Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD235. Sumber yang sama


__ADS_3

"Bukan. Anak aku, anak aku sama Lendra."


Aku merasa ulu hatiku begitu sesak. Nafas pun seperti tersangkut-sangkut.


"Hei... Canda. Apa tuh?! Jangan bikin Mamah panik." aku merasakan tepukan di bahuku.


"Sesek, Mah." aku masih mengusap-usap ulu hatiku.


"Duh..." mamah Dinda turun dari ranjang.


"Sini, Mah. Biar bayinya aku gendong dulu." itu adalah suara Putri.


Aku masih mengatur nafasku. Ini seperti nafas tersedak, begitu mengganjal dan sakit.


"ABANG....." mamah Dinda adalah jagonya berteriak.


Beberapa saat kemudian. Kinasya sudah berada di hadapanku.


"Salah jahit kah?" Kinasya sepertinya terburu-buru, sampai ia lupa mengenakan hijab.


Ia sudah tinggal terpisah. Mana kan, jaraknya cukup jauh karena rumah yang berukuran besar-besar itu.


"Iya, Kin. Yang sobek bawah, yang dijahit bibir atas." itu adalah suara papah Adi.


Gurauan itu berlaku membuat senyumku terukir. Ada-ada saja, di situasi seperti ini.


"Maaf ya, Canda."


Aku merasakan tungkai kakiku ditekan. Kemudian belakang lututku. Entah apa lagi yang Kinasya buat, hingga akhirnya aku terbatuk-batuk.


"Uhuk, uhuk...."


Batuk ini begitu lama.


"Biarin dulu suruh batuk, Mah. Jangan kasih minum dulu, nanti paru-parunya kerendam." Kinasya menolak air yang mamah Dinda bawakan.


"Kenapa dia?" tanya papah Adi yang kini tengah menggendong bayiku.


"Salah nafas. Harusnya nafas pakai paru-paru, Canda nafas pakai insan."


Gurauan konyol, yang mencairkan suasana.


"Kau ini." mamah Dinda mengusap-usap lengan Kinasya yang tidak tertutup apapun.


"Kaget ya?" tanya Kinasya, yang masih menekan pergelangan tanganku.

__ADS_1


"He'em." akuku jujur.


"Aduh, Demplonku. Aset nih, aset!" Ghifar langsung masuk, dengan menutupi pundak Kinasya dengan kain yang lebar.


Aku baru sadar, ternyata Kinasya hanya menggunakan tank top dan hot pants saja.


"Hamil kah kau?" itu adalah pertanyaan dari papah Adi.


"Ya ampun, Papah. Mata sampai segitunya." Ghifar membenahi gendongan Kaf di bahunya.


"Mata sampai segitunya pun, Papah tak b*rahi. Memangnya kau!" mamah Dinda cekikikan, mendengar ucapan suaminya.


Pasti papah Adi menatap Kinasya yang minim busana dengan seksama.


"Iya, Pah. Baru sebulan, makanya aku diam aja." pengakuan Kinasya, kini membuat mamah Dinda terbatuk-batuk.


"Udah deh, Mah. Aku capek lari-larian. Sini sekalian." Kinasya menepuk ranjang yang aku duduki ini.


Mamah Dinda mengisyaratkan tangannya tidak, pasti beliau baik-baik saja.


Benar saja, beberapa saat kemudian. Batuk beliau mereda.


"Kok bisa gitu sih, Bang? Liatin perempuan, terus tau lagi hamil. Jangan-jangan, Abang pakai pesugihan kuyang." tuduh mamah Dinda dengan mendekati suaminya.


"Eh, sembarangan! Anak delapan buat apa?! Masa iya bedain perempuan hamil sama tak aja gak bisa. Berulang kali Abang bikin Adek hamil, pastilah jeli liat perempuan hamil." terang papah Adi.


"Ya udah gih pakai mobil. Nanti diikuti kuyang loh." papah Adi mengulurkan kunci mobil pada Kinasya.


"Tenang aja, Pah." Kinasya menepuk pundak suaminya, "Ayo, Yang."


"Aku mau liat bayi dulu, Yang." Ghifar melewati istrinya begitu saja.


"Hai, hai. Kau udah kesebar di grup Adi's bird." Ghifar mencolek-colek pipi bayiku.


"Aku udah kasih, Yang. Sabar!" Kinasya kini menjadi pusat perhatian, karena suara ketusnya tadi.


"Iya, iya. Mama terbaik." Ghifar berjalan kembali ke istrinya.


"Balik dulu, Mah." ujar Kinasya dengan berlalu pergi.


Kami masih terdiam beberapa saat. Sampai suara pintu utama sudah ditutup kembali.


"Jangan diambil hati, Canda. Kau kan tau tabiat Kin yang cemburuan."


Aku hanya mengangguk, kala mendengar ucapan dari mamah Dinda. Pasti mamah Dinda menangkap wajah sedihku.

__ADS_1


Entah kenapa aku merasa sedih. Saat ada yang menjenguk bayiku, lalu ada yang berkata ketus seperti Kinasya tadi. Seolah-olah, aku merebut dunianya dengan kehadiran anakku. Sampai-sampai, ia berkata bahwa ia pun bisa memberikan bayi juga.


"Abang kunci pintu dulu, nanti ada kuyang." papah Adi ngeloyor pergi.


Kenapa kuyang yang menjadi trend episode kali ini? Sudah beberapa kali kuyang disebutkan di sini.


"Coba susuin lagi, Dek. Tuh, bayi kau melek aja tuh." mamah Dinda mengoper bayiku padaku.


Matanya pun begitu mirip dengan kelopak mata milik manggenya. Sorot mata kosongnya, mengingatkanku pada sosok manggenya.


"Anak aku juga perempuan. Umur empat tahun, namanya Sahia Putri Jasmine."


Aku menoleh pada Putri. Pantas saja, ia menuntut pernikahan ke sana ke mari. Ternyata, ada anak yang butuh dokumen untuk kepentingan masa depannya.


"Masa itu Lendra baru kerja di Padang. Aku waktu itu liburan, lalu singgah di tempatnya, karena dia orang satu kampung halaman aku. Kejadian lah malam menegangkan itu. Namanya kucing, disandingkan daging, ya bagaimana lah." Putri menjeda ceritanya. Ia memandangku dan mamah Dinda bergantian.


"Aku terbuka kek gini. Karena aku pikir, kalian adalah keluarga calon suami aku dan berhak tau tentang asal usul menantunya. Aku selalu tertutup masalah ini, aku malu, aku benar-benar malu. Givan pun cuma diam aja, pas aku ceritakan tentang ini." suara Putri sudah bergetar.


Tangan mamah Dinda terulur, ia mengusap-usap lengan Putri.


"Kau orang hebat, Put. Bukannya Mamah respect sama mereka yang hamil di luar nikah, lalu memilih membesarkan anaknya. Tapi, menurut Mamah itu lebih baik. Dari pada mereka yang memilih membuang anaknya, lebih-lebih membunuhnya saat masih di dalam perut. Putri Mamah pun, ada salah satunya yang bernasib kek kau. Tapi, Mamah punya dua cucu yang kek gitu. Anak sulung Givan, dia anak mantan pacarnya Givan. Terus, Hamerra itu anaknya Icut." mamah Dinda tersenyum samar.


Putri melongo sejenak, "Ternyata bukan aku sendiri, Mah? Aku kira, di dunia ini cuma aku yang punya nasib gak beruntung ini. Jasmine tahun ini sekolah, Mah. Makanya kemarin aku kejar-kejar Lendra terus. Aku takut Jasmine telat masuk taman kanak-kanak."


Benar, taman kanak-kanak membutuhkan akte kelahiran.


"Givan gak pernah cerita. Tapi dia pernah bilang, tiga anaknya lain ibu semua." tambah Putri kemudian.


Mamah Dinda mengangguk, "Terus gimana cerita kau?"


"Aku minta tanggung jawab. Lendra bilang, percuma aja kita nikah, publik bakal tau juga. Lagi pun, nashab ayahnya gak bakal kebawa. Dia antar aku pulang. Dia berani ngomong banyak sama keluarga aku. Lendra ini, orangnya pandai alihkan pembicaraan. Jadi, orang tua aku pun he'em he'em aja. Nanti deh Mah, kapan-kapan kalau debat sama Lendra tuh. Pasti keliatan gimana dia. Omongan kita di bolak-balik."


Aku tahu, bagaimana tabiat bang Daeng.


"Bulan ganti tahun, sampai masanya aku sesar. Tapi Lendra malah ganti perempuan. Dia janjikan aku, dia ganti perempuan, udah aku gak ngerti lagi gimana konsep hidup dia. Tapi dia rutin jenguk anak kita, dia rutin kasih jatah anak kita. Kalau bahas pernikahan, dia selalu bilang menikah untuk sekali. Banyak lagi alasannya."


Pantas saja, ia telaten mengurus Chandra. Ternyata, ia terlatih mengurus anaknya sendiri.


Satu yang aku tahu dan pahami hari ini. Bang Daeng menikah karena cinta. Ia menikahiku, karena ia cinta padaku. Meski ia dan Putri memiliki keturunan, ia tidak menikahi Putri, karena ia tidak cinta pada Putri.


Aku ingin memberitahu pada bang Daeng. Bahwa, cinta itu bukan segalanya. Ada pula, komitmen itu lebih berharga dibandingkan cinta.


...****************...


Semoga masih betah di cerita yang entah kapan tamatnya 😌

__ADS_1


Ada yang ngeh gak sih, masa Putri datang terus ucapannya kejeda terus 🤔


__ADS_2