
"Chandra dibawa papahnya, Len." ungkap kak Raya yang mampu aku dengar.
Aku masih menatap mobil silver yang sudah tak terlihat lagi itu. Aku masih berharap, mobil itu kembali lagi untuk mengantarkan Chandra.
"Awwww...." lenganku ditarik cukup kuat.
Aku berhadapan dengan bang Daeng sekarang, ia terlihat marah dengan sorot tajamnya.
"Abang kasar kali! Sakit lengan aku!" aku melepaskan tangannya yang masih mencengkram lenganku.
"Terus kau diam aja, Canda? Kau gak ada perlawanan, buat rebut balik Chandra?" matanya memerah, urat wajahnya begitu terlihat tegang.
"Aku udah coba, tapi dia maksa."
Apa ia tidak melihat, seberapa menyedihkannya diriku?
"Basi!!! Klasik! Memang kau yang nyerahin kali! Kau rupanya pengen bebas tanpa anak!" bang Daeng meninggalkan aku dan kak Raya, ia berjala menuju ke restoran.
Kak Raya mendekatiku, "Udah, Canda. Kau harus profesional. Lendra memang orangnya kek gitu. Kesel, marah, tinggal, diemin beberapa hari, nanti sih biasa lagi kek gak ada apa-apa." kak Raya merangkulku, mengajakku berjalan menuju ke restoran.
Aku harus tanggung jawab dengan pekerjaanku.
Semoga Ghifar kembali ke sini, untuk mengantarkan Chandra.
Semoga Ghifar berubah pikiran.
Aku bisa melihat bang Daeng duduk di meja yang sudah kami pesan. Ia termenung, dengan pandangan kosong.
"Yuk, stay di sana aja." kak Raya menarikku untuk duduk di tempat khusus bisnis tersebut.
"Bang..." aku memanggilnya, tetapi dia enggan menoleh padaku.
Aku tertunduk, merasakan air mataku terjatuh kembali. Aku tidak bisa menahan kepedihan, saat Chandra diambil alih oleh Ghifar begitu cepat. Ditambah lagi, bang Daeng yang malah menyalahkanku.
"Hari ini berapa temu klien, Ya?" bang Daeng malah mengajak kak Raya berbicara.
Ia tak acuh padaku.
"Dua ini, Len. Perkiraan selesai jam dua, terus kita istirahat." jawab kak Raya, dengan menyiapkan berkas keperluan bang Daeng.
Klien begitu on time. Mereka datang, bahkan sebelum waktu yang sudah ditentukan.
Obrolan dimulai, aku diwajibkan profesional untuk menjalankan tugasku. Bang Daeng, sama sekali tak memberikan kode apapun. Ia hanya fokus mengobrol, tanpa menuntunku untuk menyelesaikan pekerjaanku.
Hingga sampai di kamar hotel. Ia menyendiri dan memisahkan dirinya di ruangan lain. Ruang tamu menjadi markas dadakannya.
Ia membiarkan aku menikmati hak ranjang lebarnya, hanya untuk aku seorang. Kak Raya pun, ia terlelap di sofa panjang yang berada di dekat jendela.
__ADS_1
Dengan kepiluan ini, aku merasa kesepian tanpa pelipur lara. Aku tersakiti dengan keadaan ini.
Pukul dua dini hari aku masih belum bisa tertidur. Dadaku begitu sesak, dengan ASI yang sampai merembes ke pakaianku.
Saat dilanda kesusahan dan kesedihan seperti ini, aku baru teringat dengan Sang Pencipta.
Apa sifat manusia seperti ini?
Aku merasa ada seseorang yang lewat di belakangku, lalu menyenggol punggungku.
Sepertinya, orang tersebut tidak sengaja melakukannya. Tebakanku, itu adalah kak Raya yang terbangun dan ingin minum. Itu adalah kebiasaan kak Raya di malam hari.
Setelah menyelesaikan ibadahku, aku langsung melipat kembali mukena dan saja travel milikku. Ini barang baru, aku membelinya saat di Jambi. Sebelumnya, aku menggunakan milik kak Anisa.
Perhatianku teralihkan, pada seseorang yang tertidur di atas ranjang. Punggungnya terlihat lebar, warnanya sangat kontras dengan sprai hotel ini.
"Tidur! Masih malam." bang Lendra baru berbicara kembali padaku.
Tentu saja hanya berbicara padaku, karena kak Raya tengah mendengkur halus.
Aku merasa tubuhku sedikit demam, karena ASI yang sudah tak tertampung lagi. Padahal aku sudah mengurasnya, tapi ASI kembali memenuhi pabriknya. Aku malah membayangkan rewelnya Chandra tanpa ASIku. Jika malam, Chandra cenderung kuat menyusu. Aku khawatir dia rewel, lalu sakit.
Semoga Chandra sehat-sehat selalu.
Aku berbaring kembali di atas tempat tidur. Aku miring ke kiri, mencoba menekan rasa tidak nyaman di dadaku dengan memeluk bantal. Aku begitu tepi dari kasur ini, aku takut karena hanya berdua di ranjang ini.
Aku tersentak kaget, saat tangan itu melingkar di pinggangku.
"Kau sakit, Dek?" aku merasakan tekanan di kasur ini. Sepertinya bang Daeng tengah duduk di tempat tidur ini.
Aku langsung memejamkan mata, begitu bang Daeng memutar posisi tubuhku. Aku tidak lagi dalam posisi miring, aku sekarang telen*tang dengan perhatian penuh dari matanya.
"Kau demam?" tangannya menempel di dahiku.
Aku tak menjawab, aku pun masih menutup mataku rapat. Aku takut bertemu dengan sorot tajam itu. Aku takut melihat wajahnya, dengan jarak sedekat ini.
Aku merasakan goyangan di tempat tidur ini, kemudian terdengar langkah kaki menjauh. Perlahan, aku berani untuk membuka mata.
Ternyata, bang Daeng sudah tidak lagi ada di ranjang ini. Aku memutar kepalaku, untuk melihat keberadaannya di kamar ini.
Bang Daeng tengah mengacak-acak koper kecil, yang berisi beberapa pakaiannya. Cepat-cepat aku memejamkan mata, saat bang Daeng kembali ke arahku.
"Nih, minum obat demam. Ini aman, meski perut kosong juga." bang Daeng duduk di tepian ranjang, di sebelah tempatku.
"Jangan pura-pura tidur!"
Aku langsung membuka mataku, aku takut mendengar suara penegasannya.
__ADS_1
"Bangun! Minum dulu obatnya." pintanya kembali.
Aku mencoba bangun, menghalau rasa pedih di intiku. Mungkin sekarang, aku sampai meringis menahan sakit. Karena ini memang benar-benar pedih.
"Masih sakit kah? Cek up lagi kapan?" tangan kokoh itu, merapihkan anak rambutku. Lalu membawanya ke belakang telingaku.
Astaghfirullah...
Aku melupakan sesuatu.
Hijabku belum aku kenakan kembali, saat lepas wudhu tadi. Aku berusaha menutupi rambutku dengan kedua tanganku.
"Udah! Gak usah ditutupin. Abang gak bakal na*su, hanya gara-gara tengok rambut kau." tangannya masih memegangi sebuah kapsul untukku.
Aku mengangguk, kemudian mengambil alih obat tersebut.
"Ini obat Abang, kalau pusing abis perjalanan udara. Semacam Paracetamol, bisa buat demam juga."
Mungkin ia mengatakan hal itu, agar aku percaya dan mengetahui asal-usul obat ini.
Aku meraih botol minumku, yang terletak di bawah ranjang. Aku terbiasa seperti ini, menyimpan air dengan rapat di bawah ranjang. Karena, saat pagi tiba. Air itu berasa begitu sejuk dan ringan di kerongkonganku.
"Istirahat! Jangan mikirin Chandra aja, nanti dia rewel di sana. Sini, Abang tenangin." ia melompat di atas kakiku.
Lalu ia langsung merebahkan tubuhnya di sampingku, dengan posisi menghadap padaku.
"Sini!"
Aku masih enggan untuk tidur kembali. Aku takut, karena ia adalah laki-laki yang tidak bisa ditebak.
"Sini!" ia menarik lenganku, untuk segera berbaring di sebelahnya.
Ya Allah, berani sekali ia memelukku begitu erat. Aku berbantal lengannya, tangannya bertengger di atas perutku.
"Tidur! Istirahat! Jangan stress, Dek. Kau harus panjang umur, biar bisa bawa balik Chandra lagi." tangannya mengusap-usap perutku yang terlapisi baju.
Ia kira aku sedang mengandung?
"Abang takut kau mati, aku takut kau tidur terlalu pulas kek ammak." suaranya begitu dekat dengan telingaku.
Aku meremang, merasa hembusan nafasnya.
"Bang Daeng..." aku ingin menegurnya, aku takut kami kebablasan.
...****************...
Jangan-jangan, mereka mau... 😳
__ADS_1