
Alhamdulillah, nyampe juga.
...Crazy up...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Itu mamah udah nunggu di kamar. Sana diomongin. Sakit kah kau? Mampu tak jalannya?" ternyata mas Givan sudah berada di hadapanku kembali.
"Mampu, Mas." aku mengayunkan kakiku perlahan.
"Baru lepas, udah hamil aja. Setidaknya, jangan sampai hamil gitu. Biar tak kek gini. Berantakan rumah tangga Ghifar nanti."
Jadi, mas Givan pun menganggap aku bersalah?
"Ck... Udah coba tak usah ikutan ngomong, kalau tak tau ceritanya." ketusku kemudian.
__ADS_1
"Bukan ikutan ngomong. Tapi kau bodoh di sini! Aku, mamah tuh tau kau dari dulu memang masih ada rasa sama Ghifar. Tapi bukan untuk hamil juga. Mamah tau kau ngamer sama Ghifar. Dia sayang sama kau, dia tahan kau di sini, dia nyoba nyadarin kau, dia nutupin dosa kau sama Ghifar dari Kin. Tapi kau bodoh di sini! Kau tak bisa cegah. Kau tak pernah mau belajar. Kau cerai gara-gara orang ketiga. Kau tau kecerobohan laki-laki itu ada di batangnya. Tapi tak belajar juga kau sampai hari ini. Kalau memang masa itu Ghifar enggan pakai sarung, kau harus minum pil KB. Biar tak begini, Canda! Sealim apapun kau. Dengan kau ngeladenin suami orang begini, orang lain tak akan mandang kau sepolos itu. Nyatanya, kau melakukan hal yang sama dengan penghancur rumah tangga kau dulu." ia menatapku tajam.
Suaranya pelan, tetapi penuh penekanan dan tuduhan. Aku kembali disudutkan dan dituduh. Aku seolah pendosa, sedangkan Ghifar adalah korban.
"Kalau kau tak tau apa-apa, lebih baik kau diam Mas!" aku mendorong dadanya.
"Aku tau! Masa Nadya pulang dari rumah sakit. Ghifar telponan sama aku. Aku sepakat untuk bawa Nadya pulang sore itu, dengan kejutan makian yang luar biasa. Sayangnya, Ghifar dan rencananya milih nahan kau buat besok. Dalihnya luar biasa, alasannya tak bisa diganggu gugat. Aku paham, Canda! Sekalipun penginapan minta kalian pisah kamar, karena tidak adanya buku nikah. Tapi Ghifar bisa kapanpun datang ke kamar kau, dengan dia sengaja ninggalin kamarnya."
Meski hal yang mas Givan tuduh, aku akui kami lakukan. Tapi nyatanya, benih Ghifar tak pernah lepas dari tempatnya.
Kenapa semua orang berpikir bahwa aku hamil dengan Ghifar?
"Gimana, Van?" papah Adi berjalan cepat ke arah kami.
"Dia berulah, Pah. Yang lain udah nunggu di kamar." mas Givan menoleh ke arah papah Adi.
__ADS_1
"Tolong jagain itu anak-anak di meunasah! Tungguin mereka sampai selesai. Ada bendera kuning, ada yang wafat, mereka pada takut lewat. Sana gantiin Tika, barangkali anak-anak Tika ngamuk nanti kalau Tika kelamaan." papah Adi merangkulku, lalu ia menepuk bahu mas Givan.
"Ya, Pah." mas Givan berlalu pergi.
Dengan aku yang digiring masuk ke kamar utama oleh papah Adi. Nafas beliau terdengar begitu ngos-ngosan, pasti papah Adi berjalan cepat dari meunasah sampai ke rumah.
Saat aku masuk, terlihat Kin tengah menangis di pelukan mamah Dinda. Terlihat juga, Kaf tengah menyusu pada Kin. Begitu mengiris, ibunya menangis, anaknya menyusu dengan rintihan. Sedangkan Ghifar, ia hanya diam dengan memperhatikan tembok yang kosong.
"Kenapa, Dek?" papah Adi langsung duduk di sebelah istrinya.
Kemudian, ia merangkul pundak istrinya dengan tangan mengusap surai Kin yang terekspos.
...****************...
Salah aku juga, karena jatuh cinta 😭 cinta pembodohan 😣😩
__ADS_1