Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD352. Niat yang tulus


__ADS_3

"Bener kan, lusa dari hari itu Abang sembuh?" ucapnya dengan tersenyum samar.


"Apa kau?! Masih observasi. Maksa pulang." tandas mamah Dinda, dengan melirik bang Daeng malas.


Aku berpindah ke sebelahnya, aku langsung mendekap lengannya. Biarkan saja, aku dibilang agresif. Aku sempat khawatir setengah mati, sampai mamah Dinda mengabarkan kembali bahwa bang Daeng sudah stabil.


"Bener kah mau rujuk?" tanya papah Adi.


Suaranya terdengar begitu serius. Pasti, pembahasan ini ada final dari keputusan kita.


Awas saja kau, Thor! Jangan berani-berani mengacak-acak alur kehidupanku yang ini. Aku sudah ingin bahagia bersama bang Daeng.


"Bener, Pah. Tolong restuin aku, buat balik sama Canda." ungkap bang Daeng, dengan menyatukan telapak tangan kami.


"Ya, silahkan. Atur gimana baiknya. Tapi, dengan catatan kau tak boleh tinggalin dia." papah Adi mengacungkan telunjuknya.


"Insya Allah, Pah." bang Daeng menatap serius papah Adi.


"Kau udah sehat, Len?" tanya papah Adi, dengan menyambut cucunya itu.


"Kek, ma mana?" Kaf langsung duduk di pangkuan papah Adi.


"Lagi bersih-bersih. Sama Kakek dulu aja ya? Kaf tak ikut antar kak Kal sekolah?" papah Adi membelai wajah cucunya itu.


Kaf hanya menggeleng.


"Kau udah sehat, Len?" ulang papah Adi, beliau menatap lurus bang Daeng kembali.


"Udah, Pah."


Namun, pandanganku malah merekam gelengan kepala dari mamah Dinda.


Yang benar yang mana? Bang Daeng masih sakit? Atau memang benar sudah sembuh?


Papah Adi memandang wajah istrinya, lalu ia memandang wajahku dan bang Daeng secara bergantian.

__ADS_1


"Hmmm...." papah Adi seperti tengah berpikir, "Kau fit kan dulu badan kau. Biar enak gitu kan malam pertamanya." ujar papah Adi yang membuat kami tertawa bersama.


Aku paham dalam ucapannya. Bukan semata-mata untuk malam pertama. Tapi, papah Adi masih ragu dengan kesehatan bang Daeng. Yang mungkin, beliau khawatir aku menjanda kembali karena umur bang Daeng yang tak lama.


Kalau masalah umur, memang siapa yang tahu. Hanya saja, pemikiranku pun begitu. Terlebih-lebih, aku takut tidak pernah bisa melihatnya kembali.


"Gimana kalau minggu depan aja, Pah. Sekalian aku persiapkan segalanya." ujar bang Daeng.


"Len.... Penyembuhan kau itu, minimal tiga minggu. Apa tak terlalu cepat, kalau ambil minggu depan buat akad?"


"Kalau kelamaan. Aku takut Canda jualan seblak lagi, Mah. Kasian, dia udah lelah betul cari nafkah. Aku pengen, Canda gak perlu cari nafkah. Ada pendamping hidup yang berusaha menafkahinya dan menjamin anak-anaknya. Untuk se*s, aku tak pernah mikirin. Karena sejak dulu pun, aku cuma sesekali sama Canda."


Sesekali ini yang membuatku berani untuk bertahan di atasnya. Dengan caranya, aku berani untuk mencoba hal-hal baru dalam hubungan suami istri.


"He'em. Nanti kecapean lagi, sakit lagi. Jualan makanan buka lapak gitu tuh, resikonya besar." tambah mamah Dinda.


"Nah itu. Dulu kerja aja tidur terus. Belum selesai, udah ngasih kode minta rehat sejenak. Perjalanannya jauh, udah dia ngeces sepanjang jalan kenangan." bang Daeng tertawa tipis dengan melirikku.


Ia bisa saja.


Apa bang Daeng hanya kasihan padaku?


"Kalau hanya untuk masalah itu kan, orang lain juga bisa Len. Tanpa kau rujuk Canda, laki-laki lain pun mampu nafkahi Canda." mamah Dinda adalah orang yang paling berani mengutarakan pendapatnya, meski terdengar kurang bersahabat.


"Betul, Mah. Memang benar." aku merasakan genggaman erat pada jemariku lagi, "Memang siapa kandidat yang gak akan bikin masalah baru, selain aku?"


Aku paham tabiat bang Daeng yang percaya diri ini.


"Aku cukup paham, tabiat si Ardi itu. Umumnya anak muda, dengan pemikiran yang belum matang. Rasa-rasanya, dia belum mampu jadi ayah untuk banyak anak dari Canda gini. Entah, kalau anak hasilnya sendiri. Terus si Givan...." bang Daeng menjeda kalimatnya, "Memang dia ini bertanggung jawab. Buktinya, dulu aja setengah mati hidupin Canda. Sampai katanya, dia kerja kasaran. Dengan dia jamin Canda sehari lima puluh itu. Berarti dia ada tanggung jawabnya. Hanya saja, memang masa itu dia mampu jamin hanya segitu. Beda cerita, kalau Givan gak pernah kasih uang ke Canda. Terus.... Yang jadi masalah ini, Givan belum selesai sama Putri. Aku tau Givan ngajak rujuk, aku tau Givan lebih milih Canda ketimbang Putri. Yang jadi masalah, sampai aku berani maju dari Givan. Karena Givan ini banyak hutang." suaranya menurun drastis, "Mana kan, Putri kek pacet. Gak akan lepas, kalau dia belum puas. Aku gak mau Canda malah pusing mikirin hutang Givan dan si Putri. Tapi.... Beda lagi ceritanya, kalau memang aku dalam kondisi gak mampu buat halalin Canda. Aku bakal narik Givan, buat jadi kandidat calon suami Canda. Dari pada narik Ardi, atau malah lepasin dia buat nyari laki-laki yang kek dia inginkan."


Bang Daeng membuang nafasnya berat, "Sekali disudutin aja, modelan Canda ini langsung minta dinikahin. Aku khawatirnya di situ. Aku khawatir, dia bakal sering nikah cerai dengan anak-anak yang beda ayah. Kalau memang balik ke Givan, cuma Ceysa keturunan Canda yang lain ayah. Pikir aku sih begitu, Pah, Mah." bang Daeng bergantian memandang mamah Dinda dan papah Adi.


Bahkan, bang Daeng memikirkan bagaimana calon pasanganku jika aku tidak berjodoh dengannya.


Papah Adi manggut-manggut, "Itu pun alasan yang sama, kenapa Papah sama Mamah tak mau Canda hilang dari pandangan. Karena dia ini begitu modelannya. Ditambah-tambah, kalau dia ikut suami jauh, terus berantem sama suaminya. Gimana coba nanti dia? Apa bakal luntang-lantung tak tentu arah lagi?"

__ADS_1


Apa aku ini sejenis beban pikiran keluarga?


"Aku gak bakal bawa pergi Canda. Meski aku kerja di Singapore, aku bakal pulang pergi ke sini. Sesekali, mungkin bakal aku bawa Canda ke sana biar dia tau aktivitas aku di sana." terang bang Daeng.


"Kakek... Yayah mana?" Kaf sejak tadi diam dengan memandangi kamar mas Givan.


"Ayah anter bang Chandra. Bentar lagi juga dateng lagi. Ayah belum tidur sejak semalam."


Kaf turun dari pangkuan papah Adi, "Main." Kaf menunjuk ke arah dapur.


Mungkin, maksudnya adalah halaman belakang.


"Tak ada kawan, Kaf. Nanti ikut Kakek ke ladang aja." papah Adi menahan tubuh Kaf.


"Ayoooo...." Kaf sudah merengek, dengan menarik-narik tangan kakeknya.


Dasar, Ghifar kecil. Wajah papahnya sampai menempel semua, bagai difotocopy.


"Sini, Kaf!" seruan itu dari arah tangga.


Aku memalingkan pandanganku pada seseorang yang menuruni anak tangga.


"Maaaa.... Anen."


Kaf langsung berlari ke arah ibunya itu. Ibu yang diklaim terbaik di antara ibu-ibu yang ada di dunia ini.


"Ma juga kangen Kaf." Kin langsung bergegas lalu mendekap anaknya.


"Kaf... Sama papa main ke mana aja? Papa ajak siapa ke rumah?"


Aku dan mamah Dinda melongo saja, melihat dialog Kin dengan anaknya itu. Kin berjalan santai ke arah pintu samping.


Mamah Dinda geleng-geleng kepala, "Kau nanti jangan.......


...****************...

__ADS_1


😑 Gak tuntas kalimatnya


__ADS_2