
"Chandra tidur nih, Dek."
Aduh, kenapa juga Chandra tertidur? Aku jadi semakin takut saja dengan bang Dendi.
Setelah aku membuka pintu kamar kos kak Anisa, bang Dendi langsung masuk dan merebahkan Chandra di atas tempat tidur.
Aku tegang, menyaksikan dirinya yang meregangkan otot lengan dan lehernya. Sejurus kemudian, ia langsung melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya.
"Gerah betul. Berat juga gendong Chandra bolak-balik." bang Dendi segera menyalakan kipas angin milik kak Anisa, ia mengarahkan kepala kipas tersebut ke wajahnya.
"Mana belanjaannya, Dek?" bang Dendi sepertinya baru menyadari bahwa aku masih berdiri di ambang pintu.
Tatapannya terlihat heran, "Kau kenapa?" tanyanya kemudian.
"Abang tak balik ke kamar sendiri?" aku takut kejadian, seperti yang kak Anisa ceritakan. Meski jelas, mereka adalah orang yang berbeda.
"Nanti lah. Enak aja! Masa jajanan mau kau makan sendiri aja. Abang juga mau jajanan."
Aku tertawa renyah, kemudian langsung duduk di depan pintu dengan menaruh plastik berisi makanan ini.
"Bang, aku beli banyak." aku mengeluarkan plastik berisi pakaian yang aku beli.
"Waduh, gede sih Dek."
Aku melotot, melihat bang Dendi malah menangkup wadah pabrik ASIku.
"Jangan lah, Bang!" aku berseru dengan merebut dua barang tersebut yang baru aku beli.
Terdengar tawa bang Dendi begitu lepas, ketika aku tengah berlari untuk membawa barang itu ke keranjang baju kotor.
Dasar, laki-laki!
Rese memang tak bang Lendra, ataupun bang Dendi.
"Ghifar dari tadi coba telpon ini, Dek."
Aku mengurungkan niatku untuk melangkah ke kamar mandi.
"Kok bisa?" aku berjalan mendekati bang Dendi.
Ia melirikku sekilas, "Abang buat story di WA, pakai video Chandra di odong-odong tadi." ia menjawab seolah tidak ada beban.
__ADS_1
Berbeda denganku yang langsung tegang tidak karuan.
"Nih, dia chat." bang Dendi menunjukkan bar notifikasinya.
Gimana kabar mereka, Bang?
Pesan singkat dari kontak yang bernama Ghifar tersebut.
Jemariku langsung membeku, aku seperti tawanan kabur yang diketahui keberadaannya.
"Jangan dibalas lah, Bang." rengekku penuh permohonan.
"Kau tak pernah berpikir buat usaha kah? Dari ATM yang Ghifar kasih pinjam itu?" tanya bang Dendi tiba-tiba.
Aku pernah terpikir akan hal itu. Tapi aku sadar, aku tak memiliki keahlian apapun selain hafalan Al-Qur'an.
"Kau tau kan, Bang? Tentang aku yang cuma bisa masak tumis aja. Masak semur telor tadi pagi pun, aku pakai bumbu jadi. Aku dari SMP itu udah di pesantren, jadi aku tak tau tentang usaha selain ngaji. Masa SD aku, ya aku cuma paham main aja."
Aku tak memungkiri, bahwa aku pun ingin memiliki rumah dan toko sendiri. Agar Chandra bisa aku urus, sembari menjaga toko. Tapi aku pun sadar, bahwa toko sembako harus lebih murah jika ingin laku keras.
"Toko baju kah apa, tak harus makanan."
Satu kenyataan yang harus kalian tahu. Aku takut mengambil resiko besar, aku bukan jiwa wirausaha.
"Ya udah, yang mantap kalau memang mau kerja. Ati-ati sama bang Lendra, Enis aja bisa sampai mabok." bang Dendi tengah menikmati jajanan yang kami beli tadi.
Aku akan selalu mengingat pesan ini.
"Kalau tak berani di kos sendirian, bisa ke kamar Abang aja. Nanti juga ada Jeni main, ngobrol sama Jeni." ujar bang Dendi kemudian.
Aku paham.
K*ndom dan pelumasnya untuk Jeni, bukan untukku. Aku merasa lega, karena bang Dendi tidak berniat buruk padaku.
"Beli kartu, isi kuota. Kau tak bosan cuma liat TV aja?"
Aku ingin menjawab, aku malah merasa tenang seperti ini. Karena aku tak mendengar kabar apapun tentang mas Givan, karena aku tak diberi pertanyaan oleh keluarga yang baik itu.
"Lepas nerima gaji nanti, urus surat cerainya. Minta tolong bang Lendra tuh, karena orang yang dia minta buat nembak dokumen kau itu. Dia juga bisa buat urus surat-surat yang lain." ujarnya sesekali melirik padaku.
"Dek... Ngomong-ngomong, mertua kau itu orang punya kah di sana? Abang kok masih heran aja karena rumahnya bak istana, tapi malah mereka tak tinggal di situ." mungkin memang bang Dendi ingin mengobrol saja. Dari tadi pun, ia banyak berbicara.
__ADS_1
"He'em, juragan ladang. Ada lima puluh hektare lebih sih, tapi belum sampai seratus hektare keknya. Mungkin sekitar tiga tahun belakangan ini, usahanya lagi goyah. Cukup stabil kalau lahan lama, tapi deposit cair besar-besaran. Denger ceritanya, deposit cair karena buat pembenihan awal sepuluh hektare lahan baru. Makannya ibu mertua aku milih buat ngembangin usahanya itu ke luar negeri, pasar dunia lah kek gitu. Dia punya barang mentahnya, lanjut proses pabrik yang Ghifar punya itu. Terus, barang jadi dari pabrik Ghifar di oper ke Brazil. Yang sekarang lagi dipegang mamah mertua aku sama ayah mertua aku di sana." ungkapku dengan mengamati perubahan wajah seriusnya.
Bang Dendi mengangguk samar, "Hebat ya? Memang lebih baik pasar dunia di kelola sendiri, dari pada pasrah sama modelan bang Lendra. Sarang walet di sana naik pesat, bang Lendra selalu bilang stabil. Tapi mereka tak tau tuh, kalau keadaan pasar dunia sekarang lagi hebat-hebatnya."
Aku jadi meragukan, apakah uang yang bang Lendra hasilkan adalah uang halal?
"Halal tak sih, Bang?" aku memamerkan gigiku, karena merasa pertanyaanku terlalu suci.
"Yang kerja sih, halal. Tapi yang walet itu, masuknya haram karena caranya dia salah. Kata dia, kalau nungguin uang halal aja tuh capek Dek. Gajinya di pabrik sekitar sepuluh, yang dia dapat dari walet kan langsung ratusan juta. Orangnya ini, cenderung lebih ngejar materi menurut Abang. Bisa dia punya rumah, bahkan usaha lain. Tapi entahlah, dia orangnya harus urut. Kalau kata Abang kan, pertanyaan yang susah jangan dulu dijawab, jawab aja dulu yang gampangnya. Kalau dia, orangnya tak bisa kek gitu Dek." tangannya bergerak, mengisyaratkan bahasa dari mulutnya.
Yang bang Dendi maksud dia adalah bang Lendra. Kami takut bang Lendra mendengarnya, karena kami tengah membicarakan tentang dirinya.
"Alhamdulillah, sampai."
Aku dan bang Dendi menoleh ke perempuan yang langsung duduk di depan pintu.
"Dih, dibilang pulang aja dulu ke kos!" tegur bang Dendi dengan memperhatikan kekasihnya itu.
"Udah kangen." sahut Jeni, bibirnya sedikit monyong. Lalu ia mengirimkan kecupan kecil dari jauh, untuk bang Dendi.
Bang Dendi bangun dari duduknya, ia membawa barang-barangnya yang ia beli di minimarket tadi.
"Kalau kesepian, ketok aja kamar Abang ya." bang Dendi tersenyum dengan melewatiku.
"Ya, Bang." aku melihat kepergian sepasang kekasih itu ke kamar sebelah.
Aku terdiam, rasa gelisah menyerangku sekarang. Aku takut keimananku goyah, pada dua laki-laki baik yang mengulurkan tangannya padaku ini.
Meski bang Dendi dan bang Lendra tak pernah mengajakku macam-macam. Tapi aku malah khawatir, atas diriku yang malah terbawa perasaan karena kebaikan mereka.
Aku takut, jika sampai menyukai salah satu dari mereka. Meski jelas, belang mereka begitu wujud di depan mataku.
"Permisi......"
Aku melongok, untuk melihat seseorang yang bertamu di kos-kosan ini.
Ternyata......
...****************...
Pengen ngerasain diserbu pembaca, diserbu komen gitu ðŸ¤
__ADS_1