Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD170. Disidang


__ADS_3

"Dek... Sakit kah?"


Aku membuka mataku perlahan. Aku merasakan tangan seseorang berada di jidatku.


Mamah Dinda.


"Tak, Mah." aku hanya mengantuk, aku malu jika mengakui bahwa aku mengantuk.


Aku bangkit, lalu menggulung rambutku asal.


"Eh, Dek."


Aku menoleh cepat ke arah mamah Dinda.


"Ini, baru?"


Aku mengerutkan keningku. Aku tidak paham dengan maksud beliau.


"Rambut, Mah? Udah lima hari yang lalu dimodel begini." karena pertanyaan mamah Dinda keluar, saat aku tengah menggulung rambut.


"Bukan. Ini loh! Kau janda kan? Tak bersuami kan sekarang?"


Aku kebingungan dengan maksud beliau.


"Berapa lama kau nginap sama Ghifar?"


Hah?


Aku baru paham sekarang.


Aku langsung meraih ponselku, lalu mengaktifkan kamera depan.


Kan?


Kan?


Kan?


Benar saja!


Ghifar membubuhkan tanda merah di leherku. Harusnya aku paham, jika keluarga ini memang menyukai cap kepemilikan.


Mas Givan pun selalu memberikan tanda ini dulu.


"Pagi tadi ketemuan di lampu merah kampus, Mah." aku menutupi tanda itu dengan tanganku.


Aku melirik mamah Dinda, yang tengah duduk di tepian ranjang ini. Ia terlibat masih memperhatikanku begitu lekat.


"Ck... Ghifar bilang dari beberapa hari yang lalu. Ghifar bisa bohong ke istrinya, tapi tak bisa bohong ke Mamah."


Mampus, Canda.


Aku harus paham, jika mamah Dinda orang cerdas.


"Anu, Mah." aku mendadak gagu.

__ADS_1


"Meski keliatan diem, Ghifar ini tetap laki-laki. Kau jangan ambil resiko besar. Karena apapun yang terjadi nanti, kau yang bakal rugi. Karena Ghifar punya istri, beda ceritanya kalau dia sendiri." nada suaranya lembut, aku paham mamah Dinda tengah menasehatiku.


"Baru kan tanda itu? Udah, jangan bohong lagi."


Aku hanya bisa mengangguk lemah.


Terdengar mamah Dinda menghela nafasnya kasar, "Cuci muka dulu gih! Terus makan nih."


Kamar ini juga, dilengkapi dengan kamar mandi pribadi.


Aku mengangguk, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Saat aku keluar dari kamar mandi. Terlihat mamah Dinda tengah duduk di sofa santai, dengan menonton televisi.


"Makan dulu, Dek." pintanya kemudian.


Aku mengangguk, lalu meraih nampan yang ada di atas nakas dekat ranjang.


Ada nasi dengan lauknya. Ada gelas tinggi berisi air putih, ada juga sebuah kapsul di atas piring kecil.


"Itu multivitamin dan mineral. Kata papah kau mabok kendaraan, muntah di jalan depan. Diminum, biar keadaan kau cepet fit."


Mamah Dinda tetap seperti ini. Hanya saja, dulu bersembunyi dari mas Givan. Mas Givan tidak menyukai, jika aku dikasihani oleh keluarganya.


Aku membawa nampan itu, kemudian aku duduk di samping mamah Dinda. Sesekali ia bermain ponselnya, lalu ia fokus kembali pada televisi. Aku pun bersantap dalam diam.


Dari cita rasanya, ini seperti masakan mamah Dinda. Aku yakin dan masih ingat dengan rasa ini.


Udang yang begitu mulus, karena dibersihkan begitu bersih hingga tersisa dagingnya saja dengan bumbu yang begitu berlimpah. Tumis biasa, hanya saja sepertinya ini ditambahkan saos tiram. Ditambah lagi, tumis kacang panjang dan wortel, dihiasi beberapa cabai rawit utuh menambah selera.


Pelengkap lainnya, ada perkedel kelapa parut dengan rasa ketumbar yang cukup kuat. Hanya di rumah ini aku merasakan perkedel kelapa. Entah mamah Dinda resep dari mana. Kelapa parut ini tidak ambyar, saat dimakan pun.


Ceklek....


Aku menoleh ke arah pintu.


Papah Adi muncul dari sana, dengan kaos yang tersampir di bahunya. Aku menunduk malu, karena aku masih belum mengenakan hijab.


"Biasa aja keles! Memang Papah kakek-kakek pedofil kah?" ucap papah Adi, dengan duduk di sofa single, yang dekat dengan mamah Dinda.


Terdengar suara kekehan geli dari mamah Dinda, "Jadi selera Abang sekarang nenek-nenek kah?"


"Dari dulu seleranya masih sama. Perawan harga mati. Tapi kalau tak ada kali, bolehlah nenek-nenek satu cucu gitu. Jangan kebanyakan gini, udah pecah di mulut rasanya." mereka tertawa geli bersama.


Oh, jadi papah Adi selalu mencari wanita yang perawan. Aku baru tahu sekarang.


"Perawan tak dapat, nenek-nenek banyak cucu kek Ane pun lumayan lah Bang." mamah Dinda menunjuk dirinya sendiri, terdengar mereka masih tertawa bersama.


Jika aku sudah mewek-mewek, kalau membicarakan tentang selera suami. Apa lagi, jika seleranya tidak ada padaku sama sekali.


Aku langsung menelan multivitamin ini, setelah aku selesai makan. Kapsul berwarna oranye ini, begitu terasa manis di lidah.


"Udah makannya, Dek?" tanya mamah Dinda dengan menyentuh lenganku.


Aku mengangguk, lalu sedikit menyerongkan posisi dudukku. Aku bisa melihat mamah Dinda dan papah Adi dengan jelas. Kaos pun, masih bertengger di bahu tangguh papah Adi. Entah apa alasannya, laki-laki suka sekali bertelanjang dada.

__ADS_1


"Jadi dari kapan cerai? Mamah tak berani langsung nanya ke Nadya. Kasian, pasca sesar. Takut stress, jahitan pecah, terus baby blues, tambah repot lagi nanti kita."


Oh, jadi maksud dari kedatangan mamah dan papah ke kamar ternyata untuk menyidangku.


"Dari Giska hamil dua bulan. Awalnya, mas Givan itu reuni sama kawan-kawannya ke Medan. Aku udah curiga itu, Mah. Apa lagi, dia kata reuninya di hotel. Tau sendiri aku dulu gimana, aku tak berani ngelarang mas Givan. Dia janji juga, besok sore dia balik, tapi sampai lewat tiga hari dia tak balik. Balik-balik itu, dia diantar Nadya dengan keadaan kepala mas Givan yang bocor." terangku jujur.


"Bentar-bentar." papah Adi bangkit, lalu ia pergi dengan mengenakan kaosnya.


"Coba pakailah hijab kau!" aku mengangguk.


Aku menaruh bekas makanku di nakas kembali, lalu aku meraih hijabku untuk aku kenakan.


"Sini!" mamah Dinda menepuk tempat di sebelahnya.


Aku mengangguk samar, kemudian duduk di sampingnya.


"Masalah Ghifar tadi, itu biar jadi urusan kita aja. Jangan sampai bocor, jangan sampai kau cerita ke ibu kau, takutnya malah makin runyam ini masalah. Yang jelas, mamah sekarang minta kejelasan dulu. Masalah Ghifar, biar kita bahas lain waktu." ungkap mamah Dinda dengan menepuk-nepuk bahuku.


"Iya, Mah."


Mamah pasti tahu tabiat Kinasya yang ringan tangan dalam arti lain.


"Kenapa, Mah?" aku mengikuti arah pandangan beliau.


Aku menoleh cepat, pada orang-orang yang baru masuk ke kamar. Itu mas Givan dan juga papah Adi.


Aduh, bagaimana ini?


Aku memainkan jariku tak beraturan.


Aku takut.


Pasti ia akan membentak.


Pasti aku tak bisa membela diri.


Namun, tiba-tiba mamah Dinda menangkup jemariku.


"Jangan takut. Tinggal jawab yang terjadi masa itu. Jawab, jangan minta maaf." bisik mamah Dinda lirih.


Aku mengangguk, lalu memandang dua orang laki-laki yang baru duduk.


Kini, mas Givan yang duduk di sofa single. Papah Adi duduk di samping mamah Dinda, posisi mamah Dinda diapit olehku dan papah Adi.


"Mamah jotos juga kau!!!" mamah Dinda menatap geram anaknya.


"Iya, Mah. Maaf. Aku kan udah minta maaf sama Mamah." sudah kuduga, tuturnya selalu selembut ini pada ibunya.


"Papah aja tak berani loh, Van. Bisa-bisanya adik-adik kau juga malah berusaha nutup-nutupin." tegas papah Adi kemudian.


"Aku tak kong kalikong sama mereka. Tiba-tiba Mamah nelpon itu, nanya Canda gimana ngidamnya. Ya udah, aku ikut permainan mereka aja. Toh, bohong pun buat kebaikan Mamah sama Papah." mas Givan terlihat seperti anak-anak, jika dihadapkan dengan kedua orang tuanya.


"Jadi reuni alumni itu berapa hari, Van?"


tanya mamah Dinda kemudian.

__ADS_1


...****************...


Besok gak nanggung-nanggung lagi 😘


__ADS_2