Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD172. Mengobrol


__ADS_3

"Maaf." mas Givan hanya mengeluarkan kata itu dengan menundukkan kepalanya.


"Buat apa maaf-maaf, udah tak guna juga. Harusnya, dulu itu buka mulutnya. Bukan cuma bisa nyuruh masak, urus anak, beresin mainan, cucikan baju, seterikakan baju, beresin kamar, ganti sprai. Dulu, kesannya aku ini kek pembantu yang merangkap jadi baby sitter. Kapan pernah ngajakin ngobrol? Bergurau? Kalau transparan, setidaknya aku pun bertahan juga bisa. Aku diminta bertahan, tapi tak dijabarkan niat baik kau. Capek tau jadi aku tuh. Aku juga pengen dibikin seneng, aku juga pengen dibikin kenyang, aku juga pengen dibikin bahagia. Bukan cuma disuruh dan diatur aja." sahutku kemudian.


Aku benar-benar kesal, jika ingat tingkahnya dulu.


"Intinya sih kurang komunikasi." ucap papah Adi, setelah kami cukup lama terdiam.


"Terus kemana sofa ruang keluarga, meja makan, terus kursi teras itu? Betul dijual Nadya?"


Aku sampai melongo, mendengar lemparan pertanyaan dari mamah Dinda.


"Satu set meja makan itu seratus dua puluh juta loh, Far. Papah ngumpulin empat tahun di luar uang jatah Mamah, biar bisa punya satu set dua belas kursi itu."


Semahal itu?


Aku sampai terperangah, mendengar penjelasan papah Adi dalam mengusahakan untuk membeli furniture di rumah ini.


Mas Givan terlihat begitu kaget, bola matanya sampai terlihat membulat sempurna.


"Iya, dijual Nadya. Coba Mamah tanyakan aja ke dia, aku tak ikut campur."


Aku geleng-geleng kepala, mendengar jawaban mas Givan.


"Nadya istri kau, itu tanggung jawab kau. Otak kau di mana sih?!" kesalku padanya.


"Terus, sofa ruang keluarga kemana? Sofa penuh kenangan itu tuh, Van. Dari mamah nempatin rumah ini, langsung beli satu set sofa itu."

__ADS_1


Pantas saja tadi ruang keluarga hanya dialasi karpet permadani saja.


"Dijual juga. Mobil dia juga dijual. Tanyakan aja ke Nadya lah, aku pusing kalau mikirin begini-begini." ucapnya dengan melenggang pergi.


"Van... Van...." papah Adi menyusul mas Givan.


Mamah Dinda membuang nafasnya kasar, ia menyandarkan punggungnya. Pandangannya lurus ke depan.


"Ya, gimana lagi Dek? Mamah capek teriak-teriak, lepas pita suara maki-maki Givan semalam tapi tak guna. Takut gila sendiri, ngadepin anak sulung yang paling ganteng ini. Disuruh ke papah kandungnya aja sana, udah bukan waktunya dia jadi rebutan lagi. Mau lepas gitu aja, papah Adi tak tega. Semalaman tuh papah sama Mamah ngobrol ngalor ngidul. Ya itu, pusing mikirin si sulung aja. Ditambah lagi, papah ini orangnya perhitungan. Sebetulnya, dia tak begitu genggam ke anak-anaknya kalau masalah uang. Tapi semalam, papah malah minta ganti rugi perihal uang modal tambang. Papah udah buat rencana, ajuin pengadilan buat gugat Givan sama papah kandungnya. Ditambah lagi, masalah meja makan itu bikin papah tambah murka. Tak bisa ganti, katanya Zio mau dijual aja."


Di akhir kalimat mamah Dinda, aku malah cekikikan.


Mamah Dinda menoleh ke arahku, lalu ia pun menyuarakan tawanya.


"Beneran, mau dijual aja itu cucu katanya. Burung kicaunya papah sampai tinggal berapa biji aja, gara-gara dijual-jualin terus sama Nadya. Sama Ziyan juga, papah kek tak sudi betul megang. Kau tau kan, Aksa ini bukan cucu kandung keluarga ini?" aku mengangguk merespon, mendengar obrolan beliau.


"Sama Aksa, papah tuh tak beda-bedakan. Sama Ziyan, dia kek liat ulet bulu. Padahal, lucu juga itu bocah." lanjutnya kemudian.


"Mamah tuh cuma bisa nenangin diri, sama nenangin papah. Karena kondisi Nadya pasca sesar, mamah tak mau bikin dia drop. Nangis dia di situ, bodohnya lagi malah gugat warisan itu Nadya. Papah langsung bilang, dihitung langsung jumlah bagian Givan, terus sana pergi dari rumah ini. Winda yang seolah menantu tiri aja, dia tau cara menghormati, menempatkan diri, biar mertua bisa suka ke dia. Lah ini si menantu tertua, kepala kek tak ada isinya. Segala bilang, barang-barang di sini ada hak suaminya. Koleksi tas Giska, di lemari kamar Giska. Dijual-jualinnya juga, Giska pas tau langsung nangis. Ada lucu ada kesel, Giska nangis sambil ngoceh gini... Aku beli tas mahal itu sampai jual chip domino, kau main enak jual-jual aja." mamah Dinda menirukan suara tangis Giska sembari mengoceh.


Sudah bukan rahasia lagi, jika Giska memang sering menangis. Sakit haid pun, semua orang dibuatnya repot dan tak bisa tidur karena tangisannya.


Aku tertawa geli bersama mamah Dinda. Akhirnya, hari ini aku bisa mengobrol lagi dengan beliau.


"Terus gimana lagi, Mah?" tanyaku kemudian.


"Terus Zuhdi bawa Giska pulang. Kan mereka udah punya rumah sendiri, ya memang tak sebesar ini. Nanti besok kita main-main ke rumah Giska." jawab mamah Dinda dengan menyentuh pahaku.

__ADS_1


"Jadi kamar Giska siapa yang nempatin?" kamar bak milik tuan putri itu, ternyata kini jadi sasaran pencurian di rumah ini.


"Kosong. Pikir Giska, kan dia bakal sering main. Tidur siang, atau nginep sesekali di sini. Tapi sejak dia melahirkan ini kan, dia di rumah sana, ibu mertuanya juga bantu urus kalau siang aja."


Aku manggut-manggut mengerti. Aku iri pada Giska, karena mertuanya begitu sayang padanya meski Giska tidak bisa melakukan semua tugas ibu rumah tangga. Saat hamil muda pun, mertuanya sering kali mengiriminya makanan dan buah-buahan.


"Kok Nadya berani sih jual-jualin barang di rumah ini, Mah? Terus gimana kata ipar-ipar yang lain. Kin ini kan, pengganti Mamah sejak Mamah pergi ke Brasil."


Setahuku, mas Givan galak. Jangankan untuk menjual barang-barang di rumah ini, makan makanan di dapur jika bukan milik sendiri pun tidak diizinkannya.


"Nah itu. Kata Tika, Nadya ini berani ke suami. Givan jarang pulang juga katanya, lebih suka tidur di toko material. Waktu ada Kin di sini sih, katanya masih aman, Kin sampai pasang cctv di setiap sudut, kecuali kamar mandi sama kamar yang ditempati. Tapi pas Kin liburan, udah dia panen barang. Mana kan, Ghavi ini tak bisa apa-apa karena kakinya cidera. Ghava kan tak tinggal di rumah ini, cuma memang Winda sering bolak-balik ke sini. Tika kan orangnya kek kau, dia tak berani ribut. Jadi, majulah si Winda. Makanya, mau ngajuin pengadilan ini karena berkas dan bukti udah disiapin sama Winda. Winda kan kau tau sendiri? Pandai dia kalau ngomong, apa lagi masalah hukum yang memang kesukaannya. Kalau bahas tentang berita pemerintahan, kan klop betul sama papah."


Aku manggut-manggut, aku bisa membayangkan semuanya dari cerita mamah.


"Kasian loh, Mah. Nadya pasti punya alasan. Kata mas Givan tadi kan, mobilnya Nadya sendiri sampai dijual. Berartikan, bisa jadi ada masalah sama perekonomian mereka."


Mamah Dinda menyentuh lenganku, posisinya serong menghadapku.


"Pikir Mamah juga gitu. Pasti nih Givan kasihnya asal aja, mana Ziyan sufornya kenceng. Nanti deh, besok coba Mamah ngbrol sama Nadya. Mamah pengen tau dari sudut pandang Nadyanya."


"Betul, Mah. Aku dulu aja dijamin lima puluh sehari, bukan tak mungkin itu pun kejadian sama Nadya." aku merasakan sendiri menjadi istri mas Givan dulu.


Mamah manggut-manggut, lalu ia bangkit dari duduknya.


"Turun ke bawah yuk? Masih jam setengah tiga, kita berbaur dulu sama yang lain. Nanti jam tigaan, bersih-bersih terus siap-siap asharan."


Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah kaki beliau. Aku pun ingin tahu kabar saudara yang lain, aku pun ingin bersenda gurau dengan anak-anak. Terutama Chandra yang sekarang sudah banyak tingkah.

__ADS_1


...****************...


Gak gantung 😌


__ADS_2