Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD129. Celine Trapeze


__ADS_3

"Iya, Gam. Nalendra itu, tau kan?" aku tengah menyambungkan panggilan telepon dengan Agam.


"Aku sih tak ada liat dia dari kemarin. Coba aku tanya scurity dulu, mana tau mereka ada liat." untungnya, Agam belum pulang dari kantor kami.


"Pak, ada liat pak Lendra tak? Sekretarisnya nyariin, butuh tanda tangan katanya."


Alasan itulah yang aku berikan pada Agam. Agam tengah bercakap-cakap dengan seseorang di sana, dengan panggilan teleponku yang masih terhubung.


"Pak Lendra tak ada di sini. Ada briefing pun, dia tak pernah datang kalau tak ada petinggi perusahaan. Bu Raya yang suka seliweran, buat ngurus kerjaan dia. Tapi memang, dari kemarin tak ada datang ke sini. Coba tanya ke bu Raya aja." jawaban scurity itu tertangkap oleh telingaku.


"Ok, makasih Pak."


"Canda..."


"Ya, Gam. Gimana?" aku pura-pura tak mendengar apapun.


"Pak Lendra tak ada datang. Biar aku sambungkan ke bu Raya aja kah? Atau kau ada nomor teleponnya sendiri?" jelas Agam kemudian.


"Ada, Gam. Biar aku telepon sendiri aja. Makasih ya?" aku menyahutinya dengan nada seperti biasa.


Aku tak mau membagi kerunyaman ini tentang hilangnya suamiku.


"Ok, sama-sama."


Aku langsung memutuskan panggilan telepon ini.


Aku menggenggam ponselku, aku masih memandang gang sempit itu. Berharap bang Daeng muncul dari sana, dengan senyumnya yang mengembang.


Apa bang Daeng mengalami kecelakaan kah?

__ADS_1


Aduh, aku jadi kalang kabut sendiri.


Ke mana perginya pejantanku itu?


Apa ia pulang ke rumah mangge, untuk mengambil dokumen kami yang telah jadi?


Buku nikah, kartu keluarga, KTP kami belum ada yang siap. Saat kami meninggalkan Banda Aceh. Pak RT mengatakan, blangkonya habis. Jadi memakan waktu, untuk memperbaharui KTP tersebut. Buku nikah pun, belum sempat kami ambil di kantor urusan agama. Karena mangge menyanggupinya, untuk mengambilkan buku nikah kami.


"Hai... Ngelamun aja, Cantik?"


Aku tersentak kaget, aku langsung mendongak untuk melihat manusia yang menarik pipiku ini. Kenapa aku tidak melihatnya? Apa sebegitu pusingnya aku? Membuat pandangku kabur tak tentu arah.


Aku segera bangkit, lalu menarik tangan kanannya untuk aku cium.


"Abang ke mana aja sih? Aku khawatir tau!" aku langsung memeluk tubuhnya, setelah punggung tangannya kucium.


"Maaf ya? HP Abang rusak, jadi tak sempat ngabarin." lalu ia mengangkat tentengan yang ia bawa, "Abang bawa sesuatu. Masuk yuk?" aku dirangkul olehnya untuk masuk ke dalam kos kami.


"Nih, Abang belikan tas buat Adek. Biar tak pakai tas kerja, kalau mau ke kondangan, atau jalan-jalan ke mall." ia memberikan paper bag yang begitu mewah.


"Apa ini, Bang?" aku merasa tidak pernah melihat tas bermerek ini.


Bungkusnya terlihat begitu mewah. Mungkin ini barang branded, bisa juga tidak. Karena mungkin merek lokal, memiliki harga yang cukup tinggi.


"Tas jinjing tipe Trapeze kalau tak salah. Ini kulit luarnya, pakai kulit sapi. Kulit bagian dalamnya, mereka pakai kulit domba." bang Daeng langsung membukakan tas ini dan menunjukkan padaku.


Aku langsung mengendus aroma tas ini?


Aku mengingat bau sate kambing. Tapi, tidak berbau sama sekali pun. Cenderung bau barang baru memang.

__ADS_1


"Astaghfirullah..." bang Daeng malah mentertawakanku.


"Kenapa, Bang?" aku merasa malu sendiri.


"Ini barang branded dari Prancis. Masa tak pernah tengok merek Celine kah, Dek?" terangnya kemudian.


Aku menggeleng, "Tak pernah tengok keknya aku." jujurku kemudian.


"Ya udah, di simpan. Buat jalan-jalan, ke mall, ke kondangan." ia memberikan paper bag yang tergeletak padaku.


Bang Daeng bangkit, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Aku masih terdiam, dengan memutar-mutar barang branded ini.


Rasa penasaranku belum usai. Benarkah ini barang branded? Tapi kenapa, pikiranku mengarah pada Celine Evangelista. Jangan-jangan, beliau membuka usaha dengan merek ini.


Aku menggapai ponselku, lalu aku mengetikkan Celine Trapeze. Aku masih mengingat bang Daeng mengatakan, bahwa tas ini adalah model Trapeze.


Hah? Mataku hampir menggelinding.


Fotonya pun tertera, persis seperti tas hitam yang aku peluk ini.


Sembilan juta lima ratus rupiah, kisaran harga di market official Indonesia.


Bang Daeng memiliki uang sebanyak ini dari mana?


Jika uang ini dari trip Medan. Lalu, modal trip depan akan dari mana?


...****************...


Dikasih barang matang terus 😌 jadi iri 😩

__ADS_1


__ADS_2