Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD236. Diri Givan


__ADS_3

"Berapa Lendra jatah Jasmine?" tanyaku kemudian.


Putri menoleh ke arahku, "Gak nentu. Tapi dia pasti kirim tiap bulannya. Sejak kejadian itu, sampai hari ini, dia belum pernah ngirim lagi. Mungkin dia bener-bener gak ada pemasukan." jawabnya kemudian.


Bang Daeng ternyata bertanggung jawab pada keturunannya. Pantas saja ia memiliki banyak channel pekerjaan. Ternyata, ia memiliki banyak tanggung jawab.


"Iya lah. Dia langsung Mamah resign semua, nama pun udah bersih. Misal keendus polisi, nama dia aman sampai sekarang." tambah mamah Dinda.


"Dia sama ayahnya di Banda Aceh keknya, Mah. Setelah dia diusir dari sini tuh. Kita masih stay di sini sekitar satu minggu. Nyatanya, pembicaraan banyak pun. Kita tak dapat jalan keluar. Aku pun, ngerasa Lendra udah gak bisa diharapkan. Lendra banyak rahasia, aku gak tau dia bisa sesuai inginku. Sama Givan pun, sebenarnya belum ada kejelasan. Gak ada rencana pernikahan untuk waktu dekat."


"Takutnya, kau udah habis-habisan sama kek ke Lendra gini. Terus, Givan kabur lagi setelah PT punya dia stabil." mamah Dinda memijat pelipisnya.


"Makanya aku ngomong ke Mamah. Aku pengen tukar pikiran dan butuh pendapat. Kalau Givan, cuma jawab jalani dulu aja, aku masih pengen sendiri. Mamah percaya gak? Dia ini hubungi aku, kalau dia mau tidur aja. Itu pun gini di chattingnya. Aku udah sampai rumah, aku capek, mau tidur, jangan spam."


Aku dan mamah Dinda terkekeh geli.


Ya ampun, mas Givan masih sombong saja.


"Awal ceritanya gimana? Bisa-bisa jadian gini tuh?" mamah Dinda masih tertawa saja.


"Awalnya, masalah saham sama kerjaan. Pas dia bilang jaminannya badan dia, di situ kejadian tukeran badan." Putri berbicara dengan terbata-bata.


Pantas saja. Ini pengakuan dosanya.


"Tapi aman, Mah. Gak bakal punya adik lagi buat Jasmine atau Zio." Putri menutupi wajahnya sendiri.


"Gatal!" maki mamah Dinda dengan tawanya.

__ADS_1


"Ya udah, terus tuh katanya nikah. Tapi nanti, gak sekarang. Kata Givan juga, banyak yang harus dia tata, terutama hatinya. Dia ada sedikit jujur, tapi lepas itu dia cepat-cepat kabur."


Hubungan mereka memang sudah ada planning. Tapi memang belum jelas.


"Apa itu?" aku menyambar pertanyaan untuk Putri.


"Dia masih sakit hati sama mantannya yang orang Majalengka. Dia bilang, aku udah gak cinta sama dia. Tapi aku masih ingat penghinaan yang kakaknya kasih, aku sakit hati dan ngerasa malu sampai sekarang. Karena didorong dan dipukul sampai tersungkur. Terus, ada masalah yang bikin aku sedikit trauma sama rumah tangga. Gitu, Canda."


Ai Diah. Penyebab perubahan pada diri ayah Chandra. Trauma rumah tangga, mungkin dengan Nadya.


"Papah udah tau tentang itu. Papah udah cerita ke Mamah." tambah mamah Dinda.


Mamah Dinda membuang pandangannya ke arah lain, lalu ia menghembuskan nafasnya kasar.


"Kata Mamah sih, Put. Kau jangan terlalu berharap sama Givan. Dia ini belum sembuh hati dan pikirannya. Entah sih karena trauma, entah karena sakit hatinya. Mungkin karena perceraian Mamah dulu. Mamah ngerasa, dia jadi anak yang tumbuh cuma sayang sama ibunya. Jadi kek pemikiran dia itu udah salah. Memang, anak laki-laki itu selamanya milik ibunya. Tapi, ada hak istrinya di dalam dirinya. Jadi Givan ini kek terlalu sayang sama Mamah, tapi gak demikian sama istrinya. Apa lagi, sama Nadya kemarin. Jangankan er*ngan kenikmatan dari wanitanya terdengar, dia pulang ke istrinya pun enggan." mamah Dinda memutar pandangannya kembali pada Putri, "Jangan terlalu sering ketemu sama Givan. Jangan terlalu sering berhubungan sama dia. Mamah takutnya, semua udah terjadi dan percuma. Takutnya, kalian menikah karena kau udah hamil. Givan tak akan benar-benar ngurus kau, kau pasti diperlakukan sama kek Nadya kemarin." lanjut mamah Dinda kemudian.


"Kalau tatap muka, memang jarang Mah. Tapi namanya laki-laki, kalau butuh pasti dicarinya aku."


"Aku tau, kau pandai Put." tambahku kemudian.


"Iya, Nih. Jangan mau lah, apa lagi gratis. Mana kau yang diporotin lagi, sampai triliunan pula." mamah Dinda memojokkan Putri.


"Iya, Mah. Aku usahain." Putri menundukkan kepalanya.


"Givan tuh Givan. Fira yang dipacarin bertahun-tahun aja, masanya Fira hamil ditinggal." Putri terlihat kaget, saat mamah Dinda mengatakan hal itu.


"Duh, aku takut kejadian lagi." Putri mer*mas-rem*s jarinya sendiri.

__ADS_1


"Nah iya. Makanya, jangan stay terus sama Givan. Kau tinggal bareng kah sama dia? Sering kah berhubungan?"


Putri menggeleng, "Jarang, paling dua atau tiga kali. Aku tinggal di daerah kota, Givan tinggal di daerah kampung. Untuk stay, aku memang satu pulau sama Givan, aku di Kalimantan juga. Bantu aku ya, Mah. Kalau memang Givan gak ada planning ke depannya, mungkin aku cari bantuan lain ke PT lain, biar bagi saham juga dari PT Adi Wijaya. Bukannya aku nyari ayah Jasmine untuk buat akte kelahirannya. Tapi, aku udah pengen berumah tangga. Aku udah hampir kepala tiga, aku udah dua puluh sembilan tahun. Aku udah pengen di rumah, urus anak, antar anak sekolah, biar suami aja yang urus perusahaan. Aku kek udah bosen kumpul sana sini, pakai rok span, baju resmi. Udah pengen disayang suami, dikasih perhatian, ditemenin tidurnya." Putri menggenggam tangan mamah Dinda.


"Mau diarahkan gimana? Givan belum bisa nata kehidupannya. Kalau kau udah sama-sama kek gini, kau paling cuma jadi tempat pembuangan benihnya aja." ucapan mamah Dinda cukup frontal.


"Tolong nasehati Givan, untuk aku, untuk masa depan aku. Entah kenapa, aku ngerasa Givan orang yang tepat. Aku gak apa, Givan bawa tiga anak juga. Toh, aku pun bawa satu anak orang lain."


"Karena mas Givan ganteng kali. Makanya kau tersepona." tambahku kemudian.


"Terpesona, Canda!" mamah Dinda melirikku tajam.


Susana menjadi cair, karena aku dimarahin mamah Dinda barusan.


"Iya, Putri terpesona. Mas Givan ganteng, kak Anisa pun pernah bilang gitu." aku tak mau memuji mantan suamiku sendiri. Nanti ia besar kepala, kalau ia tahu ini.


"Memang ganteng, tapi aku begini bukan karena gantengnya. Dengan dia bisa buat usahanya sampai di situ, dia kelihatan bagaimana sifatnya. Dia ini pandai loh, Canda. Dia punya step, perencanaannya matang, dia pun gak licik kek Lendra. Buktinya aja, PT. Putra Tunggal Berintan ini gak dia bangun lebih awal. Cuma perencanaan aja, karena dia sadar bahwa dia belum genggam izinnya. Putra Tunggal itu kan didirikan bukan dari dia, meski pakai identitas dia. Kau paham gak?" Putri memperhatikanku.


Putri cocok jadi teman ngobrol. Tapi tentu, itu bukan kelasku. Hanya mamah Dinda yang bisa mengimbangi obrolan Putri.


"Dia tak bakal ngerti." mamah Dinda sudah tajam saja melirikku.


Aku hanya bisa meringis kuda pada mamah Dinda.


"Intinya, Givan ini orangnya diem tapi otaknya muter. Saat rencana udah mulai berjalan, stepnya jelas, langsung berjalan. Kehidupannya mungkin begitu. Cuma, dia belum dapat start-nya aja."


Aku baru mengetahui, ternyata pendirian mas Givan seperti itu. Dia memiliki rencana masa itu, sayangnya ia ceroboh bersama Nadya.

__ADS_1


...****************...


Siapa yang baru ngeh Givan sehebat ini? Manusiawi, ada sisi baik buruknya.


__ADS_2