Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD282. Senin pagi


__ADS_3

"Pah... Bang Ardi mungkin bukan bosen. Tapi dia salah paham, masa Lendra main itu." ucapku kemudian.


"Orangnya Papah, salah paham, yang papah amuk perempuan Papah. Memang Ardi gimana?"


Pastilah jika itu. Papah Adi doyan mengamuk ke mamah Dinda, ia darah tinggi pun lantaran suka mengamuk.


"Bang Ardi tak respon aku sejak hari itu. Padahal dia kerja deket aja, tapi tak pernah mampir." sahutku kemudian.


"Nanti Papah yang ngomong."


"Tak usah lah, Pah. Harusnya sih, dia ngomong langsung ke aku kalau memang ada yang salah di antara kita." aku tidak mau diklaim tukang ngadu oleh bang Ardi.


"Ck..." papah Adi malah berlalu ke ruangan lain, meninggalkan Ceysa yang tengah berdiri di sofa.


Aku langsung menghampiri Ceysa. Aku takut anak itu terjungkal. Kemudian, aku membujuknya untuk main di luar sana. Karena rumah ini begitu sepi.


~


Rasanya begitu sepi. Saat ibu, mamah dan papah, juga beberapa cucu mereka, termasuk Chandra dan Zio, ikut memenuhi undangan pernikahan di kota Lhokseumawe. Yang menikah adalah kakak sepupunya papah Adi, anaknya kakaknya ayah kandungnya papah Adi. Aku lupa siapa namanya, karena sekali hanya diberitahu.

__ADS_1


Kakak ayah kandungnya papah Adi, ia mengasuh papah Adi sejak beliau SMA dan kuliah. Meski papah Adi disekolahkan dengan dana dari hasil ladang warisan ayah kandungnya, tapi ia tinggal bersama dengan kakak dari ayah kandungnya.


Belibet, rasanya aku pun mumet mengertikannya. Mereka berjanji, akan pulang setelah dua hari di sana. Aku di ruko ini hanya dengan Ceysa dan Ria.


Namun, saat pagi sampai sore. Ria berada di tempat pendidikannya. Ya, hanya sebatas cara membuat busana dan jahit menjahit. Tapi, nantinya Ria akan mendapatkan sertifikat jika sudah selesai pendidikan selama enam bulan.


Senin pagi yang sepi, ditambah lagi toko akan buka jam delapan pagi. Sedangkan aku dan Ceysa, sudah membuka mata sejak subuh tiba. Ria sudah berangkat ke tempat pendidikannya, pukul setengah tujuh pagi.


Sekarang, aku dan Ceysa tengah melamuni tralis besi yang terkunci itu. Pintu kayunya terbuka, hanya teralisnya yang terkunci.


"Dek... Main yuk?" aku suntuk, berdiam diri di rumah seperti ini.


"Nana?" ia tengah bermain, dengan mainan yang menyerupai peralatan dapur.


Ia menggelengkan kepalanya, ia malah asik menumis sesuatu di atas kompor mainannya itu. Imajinasinya sudah ala mamak-mamak.


Trakkkk.... Trakkk, trakkk..


Aku menoleh cepat, pada pelaku yang menggegerkan kunci tralis yang sengaja aku gembok itu. Jujur, aku takut dengan manusia yang jahat jika di rumah sendirian.

__ADS_1


"Dek Canda...." panggil orang tersebut, dengan melepaskan helmnya.


Helm merah.


Aku tahu siapa dia.


Aku segera bangkit, lalu membukakan tralis tersebut.


Ia melangkah masuk, dengan menoleh ke kiri dan kanan. Kemudian, ia langsung menekan gembok angka itu setelah tralis tertutup.


Ia juga, langsung menutup pintu kayunya.


Aku mengernyitkan dahiku. Selama satu minggu kemarin, ia tak meresponku. Lalu, senin pagi ini ia muncul dengan segala keanehannya.


Ia segera menyalakan lampu ruangan, karena pencahayaan di sini amat kurang jika pintu kayu ditutup. Ia langsung duduk, kemudian menyunggingkan senyum pada Ceysa.


"Biasanya, berangkat kerja jam delapan kan Bang?" tanyaku, dengan duduk di sofa yang tadi aku duduki kembali.


Ia mengangguk, "Ya, sengaja. Pengen ngobrol." ia menggaruk rambutnya.

__ADS_1


...****************...


Bujang telah tiba, bujang telah tiba. Hore, hore, hore..... 👻


__ADS_2