
"Mas.... Tolongin aku, Mas."
Aku hanya bisa berjongkok di depan wastafel sikat gigi, setelah muntah terus menerus selepas sikat gigi. Sampai-sampai, aku memuntahkan cairan kuning yang begitu pahit.
Braghhhhh....
"Kenapa, Canda?" aku bisa mendengar kekhawatiran pada suara mas Givan.
Ia langsung membantuku bangkit. Cepat-cepat, aku langsung memeluknya begitu erat.
"Aku muntah-muntah terus." aku menangis lepas.
"Ya Allah, Canda." aku merasakan mas Givan mengusap-usap punggungku.
"Makan apa sih? Apa telat makan? Apa efek KB?"
Apa ini tanda kehamilan? Lebih tepatnya, mas Givan harusnya bertanya untuk itu.
Aku mendongak menatapnya, "Mas...." aku takut untuk jujur.
Tapi, aku pun takut jika suamiku telat mengetahui kekhawatiranku. Aku takut bahwa aku benar hamil, dengan mas Givan yang tidak bisa memperlakukan aku sebagai wanita hamil. Aku khawatir benihnya tidak kuat di rahimku.
Mas Givan membingkai wajahku, kemudian mengusap keringatku.
"Biar aku gendong ke kamar. Biar kau minum air hangat dulu." tubuhku langsung terangkat, "Makanya jangan tidur aja coba! Kau telat makan pasti."
Aku direbahkan di tempat tidur, dengan Ceysa yang langsung mendekatiku. Di tangan Ceysa, ada timun yang sudah tinggal setengah. Ia pemakan sayuran mentah juga, seperti ayah sambungnya.
Berbeda dengan bang Daeng, yang selalu makan serba daging.
Anak-anak, tergantung bagaimana orang tuanya makan. Mas Givan juga tidak keberatan, saat anak-anak ikut memakan isi piringnya.
"Iyung apa?" Ceysa menoel-noel pipiku.
"Sakit, Ces. Jagain Biyung ya? Ayah mau ambil air hangat."
Ceysa mengangguk, kemudian ia berusaha naik ke ranjang dengan dibantu oleh mas Givan. Setelah itu, mas Givan berlalu pergi ke luar kamar.
Kamar ini, memiliki kamar mandi di dalam juga.
"Atit apa, Iyung?" wajah Ceysa begitu dekat dengan wajahku.
Ia memundurkan kepalanya lagi, setelah mencium pucuk hidungku. Matanya membuatku merasa ditatap hangat oleh manggenya.
__ADS_1
"Nih, Canda." ia menyodorkan gelas dengan air hangat, "Lain kali nurut coba sama suami! Suami kau ini, tak mungkin mau nyesatin kau. Kau boleh tidur siang, tapi jangan berlebihan. Ceysa tidur siang tiga jam, kau pun tidur siang tiga jam juga. Kan kau jadi telat makan! Belum lagi kau langsung nyuapin Ceysa, jadi kau tunda lagi makan siang kau."
Di hari ketiga di Kalimantan ini, aku malah sakit seperti ini. Dengan suami yang mengurusku, sekaligus dengan omelannya juga.
Aku menyeruput air hangat ini. Kemudian memberikan kembali gelas air hangat itu pada mas Givan.
"Mas...." aku merengek kembali.
"Udah cepat makan! Bentar, aku ambil nasi dulu." mas Givan kembali pergi.
Sarapan apa? Aku belum masak apapun.
Ia datang dengan sepiring nasi dan bungkus makanan berlogo minimarket.
"Ada abon nih, beli sebelum pulang ke Aceh. Tapi belum expired, masih satu tahun lagi." mas Givan segera membukakan bungkus abon sapi itu.
"Mas.... Sama daging aja. Gepuk gitu, atau rendang." abon tidak berasa dagingnya.
"Jangan nyusahin suami! Udah cepat makan! Terus siang nanti, sana kau masak gepuk atau rendang." mas Givan langsung menyuapkan makanan ke mulutku.
"Mas, beli aja. Aku tak bisa masak daging." aku terpaksa mengunyah suapan darinya.
"Sekali aja. Next, masak sendiri. Cukup mamah Dinda dulu yang kena tipes, aku dan keluarga kecil aku jangan." mas Givan menyuapiku dengan wajah cemberut.
Ini seperti halnya kemarin aku disuapi bang Daeng. Kenapa kejadian yang pernah aku lalui bersamanya, kini terulang bersama suamiku yang garang.
"Mas.... Aku nitip testpack ya?" aku pelan-pelan mengatakannya.
Mas Givan mengangguk, kemudian jakunnya bergerak turun. Ia menelan makanannya sepertinya.
"Telat kah haidnya? Abis juga kah pilnya? Nanti sekalian ya aku beli." mas Givan menyuapi Ceysa kembali.
Ceysa begitu lucu, ia makan dengan abon seperti kami. Dengan timun sebagai pelengkap, seperti ia tengah makan ayam goreng.
"Beli testpack aja dulu. Besoknya, gampang beli pil lagi. Soalnya belum habis juga. Cuma belum haid aja, jadi khawatir."
Aku tidak sepenuhnya berbohong di sini. Benar juga kan, jika memang pil KB milikku belum habis? Karena aku bahkan tidak meminumnya sama sekali.
Mas Givan mengangguk, kemudian ia lanjut bersantap sepiring bertiga ini. Setelahnya, ia meninggalkanku di rumah dengan Ceysa.
Rumah yang cukup mewah, tapi terlihat sederhana dan minimalis. Mas Givan membeli cash, seharga dua ratus lima puluh juta. Type perumahan 45/95, PDAM dan PLN aman, termasuk dalam kategori mewah sih. Tapi tidak bak istana seperti rumah mamah Dinda.
Rumah tetangga pun mirip semua, hanya beda cat dan renovasi tambahan saja.
__ADS_1
Rumah ini adalah rumah baru, ia membeli lima hari setelah puasa katanya. Yang artinya, ini bukan rumah yang sama, yang ia pakai berzina bersama Putri.
Mas Givan mengatakan, rumahnya kemarin kampung di pinggiran tambangnya. Rumah panggung khas daerah sini. Rumah dengan kayu seadanya, karena ia sengaja tidak membuat bangunan permanen. Karena memang tidak ada rencana untuk tinggal lama di Kalimantan.
Rumahnya kemarin pun, katanya dekat dengan saudara satu ayahnya. Kalau tidak salah, mas Givan memiliki empat saudara satu ayah.
Malam harinya, aku tengah terbuai rayuannya. Emas bertahta berlian ia hidangkan di depan mataku, dengan syarat tune up dan ganti oli juga.
"Aku ngerasa jadi kek p*lac*r." aku terkekeh kecil, saat mas Givan memakaikan kalung yang berbandul berlian kecil ini.
Sangat sederhana, tapi pasti begitu mahal.
"Oh, iya dong. Bedanya ini halal." mas Givan pun terkekeh geli.
"Kenapa sih harus ada barter gitu?" kini ia tengah memakaikan gelang kaki dengan model lilitan Kecil.
Di ujung gelang ini, ada mata berlian kecil yang mengitari lonceng kecil sebesar kuku jari kelingking kaki. Ya, kira-kira seukuran itu. Karena begitu kecil, tetapi terlihat mata.
"Biar semangat dong. Biar apalagi memang?" mas Givan suka mengubah-ubah ekspresi wajahnya, membuatku tertawa lepas.
Gemasnya suamiku yang agak-agak ini.
"Ayolah mulai." mas Givan membawa tanganku untuk memegang bagian paling atas dari celananya.
"Masa langsung or*l aja?" aku mendongak menatapnya.
"Memang bisa yang lain? Sombongnya kau sekarang! Mentang-mentang bekas orang." mas Givan malah merebahkan tubuhnya dengan ekspresi menyindir.
Bukannya tersinggung, aku malah tergelak mendapat ucapan frontalnya itu. Apa selera humor suamiku ini memang sedikit ekstrim kah? Aku harus mengertinya lebih banyak setelah ini. Agar aku bisa merasakan gurauan berkasih bersamanya.
"Pakai lampu tidur aja ya? Aku malu, Mas." aku berjalan ke arah saklar lampu.
"Iya, sok. Setelah Anda saja lah, Canda. Saya tau beres, tune up dan ganti oli juga. Bila perlu, sekalian steam juga." ia menindihi telapak tangannya, yang ia taruh di bawah kepalanya.
Mas Givan seperti berada di pantai.
"Besok beli li*ge*ie ya, Canda? Enam bulan lunas hutang, insya Allah nanti nyicil alat gym. Biar bisa gym pakai li*g*rie." mas Givan tersenyum lebar dengan memandang plafon kamar.
Sungguh aku tidak bisa membayangkan, bagaimana caranya olahraga menggunakan li*ger*e?
Lampu tidur sudah hidup. Aku memilih setelan yang paling redup, seperti cahaya lilin. Jujur, aku malu jika ia memperhatikanku. Aku tidak percaya diri, ketika matanya mulai menelan*angiku.
...****************...
__ADS_1
Apa sih tune up dan ganti oli ini 🤣