Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD375. Malam liburan


__ADS_3

"Begini loh namanya liburan. Mau rebahan sih, di rumah juga bisa."


Lepas ashar selesai ia kata? Nyatanya, baru sampai villa selepas isya.


"Liburan itu rebahan, males-malesan di kamar." itu adalah definisi liburan untukku.


"Tiap hari kan kau begitu." ia melangkah lebih dulu ke kamar mandi.


"Kin cucu." Ceysa mengucek matanya.


"Bilas dulu, nanti dimarahin yayah." aku melepaskan pakaiannya.


"Inin, Iyung." Ceysa merengek, dengan menggosok-gosok wajahnya.


Ia sudah mengantuk, karena tidak tidur siang. Ia begitu bahagia, saat kami naik kapal cepat tadi. Itu hal baru untuknya, juga untukku.


Karena saat menyebrang dari Banda Aceh tadi, kami menggunakan kapal penumpang yang lumayan sesak. Kami tidak bisa menikmati perjalanan kami tadi.


"Cebok aja deh, cuci muka." aku melepaskan diapersnya, lalu menggendongnya ke arah kamar mandi.


Tok, tok....


"Yayah, Adek Ceysa mau bilas."


Setahuku, biasanya di penginapan itu kamar mandi menggunakan shower box.


Aku langsung masuk saja, karena pikiranku pun mas Givan aman di dalam shower box. Sedangkan aku hanya butuh keran air, untuk membilas Ceysa. Entah di wastafel, atau di keran air.


"Hei!"


Aku langsung memutar tubuhku, dengan menutupi mata Ceysa menggunakan telapak tanganku. Perkiraanku salah, mas Givan mandi di bawah guyuran shower ternyata. Tidak ada shower box di sini, yang ada malah bathtub.


Jika hanya menggunakan shower box kan, air cipratan pasti ke mana-mana. Tapi ya sudahlah, mungkin memang konsepnya begini.


"Ceysa mau bilas, Mas. Dia udah ngantuk." aku berkata masih dengan membelakanginya.


"Bentar-bentar, pakai CD dulu."


Percuma juga, tadi aku sudah melihat. Klimis, mungkin ia sudah menebang rindangnya pepohonan di sana.


"Dah tuh."


Aku langsung berbalik, kemudian membawa Ceysa ke salah satu sudut yang terdapat wastafel. Dari sini pun, tubuh mas Givan terlihat jelas dari pantulan cermin di depan wastafel.


"Inin, Iyung." Ceysa menangis, menolak tubuhnya di basuh air.


Perlu kalian tahu, Ceysa anti air dingin. Ia pasti kalap dengan air dingin, karena ia selalu mandi dengan menggunakan air hangat.


"Udah nih, keteknya aja." aku membawanya dalam handuk yang berada di pundakku.


Aku langsung membawanya keluar dari kamar mandi, kemudian mengoleskan minyak telon agar tubuhnya nyaman.


Namun, belum juga dipakaikan pakaian. Matanya sudah terpejam dalam kenyamanan.


"Pakaikan baju hangat buat Ces, tadi angin-anginan terus. Takut drop."

__ADS_1


Aku menoleh ke ambang pintu kamar mandi. Seksinya duda anak tiga kemarin itu.


Ia tengah mengusap kepalanya dengan handuk kecil. Dengan handuk putih, yang melilit di pinggangnya.


"Ya, Mas." aku memakaikan Ceysa baju langsungan bercelana panjang dan memiliki lengan panjang.


"Sana kau mandi dulu."


Aku hanya mengangguk. Kemudian membenahi bantal, agar Ceysa tidak terjatuh. Setelahnya, aku masuk ke dalam kamar mandi.


Untungnya, tadi Ceysa sudah makan malam. Kami pun sudah mengisi perut kami, sebelum kembali ke villa.


Setelah membersihkan diri. Aku cuek saja pada mas Givan, aku fokus untuk menggunakan skincare rutinku sebelum tidur.


Ia tengah memainkan ponselnya, sesekali ia menoleh ke arah jam dinding. Entah ada masalah apa dia dengan ponselnya.


"Ya, hallo."


Oh, dia melewatkan panggilan telepon rupanya.


"Kenapa memang, Put? Udah di take over sama mamah kok. Belum selesai apanya? Aku ada bukti transaksinya." mas Givan ngotot-ngotot dalam panggilannya.


Putri rupanya.


Hufttt....


Kapan mas Givan benar-benar selesai berurusan dengan Putri.


"Heh, jaminan itu kan kalau aku tak bisa balikin modal dari kau. Nyatanya kan, aku bisa balikin itu."


"Bawa-bawa itu lagi! Itu di luar masalah bisnis kita kemarin. Toh, aku juga udah ada obrolan. Anaknya juragan terkaya di kecamatan Bukit aja tak sampai tuh milyaran. Giska cuma dua ratus juta, dicicil dan dinego dapat 39 mayam dan kisaran uang lima puluh juta aja. Memangnya siapa kau? Kan gitu?" nada bicaranya naik turun membuatku penasaran.


Duh, aku sampai lupa menggunakan serum wajah.


"Tak ada! Tak ada! Heh, yang hafizah Qur'an aja belum tentu bawa aku masuk ke surga. Jangan ngadi-ngadi ya kau!"


Apa sih?


Aku memutuskan untuk memutar tubuhku. Lalu berjalan mendekat, berniat menimbrungi obrolan mereka dalam telepon tersebut. Tak apa aku sedikit tidak sopan di sini.


"Kenapa, Mas?" aku pura-pura tidak tahu bahwa mas Givan tengah sibuk dengan ponselnya.


Mas Givan menoleh ke arahku. Terlihat ia gelagapan, seperti ketahuan selingkuh. Kalau memang mas Givan selingkuh, aku akan mengadukan pada mamah Dinda. Biar saja mamah Dinda yang memproses anaknya sendiri.


Namun, mas Givan malah langsung meraup bibirku dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


Shruppp....


Hilang sudah serum bibirku.


Frustasi aku. Padahal baru tancap tadi.


Suara seseorang yang aku kenal itu, berbicara cepat di dalam telepon. Tetapi, sepertinya mas Givan enggan meladeninya lagi.


Matanya seperti melihat santapan yang nikmat. Aku sebenarnya takut dengannya. Aku ragu dengan skillnya. Aku khawatir ia menyakitiku, dengan sorot yang tidak sabaran itu.

__ADS_1


"Siapa yang duluan?" pertanyaannya cukup ambigu.


Aku hanya menatapnya, karena aku kebingungan di sini.


Tetapi, tiba-tiba ia menurunkan ponselnya. Aku bisa melihatnya menyentuh ikon merah di layar ponselnya, kemudian ia pun menyentuh ikon pesawat terbang.


Ia dalam mode tidak ingin diganggu.


Aku mundur satu langkah. Merinding rasanya, melihat kedua tangannya terulur seakan ingin mencekiknya.


"Kenapa, hm?"


Bertanya pula!


Apa ia tidak tahu, bahwa aku ketakutan melihatnya. Mas Givan seperti devil berbadan merah, yang memiliki tanduk di atas pelipisnya.


"Aku duluan ya?"


Sudahlah! Terserah saja!


Aku menyesali memakai skincare lebih awal. Habis sudah karena air liurnya.


Bete?


Jelas dan pasti.


Hanya saja, aku tidak nyaman dengan perlakuannya. Ini sedikit asing menurutku. Atau memang, aku masih terbiasa mendapat sentuhan bang Daeng? Sehingga mendapatkan sentuhan ayahnya Chandra, begitu tidak nyaman rasanya.


Rasanya merinding, hingga kulitku bagaikan ayam yang dicabuti bulunya.


"Kenapa, hm?" ia membawa kedua tanganku di atas kepalaku.


Aku hanya menggeleng, kemudian memalingkan wajahku.


Entah kenapa, aku malah tidak b*rahi. Bisakah aku melayaninya malam ini?


Aku menatap kaki Ceysa yang terbungkus celana panjang itu, terlihat jelas di depan mataku. Karena aku sekarang berada di bagian ujung ranjang, dengan kakiku menjuntai ke lantai.


"Canda...." punggung mas Givan naik kembali, ia membawa wajahku untuk melihat wajahnya.


"Kau tau kan aku tak suka kau diam. Kalau memang belum bisa aktif, setidaknya kau harus bersuara. Cukup suara, kek kita dulu. Bisakah bikin seneng aku sedikit aja? Atau, kau mau aku nikmatin suara perempuan lain? Apa kau mau aku cari perempuan lain? Beli, pakai, selesai contohnya." telunjuknya mengukir sesuatu di wajahku.


Apakah aku bersalah lagi di sini?


Gai*ahku tidak bangkit. Aku tidak punya selera untuk meresponnya.


"Ohh, jadi baiknya rumah tangga kita tanpa se*s kah? Kau tunaikan kewajiban kau sebagai ibu, dengan aku yang tunaikan kewajibanku sebagai seorang ayah. Hanya itu, tanpa kita ada di ranjang yang sama. Aku tersinggung dengan sikap kau."


Setelah mengatakan hal itu, mas Givan memilih enyah dari atas tubuhku. Ia melenggang pergi ke kamar mandi.


Aku harus bagaimana?


Sedangkan, aku benar-benar tidak bisa terbangkitkan sama sekali.


...****************...

__ADS_1


Duh, gimana nih 😨


__ADS_2