Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD226. Lendra pulang


__ADS_3

"Aku mantan istrinya mas Givan. Chandra anak aku dengan mas Givan. Untuk sekarang, aku istrinya bang Lendra." aku mengusap perutku, "Aku hamil anaknya." tambahku kemudian.


Ia terlihat begitu syok.


Ya, itu pasti. Aku pun pasti terkejut bukan main, jika baru mengetahui kebenaran ini.


Ia menutupi wajahnya, isakan kecil terdengar kembali.


"Nasib aku gimana? Aku malu. Kabar pertunangan aku udah didengar semua orang. Apa yang orang bilang, kalau udah tunangan tapi gak jadi nikah? Mana aku....."


Bang Daeng sungguh baj*ngan. Ialah rajanya tega.


"Nanti kita cari jalan keluarnya sama Lendra. Sambil nunggu Lendra pulang kerja, kau istirahat aja dulu. Ini ada kamar tamu satu lagi, kosong nih. Tapi kamar mandi di belakang." mamah Dinda menunjuk pintu kamar yang berada di samping sofa yang tengah aku duduki.


"Tapi... Canda beneran istrinya Lendra, Bu?" sepertinya Putri lebih percaya dengan ucapan mamah Dinda.


Mamah Dinda mengangguk, "Canda istrinya. Asal kau ikhlas, tak punya sifat dendam, kita pasti bisa cari jalan terbaiknya."


Putri menggelengkan kepalanya, "Kalau kek gitu caranya, biar aku yang mengasingkan diri untuk sementara. Aku bakal malu, Bu. Aku punya nama, aku orang terpandang, aku publik figur."


Publik figur?


Artis kah Putri ini?


"Siapa kau?" mamah Dinda mengerutkan keningnya.


"Putri Vishaka Anggraini. Vish Cosmetics by Vishaka, itu brand aku. Aku pun model di brand aku sendiri. Sosial mediaku udah centang biru."


Putri bukan orang biasa?


"Bentar." mamah Dinda berlalu pergi dengan terburu-buru.


Aku masih menatap Putri dengan heran. Putri pun malah memperhatikan Canda yang tengah menggerogoti ayam goreng Mail ini.


"Dek... Adek manis, Adek ganteng." sapa Putri, pada Chandra yang masih anteng bersandar pada pangkuanku.


Chandra langsung menyatukan alisnya, ia sudah akan menangis.


"Bang.... Sini! Ayamnya ada lagi nih." sepertinya mas Givan tengah makan di ruang keluarga.


"Ya, Yah." Chandra melarikan diri ke sumber suara ayahnya.


"Nih...." mamah Dinda muncul dengan menunjukkan sesuatu.


"Ini?"


Putri tersenyum, "Ya, Bu. Itu salah satu prodak dari aku."


Hah?


Sainganku luar biasa. Aku ingin menangis dan memukul-mukul lantai saja.


"Serius?" mamah Dinda sepertinya masih kurang yakin.

__ADS_1


"Iya, Bu.


"Kok bertahan sama Lendra sih? Kan ruang lingkup kau pasti luas. Banyak kali petinggi perusahaan yang naksir kau. Banyak kali bos-bos di luar sana, yang ajak kau serius."


Benar juga kata mamah Dinda.


"Lendra janjikan, Mah. Lagian, mana ada sih petinggi perusahaan yang masih muda? Perusahaan aku aja warisan dari kakek aku. Atas nama aja, lagian itu pun bagian untuk aku. Kerja di lapangan, action di kantor sih ya ayah aku juga. Aku cuma bubuhkan tanda tangan, ikut rapat. Sisanya, aku fokus sama produk kecantikan produksi aku sendiri."


Warisan adalah hal yang paling menyenangkan sepertinya.


Mamah Dinda manggut-manggut, "Jadi, CEO tampan itu ada di novel aja ya?"


Aku dan Putri tertawa renyah.


"Ya udah gih. Istirahat lah dulu." mamah Dinda bangkit, lalu membukakan pintu kamar tamu tersebut.


Putri mengucapkan terima kasih, lalu ia masuk ke kamar. Dengan aku yang dirangkul mamah Dinda, untuk meninggalkan ruang tamu ini.


Rupanya si pemilik nashab ayahnya ini, sudah akur dengan ayahnya. Ia tengah duduk berhadapan dengan ayahnya, dengan sesekali memakan isi piring ayahnya. Hal seperti ini saja, pasti akan membuat bang Daeng cemburu.


"Wah, Bang Chandra pinter. Lagi mam ya?" mamah Dinda menarikku untuk duduk di sini.


Chandra menganggukkan kepalanya. Ia sepertinya tengah fokus, sehingga ia hanya fokus pada makanannya saja.


Mamah Dinda menepuk pahaku, "Lendra bohongi kau." ucap mamah Dinda dengan berbisik.


"Nanti sih, minta antar Givan atau siapa buat ambil buku nikah kau. Janda kah punya suami, kau tetap anak Mamah, anak-anak kau tetap cucu Mamah, jangan diambil pusing. Lagi pula, buat apa pertahankan suami yang udah dikasih hati, tapi masih suka bohong aja. Dari cerita Putri tadi, memang Lendra tak ada bilang bahwa dia memang punya istri. Dia sengaja nutupin itu, mungkin untuk kepentingannya sendiri."


"Jangan stress." ia menepuk-nepuk punggungku.


"Ck... Udah, rujuk lah." ucap mas Givan dengan tertawa kecil.


Aku menegakkan punggungku. Mengusap air mataku, lalu menoleh ke arahnya.


"Tuh, usaha udah normal juga." tambah mamah Dinda dengan terkekeh kecil.


"Apa sih Mamah?!" aku melirik mamah Dinda sinis.


Beliau tergelak begitu renyah, "Gurau aja. Givan pun pengen ngerasain jadi duda dulu katanya." jelas mamah Dinda.


"Terus, Nadya gimana?" aku memperhatikan wajah mas Givan kembali.


Ia memiliki jerawat kecil di bawah bibirnya.


"Nanti lusa habis masa hukuman. Tadi pagi aku jenguk sih, katanya minta dianterin ke orang tua aja. Dianterin katanya, soalnya tak punya ongkos. Bukan pergi diongkosi mantan, kek kau!" ia tersenyum mengejek.


"Heh, mana ada ya! Aku tak pakai ATM dari Ghifar. Aku punya tabungan, dari kerja sama Winda." aku langsung sewot.


"Nah, mending juga sewot. Dari pada nangis." mas Givan terlihat begitu senang melihatku marah.


"Apalah Ayah kau ini, Bang! Kesel Biyung."


"Ayah juga kesel. Kasih tau Biyungnya, Bang." mas Givan mencolek anaknya.

__ADS_1


"Yayah ceng."


Gelak tawa kami bersahutan. Jika ada orang lain yang mendengar, juga tidak mengerti. Pasti Chandra dikira diajari berbicara buruk.


~


Ketegangan dimulai, saat makan malam telah usia. Mas Givan duduk bersandar pada tembok, dengan mengusap-usap perutnya yang terekspos.


Namun, bukan itu yang membuat kami tegang. Tetapi kehadiran bang Daeng, yang baru datang dengan menatap Putri penuh kejut.


"Bu, ee." Chandra memegangi part belakangnya.


Lihatlah keturunanku ini. Hanya BAB saja, ia sampai menangis lebay.


"Sakit kah eenya, Bang?" aku menyentuh perutnya yang terlapisi baju karakter sapi itu.


"Nyek, Iyung." aku menahan tawaku.


"Yuk, sama Ibu. Kasian Biyungnya, perutnya endut." ibu yang duduk di sampingku segera bangkit, lalu menuntun Chandra ke kamar mandi.


"Nyek, Bu." suara lucu itu masih bisa aku dengar.


"Duduk, Len! Makan, makan." papah Adi menepuk tempat di sebelahnya.


"Udah, Pah." bang Daeng tetap duduk di sebelah papah Adi.


"Minum, minum." papah Adi menaruh sebuah air mineral kemasan gelas, di hadapan bang Daeng.


"Syok betul? Apa hal nih?" papah Adi masih melanjutkan kunyahannya.


Beliau pulang telat, kemudian langsung makan. Jadi tinggal papah Adi saja yang masih makan, yang lainnya sudah selesai makan.


"Ada Putri, Pah." suara bang Daeng tiba-tiba lirih.


"Iya, cantik ya? Istri kedua Papah itu."


Pak tua ini ada-ada saja. Tapi jelas itu hanya bergurau, ditandai dengan kekehan semua orang.


"Tak ada cantik-cantiknya, masa dia ketinggalan pesawat. Mana segala nyalahin aku, minta ganti rugi tiket pula." tutur mas Givan dengan mengancing kemejanya kembali.


Mas Givan tidak gemuk. Masa ototnya pun terjaga. Namun, sejak dulu perutnya memang mengembang jika sudah diisi.


"Eh, Pak Givan kan yang bikin aku ketinggalan pesawat." tambah Putri kemudian.


"Pak, pak, pak!" mas Givan terlihat tidak suka dengan panggilan itu.


"Minta air kobokan, Dek. Abang males cuci tangan."


"Ya, Bang." saat mamah Dinda bangun, Gibran segera mengikuti ibunya.


Ada hal, yang.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2