
Srupppppphhhh....
"Hmmmm....."
Aku familiar dengan bunyi-bunyian seperti ini.
"Bang, Chandra... Nanti, Bang." aku khawatir kegiatan mesum itu terlihat oleh mata polos Chandra.
"Nek... Engkek... Au. Bang au uweh." Chandra nyeruntul masuk ke ruang tamu, dengan menengadahkan tangannya.
"Hei, Bang. Bang Chandra..." aku berusaha mencandak anak itu.
Saat aku mulai melangkah masuk, terlihat mamah Dinda buru-buru menegakan punggungnya. Sedangkan papah Adi, ia malah mengusap bagian mulutnya.
Aku berpikir, tadi adalah mas Givan dan Putri. Ternyata....
Raja dan ratu di rumah ini.
Sungguh, ini di luar dugaanku.
"Au, Bang au." Chandra masih menengadahkan tangannya pada mamah Dinda.
"Mau apa, Bang?" mamah Dinda mengangkat tubuh Chandra.
"Nek mam, Engkek mam. Bang au."
Aku paham ini.
Aku tertawa tertahan. Aku baru paham, isi pikiran anakku.
Di pikiran polos anakku, nenek dan kakeknya tengah makan sesuatu saat beradu mulut tadi.
Duh, bagaimana cara menjelaskannya?
"Kakek tak lagi makan, Bang." papah Adi mengusap wajahnya.
Aku yakin, dekheman nikmat tadi adalah suara papah Adi. Suaranya seperti laki-laki, serak dan berat.
"Engkek mam, Nek mam." Chandra memasukkan jarinya ke mulutnya.
"Memang Abang makan apa tadi?" tanya mamah Dinda kemudian.
"Ihhh..." papah Adi menatap mamah Dinda begitu kaget, "Adek yang ngapain tadi? Bisanya nanya Abang makan apa?" papah Adi menaruh bantal sofa di atas pangkuannya.
Aku sudah dewasa, Everybody. Aku paham, ada ketegakan yang harus ditutupi.
Mamah Dinda tertawa geli. Ia geleng-geleng kepala.
"Yuk, cari mam di dapur. Bang Chandra mau mam apa?"
Aku mengekori mamah Dinda, dengan mencangklek tas milik Chandra yang memiliki karakter jerapah. Aku pura-pura tidak melihat papah Adi yang tengah gelisah di atas sofa itu.
Aduh, pasti kegiatan mereka terganggu karena kehadiran cucu baperannya ini. Aku jadi merasa malu sendiri.
"Yayah.... Yayah...." Chandra memanggil ayahnya, saat melewati kamar ayahnya.
"Yayah bobo, Bang." ujar mamah Dinda.
"Ke, ek Ke." ini adalah panggilan Chandra untuk kakaknya.
__ADS_1
"Bang Chandra speech delay tak sih? Masa udah dua tahun, masih ek Ke aja manggilnya. Kak Key gitu, bisa tak?" mamah Dinda menahan pipi Chandra, agar menghadap wajahnya.
"Ca, Ke.." seru Chandra begitu lantang.
Akhirnya, kami sampai di dapur.
"Kak Key, bukan Key aja." tutur mamah Dinda.
"Mah... Aku seminggu kemarin, tidur di kamar terus sama Mamah. Sekarang, aku sama Chandra tidur di mana?" tanyaku kemudian.
Aku teringat, akan diriku yang diminta stay di sini sampai aku bisa menghandle untuk mengurus anak-anakku sendiri.
"Di atas tak apa. Key sama kak Ifa kan di atas. Fira bilang juga tuh, dia numpang nginep satu malam. Putri juga lagi di atas sama Zio, dia bilang mau nginep tiga hari. Kau di kamar dekat tangga aja. Key, Zio, Jasmine sama kak Ifa biar di kamar anak-anak. Putri, Fira bisa nempatin kamar Ghifar sama Ghavi dulu. Mau di bawah, Givan masih stay di sini. Mamah belum beli kasur lagi sih. Jadi kamar tamu, masih belum bisa dipakai." beliau membiarkan Chandra mengambil beberapa snack secara acak.
"Ya udah deh. Yang penting aku jangan sama Mamah lagi. Kasian papahnya." ucapku malu.
Mamah Dinda mendelik ke arahku, "Memang kenapa papah? Papah sih laki-laki, bisa tidur di mana aja." ujarnya kemudian.
"Ya, kan. Mana tau rindu." sahutku dengan terkekeh pelan.
"Kau ini!" mamah Dinda geleng-geleng kepala.
Tapi, dengan tindakan tadi yang mamah Dinda menyosor duluan. Berarti tandanya, mamah Dinda lah yang rindu suaminya.
"Ehh, Dek. Kau di kamar Giska aja. Jahitan kau belum sembuh. Pasti nyeri, kalau naik turun tangga. Giska jarang main ini. Zuhdinya lagi sibuk." tukas beliau kemudian.
"Iya sih, Mah. Tadi naik ke kamar aku, ke lantai tiga, perasaan jahitan tak nyaman betul pas dibawa duduk."
"Iya, makanya. Udah di kamar Giska aja. Kan sebelahan tuh sama kamar mamah."
Aku hanya mengangguk, kemudian aku berlalu pergi dari dapur. Karena, Chandra masih memilih makanan di dapur.
Aku menaruh kasur bayi di atas karpet, lalu menggeletakan Ceysa di sana. Ia langsung menggeliat, kemudian meluruskan tangan dan kakinya yang berhiaskan perhiasan dari Ghifar.
"Wehh...."
Aku menoleh ke arah dapur. Chandra muncul dari sana dengan membawa banyak snack dan makanan ringan.
"Nek... Ayo...." Chandra masih menunggu seseorang yang berada di dapur tersebut.
"Iya, Bang." Chandra baru mulai berjalan, ketika mamah Dinda sudah muncul.
Tidak mengerti lagi aku pada Chandra. Semakin besar, ia semakin mirip dengan mas Givan. Bahkan cara berjalannya saja, persis seperti mas Givan. Ditambah lagi, cukuran rambutnya sama dengan ayahnya.
Ia malah berbelok ke pintu kamar ayahnya.
Tok.... Dughhh....
"Yayah... Ipan... Uwehhhh.... Oluuuuu...." seru Chandra, yang langsung dicegah mamah Dinda.
"Jangan, Bang. Yayah lagi bobo."
Semua orang di rumah ini, tahu tentang tabiat mas Givan yang tidak suka diganggu saat tidur.
"Mah... Jasmine tuh dibawa Lendra. Mamah tau tak?" ucapku kemudian, saat mamah Dinda duduk bersama.
Mamah Dinda menggeleng, mata kecilnya terbuka lebar.
"Kapan? Mamah tak tau."
__ADS_1
Aku menceritakan dari awal, saat kejadian di teras toko.
"Wadul! Huuuu!!!!!" sorak papah Adi dari ruang tamu.
"Ibu tuh kek kau. Lendra ini bukan tandingan kau, Dek. Jejak perjalanannya aja udah kek bandar besar. Resign di dua PT aja, itu belum seberapa. Bisnis gelapnya, Mamah tak tau dia masih jalani tak." ujarnya kemudian.
"Tapi keknya sekarang tak lagi, Mah." aku teringat akan struk ATM yang dipakai untuk surat itu.
"Ya semoga aja kek gitu. Kasih jatah Jasmine ini itu, dalam jumlah besar. Wajar lah, orang dia uangnya dari bisnis gelap juga" mamah Dinda berbisik-bisik.
"Yayah...."
Aduh, Chandra ini bandel sekali.
"Jangan, Bang. Nanti yayah ngamuk." aku menahan tangannya.
"Yayah..... Yayah Ipan. Pan.... Pan...."
Brugh, brugh, brughhhh....
"Ipan....."
Mamah Dinda langsung menahan tangan Chandra, lalu memeluk bocah itu begitu kuat.
"Jangan berisik! Nanti yayah ngamuk." tekan mamah Dinda pada cucunya itu.
"Ipan..... Long....." Chandra malah semakin kuat berseru.
"Tak boleh Ipan-Ipan aja, Nak. Givan itu yayah kau loh." papah Adi muncul, kemudian duduk di samping istrinya.
"Yayah Ipan.... Ipan...." Chandra malah mencari gara-gara.
"Badeg kau nih! Harus dijenggot." papah Adi menaruh dagunya di ceruk leher Chandra.
"Empun Engkek." Chandra tertawa geli.
"Engkek." tawanya begitu renyah.
"Ipan... Yayah Ipan.... Olong...."
Chandra terlepas. Ia berlalu menuju pintu, lalu ia menabrak pintu tersebut.
Brughhhh....
"Yayah..... Ipan.... Atit...."
Drama akhirnya dimulai.
Tangis Chandra begitu lepas. Mas Givan pasti terganggu.
Klik....
Suara kunci terbuka.
Ceklek.....
...****************...
Chandra... kau mau disangrai sama Yayah ya? belum pernah dimasak ya rupanya 😣
__ADS_1