
...Semoga gak bosen ikuti alur cerita dari author 😅 CRAZY UP...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hingga beberapa saat kemudian, kantong infus sudah terpasang di tiang infus yang terhubung dengan brankar ini.
"Saya tinggal dulu ya?" perawat tersebut berlalu pergi dengan senyum ramahnya.
Ghifar langsung masuk. Urat wajahnya tidak bisa disamarkan, ia seperti panik dan khawatir.
"Mamah udah dapat kamar. Kau nanti dipindahkan, sambil nunggu hasil tes darah." ungkap Ghifar kemudian.
Ghifar mengusap tengkuk lehernya, "Apa kau mau buang air kecil atau besar? Papah telpon, kau butuh diapers tak katanya." Ghifar seperti ragu-ragu saat mengatakannya.
"Aku tak kepengen BAB, tapi memang pengen BAK." aku menahan kencing sejak di mobil tadi.
"Duh... Gimana ya?" Ghifar garuk-garuk kepala, ia merogoh ponselnya kembali.
"Bentar ya?"
Aku hanya mengangguk.
Ghifar keluar kembali dari dalam tirai ini. Mungkin ia ingin menelpon papah Adi kembali.
Namun, mamah Dinda langsung muncul dengan urat-urat wajahnya yang terlihat tegang.
"Gimana, Mah?" Ghifar langsung masuk kembali ke dalam ruangan yang disekat tirai.
"Udah Mamah urus. Nanti di ruang inapnya aja."
Benar saja. Brankar yang aku gunakan ini langsung didorong kembali. Aku melewati beberapa ruangan, aku pun masuk ke dalam lift berukuran besar.
Hingga sampailah aku di ruangan yang cukup luas.
Aku diangkat oleh Ghifar, papah Adi dan perawat untuk dipindahkan ke brankar kamar.
"Pasang kateter urin aja, Sus." tukas mamah Dinda.
"Sebentar ya, Buk. Akan ada dokter yang memeriksakan keadaan Ibu Canda dulu." sahut perawat tersebut.
"Tinggal nurut aja tuh! Anak Saya nahan kencing dari tadi."
Hah?
Perawat pun kena semprot.
"Baik, Bu." perawat tersebut berlalu pergi.
Papah Adi merangkul istrinya, tangannya mengusap-usap lembut lengan istrinya.
__ADS_1
"Orang itu, Dek. Masa iya dimarahin juga?" tutur papah Adi.
"Istirahat, istirahat." ujar Ghifar, dengan menunjuk spring bed yang berada di samping kananku yang berjarak sekitar tiga meter dari brankar yang aku tempati.
Di sini juga ada televisi tembok dan ada satu set sofa beserta mejanya. Ada pintu lain, yang mungkin itu adalah kamar mandi untuk kamar ini.
"Permisi." ada perempuan yang menggunakan jas putih masuk ke ruang inapku.
Ia menunjuk Ghifar, dengan mata yang membulat.
"Keluarga kau, Far?" tanyanya dengan ekspresi yang berubah ramah.
"Iya, ipar aku." jawab Ghifar dengan senyumannya.
Ia mengangguk, "Permisi ya?" ia menggunakan stetoskop.
Beberapa pertanyaan ia berikan. Lalu, ia pun bertanya mengenai aktivitasku akhir-akhir ini.
Lalu dokter yang mengenal Ghifar itu menoleh ke arah Ghifar, papah Adi dan mamah Dinda.
"Salah satu keluarganya bisa ikut Saya?"
"Bisa." mamah Dinda langsung menyanggupi.
Kenapa dokter tersebut tidak menjelaskan langsung di depanku?
Saat dokter dan mamah Dinda hendak keluar. Masuk perawat yang kena amarah mamah Dinda tadi, dengan mendorong meja stainless yang memiliki roda di bagian bawahnya.
"Permisi ya?"
Benarkah aku mau dipasangkan kateter?
"Bang, Ghifar. Sini keluar dulu!" seru mamah Dinda yang sudah berada di depan pintu.
Aku ditinggal hanya dengan seorang perawat. Aku diganti menggunakan baju pasien, yang berwarna biru muda ini.
"Maaf ya, Bu."
Sungguh aku malu sekali, saat k*malu*nku dilihat oleh orang lain seperti ini.
"Tarik nafas, Bu."
Aku mulai merasa tidak nyaman. Aku hanya bisa terdiam dengan memejamkan mata.
"Buang nafas."
Ya ampun, aku merasa BAK dengan sendirinya.
Lalu perawat tersebut mengatur selang dan kantongnya. Ia menyuntikan sesuatu ke selang infusku.
__ADS_1
"Buka puasa belum, Bu?" tanyanya kembali.
"Belum dibatalin." jawabku kemudian.
"Iya, silahkan makan minum dulu. Untuk beberapa waktu, Ibu tidak diperbolehkan untuk berpuasa."
"Iya, Sus." sahutku kemudian.
"Mari, Bu." ia tersenyum ramah, dengan berlalu pergi.
Aku di ruangan sendirian. Papah Adi dan Ghifar tak kunjung masuk ke ruangan menemaniku. Entah mereka ke mana.
Namun, perawat yang tadi tiba-tiba masuk kembali.
Ia hanya tersenyum ke arahku, lalu ia berjongkok di bawah brankar yang aku tempati.
"Kenapa, Sus?" aku terheran-heran.
"Ganti kantong urin. Mau dipakai sampel." sahutnya kemudian.
"Paling lambat, sore ini hasilnya keluar." ia berlalu pergi dengan terburu-buru.
Kemudian, Ghifar muncul dengan membawa bantal dan selimut milikku.
"Nyaman tak bantalnya? Pakai bantal ini, Dek." Ghifar menaruh bantal tersebut di sampingku.
Ia tengah menyelimuti bagian kakiku.
"Kurang nyaman, Far." jawabku dengan memperhatikan aktivitasnya.
Ia mengangguk. Lalu ia langsung mengalungkan kedua tanganku ke lehernya. Seperti caranya mamah Dinda membantuku bangun, saat aku bersalin dulu.
Bantal sudah berganti, Ghifar menaikan selimutku lagi sebatas dada.
"Papah lagi beli makanan. Nanti ya?"
Aku hanya mengangguk. Ghifar menarik kursi, kemudian membawanya di dekat ranjangku.
"Jangan sakit-sakitan. Tak punya suami, tak ada yang urus." ia berkata dengan tertawa samar.
Aku menyambungi tawanya. Agar suasana sedikit rileks.
"Kenal dokter tadi, Far?" tanyaku kemudian.
Ia mengangguk, "Dia......
...****************...
Dia siapa 🥺
__ADS_1