
"Papah tak punya uang. Buat menuhin perut mamah kau, Papah pinjam ke Ghifar. Mamah kau pura-pura tak paham, kalau Papah butuh uang buat beli makanan kita." ujar papah Adi, dengan wajah sendu.
Manusia, tanpa alat tukar pembayaran. Sudah pasti akan bingung.
"Sabar ya, Pah? Mas Givan pun lagi banyak utang." aku mengusap lengan beliau.
"Bingung juga Papah tuh. Bukan mau merepotkan anak, tapi Papah mau kerja juga tak bisa. Bukan karena tenaga terbatas, tapi karena mamah kau sakit. Siapa yang urus? Tak mungkin ibu kau yang urus, mamah masih kewajiban Papah. Tadi aja Papah titipkan mamah ke ibu kau, sekarang tak tau mamah kau sama siapa." papah Adi terlihat murung.
Apa mamah Dinda memikirkan papah Adi diurus siapa, saat papah Adi sakit dan mamah Dinda jauh kemarin? Kalau bisa, semoga mamah Dinda melapangkan hatinya untuk kesalahan papah Adi. Semua orang bisa khilaf.
"Maaf, Pah. Masalah pengaman itu, apa betul Papah pakai pengaman? Terus, apa Papah udah cek darah?" tanyaku kemudian.
Masalah pengaman ini, yang aku takutkan bukan karena pengamannya. Tapi apa benar papah Adi memakai pengaman? Namun, kondisi tubuhnya malah terlihat langsung kurus. Penyakit berbahaya yang ditularkan lewat hubungan itu, biasanya terlihat dari berat badan yang turun drastis.
Namun, beliau malah bangkit dan mengeluarkan dompetnya.
Dasar, mertua kentir!
Ia menunjukkan bungkus kecil berwarna merah itu. Sepertinya rasa strawberry, aku pernah mencobanya dengan suamiku. Aku pun pernah juga mencoba yang berduri dan bersisik, pernah juga yang bisa nyala, hanya agar hubungan tidak monoton. Karena mau bagaimana aku menuruti mas Givan juga, ia tetap sosok laki-laki yang gampang bosan.
"Mamah kau belum monopause. Kalau masa subur mamah kau, mau tak mau Papah yang harus pakai pengaman. Ini, terakhir beli. Isi tiga, yang pertama dipakai mamah kau. Yang kedua, dipakai Bilqis. Nah, sisa satunya ini." papah Adi memasukkan kembali bungkus tersebut dalam dompetnya.
"Udahlah, ini sih udah dewasa. Saring sendiri aja kalimat Papah, yang mungkin terdengar tak sopan." papah Adi duduk kembali di kursinya, setelah memasukan kembali dompetnya dalam saku.
"Papah udah tua, tapi belum pikun. Masalah penyakit, Papah bersih. Waktu di rumah sakit itu, setiap masuk pasti cek darah." tambah beliau kemudian.
"Sih Papah tak gagah lagi?" aku masih memperhatikan beliau.
"Kau aja kenapa tak bisa gemuk rata? Jangan kasih pertanyaan, yang Papah tak bisa jawabnya. Gagah, kurus, gemuk, itu bukan kendali Papah." jawabannya sedikit ketus.
__ADS_1
"Papah tuh sebenarnya tak cinta ya sama mamah? Ngambang betul nampaknya." aku menuduh beliau, karena hanya memancing saja.
"Tak cinta, sakit kaki begitu ya Papah tinggal. Ngerepotin, suruh dia urus dirinya sendiri. Tapi nyatanya, Papah urus mamah kau sekarang. Masalah harta nih ya, Canda. Papah didepak begini, ya udah aja. Papah pun bisa kerja, entah kasaran dengan upah yang tak seberapa. Yang penting cukup untuk pegangan diri sendiri dan jajanin cucu kalau mereka minta jajan. Kemarin kaya pun, tak pernah genggam uang banyak. Sekali ambil uang, kasih ke mamah kau. Papah cuma minta buat pegangan beli bensin sama air mineral aja."
Ya memang sih, papah Adi masih ikut jadi buruh cat dengan Zuhdi. Sampai mamah Dinda datang dengan keadaan cidera kaki, papah Adi tidak bekerja lagi karena mengurus mamah Dinda.
"Masa, Pah?" aku pura-pura tidak percaya, meski aslinya amat percaya.
"Lah, memang dari mamah kau sakit. Apa ada anaknya yang bantu ibunya BAB? Apa ada yang bantunya buat pipis? Apa ada juga yang mandiin atau bilas pakai air hangat? Anak-anaknya cuma datang, buat ajak ngobrol dan nyuruh mamah kau makan aja. Ya memang anak laki-laki, apalagi mamah kau masih muda. Tapi kasarnya kan begitu. Kau aja, tak ada megang buat urus mamah kau. Padahal, pahala berlipat ganda dari ngurus orang tua sendiri. Papah paham, bukan kewajiban kau juga. Papah nyanggupi dan paham itu masih kewajiban Papah. masalah jadi cerai atau gimana, yang penting Papah ngerasa jadi suami yang bertanggung jawab. Karena tak ninggalin atau tak pedulikan mamah kau, pas keadaannya tengah sakit kek gitu."
Masalahnya ada papah Adi di kamar dengan mamah Dinda. Aku takut melihat hal yang tidak senonoh, ketika masuk saja ke kamar mereka. Ya bisa saja, mereka tengah membuat adik untuk mas Givan. Bisa saja kan?
"Papah terpaksa berarti." aku melirik beliau, masih menantikan tanggapannya.
"Terserah kau, Canda. Papah tak butuh pengakuan. Tetap cerai pun, tak bakal ungkit tentang hal Papah ngurusin mamah kau." papah Adi malah memalingkan pandangannya.
"Dah tuh tidur." papah Adi berjalan ke arah kamar mandi.
Meski ibu akan datang dengan mas Givan pun. Lebih baik aku tidur lebih dulu, khawatir Ra mengajak begadang.
Karena perawat bayi bercerita pada mas Givan, bahwa bayi mas Givan begadang full semalaman. Bahkan, bayi Gembul itu tidak mau diletakkan di tempat tidur. Ia tetap ingin berada di dekapan siapapun yang mendengar tangis lepasnya.
Umumnya bayi menurutku. Namun, perawat bayi malah seolah terheran-heran.
~
"Sabar, Canda. Kau tak perlu bilang ke mamah atau ke ibu, kalau kita belum bisa aqiqah si Ra karena kita tak punya uang. Aku fokus ke obat-obatan, buat nyembuhin luka kau dan biar ASI kau lancar." mas Givan membingkai wajahku.
Seperti biasanya saat dulu, ia tidak mau terlihat kesusahan di depan orang tua.
__ADS_1
Setelah empat hari di rumah sakit, aku dan bayiku sudah berada di rumah sekarang. Yang membuatku sedikit plong, karena aku sudah bisa mengASIhi Ra, aku pun sudah mampu berjalan.
Alhamdulillah, ini kemajuan besar untukku. Karena beberapa hari yang lalu, aku hanya bisa berbaring dan merengek.
"Ini obat pesen di luar negeri, empat buah begini, harganya dua setengah juta. Tapi luka kau bisa lekas sembuh, tanpa kau ngerasa nyeri terus-terusan. ASI kau pun tak berpengaruh, karena minum obat ini. Cepat pulih ya? Aku pusing, mamah sama kau sakit. Aku tak ada yang urus, anak kita tak ada yang urus." mas Givan malah bersembunyi di dadaku.
"Mas, kan aku udah beli online jala buat mandi bayi itu. Tak dipakai kah?" aku mendorong tubuhnya, karena sesak dengan keadaan ASIku yang penuh.
"Belum, sore nanti mau coba mandiin Ra sendiri." mas Givan malah bersandar di lenganku.
"Ya Allah, Mas! Ngap kali loh. Pegangan tangan aja coba!" aku pun tengah menyusui Ra soalnya.
Gemas sekali dengan ayahnya ini.
"Ya Allah, Canda." mas Givan malah menarik pipiku berlainan arah.
"Mau bobo, jangan ganggu." mas Givan malah menggulingkan tubuhnya di ranjang.
"Nanti gimana Ra kalau udah selesai ASI-nya?" aku menarik-narik bajunya.
"Gelindingin aja di kasur." ia menjawab sembari tersenyum jahil.
"Tega ya Mas tuh!" aku memicingkan mataku.
"Tak tega! Huh! Ya udah, nanti bangunin aja." mas Givan memeluk sebuah guling.
"Aku pengen merem sebentar. Tiap malam aku begadang terus, nemenin anak kita yang ngoceh aja. Heran, masih bayi juga mulut tuh berisik aja." ia malah menggerutu.
Ya sudahlah, mungkin memang mas Givan lelah.
__ADS_1
Hingga sore harinya, drama mas Givan memandikan Ra dimulai.
...****************...