu-ibu pasti pernah mengalami hal serupa, di mana CD suaminya sobek di bagian belakang.


"Itu sih, karena kau BAB keluarnya sajam." aku meliriknya sekilas dengan sorot tajam.


Namun, mas Givan malah tertawa lepas.


Tinnnnn.....


Kendaraan mulai berjalan kembali.


"Karet kolornya masih bagus, kain bagian belakang udah tak berbentuk. Sampai dijahit, ditambal kain." ia tertawa geli, "Ya ampun, untung letaknya di belakang, ditambah ketutupan celana lagi. Jadi tak malu-malu betul." tawanya kembali menggema.


Ya, aku pernah melakukan hal itu pada CD miliknya.


Saking tak mampu beli. Sedangkan, tidak ada barang yang layak dipakai lagi. Sampai-sampai, aku berinisiatif menjahitnya dengan tangan dan menambahkan kain jarik yang aku potong sesuai ukuran.


"Ya makanya jangan ajak aku sengsara lagi. Masih bersyukur cuma s*mvak yang aku tambal, belum kemeja kau, celana jeans kau."


Ia malah tergelak begitu renyah.


"Insyaallah."


Tiba-tiba, punggung tanganku digenggamnya begitu hangat.


"Makanya kita rujuk aja. Ekonomi aku udah aman, meski banyak hutang di mamah. Tapi, aku bakal cicil hutang itu. Kau tak akan terbebani hutang itu, karena itu masuknya hutang perusahaan ke usahanya mamah. Hutang tertulis, angsuran yang ditarik otomatis dari pihak mamah ke perusahaan aku. Dari pada kau jualan seblak, nanti sakit lagi. Lebih baik, sakit karena ngurusin aku aja. Jaminan surga, karena udah mampu mengabdi ke suami yang sifatnya kek aku."

__ADS_1


...****************...


😱 bagaimana dong


__ADS_2