Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD245. Salah paham


__ADS_3

...Pasti ini adalah hari yang dinanti 🤩...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mas Givan mengangkat tubuh Chandra, "Drama terus tuh ngantuk kah? Orang tuh bertingkah aja. Yayah ngantuk, Bang." ujarnya dengan membawa masuk Chandra ke dalam kamarnya.


Untung, untung.


Chandra tidak diamuknya.


"Yayah... Ipan..."


Terdengar Chandra yang terus mengajak ayahnya mengobrol. Sedangkan ayahnya, terdengar begitu berat menjawab Chandra.


"Canda...." mas Givan memanggilku.


"Mah titip Ceysa." aku bangkit, hendak berjalan ke kamar mas Givan.


"Canda...." mas Givan berseru kembali.


"Iya, Mas. Bentar." aku lupa menyahutinya tadi.


"Jangan ditutup pintunya, Dek." pesan mamah Dinda.


"Ya, Mah."


Aku bisa melihat mas Givan yang terle*tang di atas tempat tidur. Sedangkan Chandra duduk di atas perut ayahnya.


"Apa, Mas Givan?" tanyaku dengan duduk di tepian ranjang.


"Mas Ipan." Chandra mengikutiku.


Ia memandangku sekilas, lalu ia fokus kembali pada anaknya.


"Pengen makan sama sate."


"Lah... Ya sana beli!"


Ada-ada saja ayahnya Chandra ini.


"Jangan pakai lipstik coba, jangan dandan dulu. Orang lagi masa nifas tuh."


Kenapa ia tiba-tiba berkomentar tentang hal lain?


"Kambing Ces tak sisa kah?"


Oh, aku mengerti.


"Tak, Mas. Kata papah, dimasak semua aja. Tadi subuh kan, pak kyai cuma potong aja, terus dibawa sama pihak catering kambingnya." terangku kemudian.


"Ya udah. Sore jalan-jalan yuk, Bang. Yayah mau mam sama sate. Abang mau mam sama apa?" ia menarik-narik pipi anaknya berlainan arah.


"Au, Bang au." Chandra tidak mengerti cara menolak makanan.


"Okeh. Sekarangnya, minta Biyung siapin mam Yayah dulu. Biyung, ambil mam Yayah gitu."


Dasar! Banyak basa-basi.


"Minta tolong gitu." aku memperjelas ucapanku.


Mas Givan menoleh ke arahku. Ia tersenyum amat manis.


"Iya, minta tolong deh. Ambilin makan, sama minum. Pengen ngerasain bed rest. Turun kasur, kalau mau ke kamar mandi aja gitu." suaranya terdengar lemas.


"Sakit kah?" tanyaku kemudian.


Ia menggeleng, "Cuma kek pada capek aja." ia menguap lebar.


"Panggilin tukang pijet, tak apa." ucapnya setelah menguap.

__ADS_1


"Makan ambilin, panggilin tukang pijet. Nyuruh-nyuruh terus, upahnya tak pernah turun." aku meliriknya sinis.


Namun, ia malah meraih dompetnya yang berada di atas nakas.


"Kek Ria kau jadinya." ujarnya dengan memberiku dua lembar uang berwarna merah.


"Lagi sih, Mas Givan." aku sebenarnya hanya berpura-pura.


"Agi, mas Ipan." Chandra mengikuti ucapanku lagi.


Mas Givan mengangkat Chandra, lalu membawanya dalam pelukannya.


"Peniru handal. Mas Ipan, mas Ipan. Yayah Ipan, Ipan, Ipan." mas Givan terlihat begitu gemas pada Chandra.


"Canda lagi ngapain tuh?!!!" seru mamah Dinda.


"Bentar, Mah." aku bangkit, dengan memasukkan uang ke sakuku.


"Ambil makan, Canda. Panggilin tukang pijet, jangan lupa."


"Iya, Mas." aku bergegas keluar dari kamar.


"Mah, aku disuruh mas Givan dulu." aku melangkah ke dapur.


Mamah Dinda pun hanya berdekhem saja. Ia tengah anteng bermain ponsel, meski televisi menyala.


Aku menyajikan makanan untuknya, sekaligus dengan air minumnya juga. Sepertinya, mas Givan merindukan seseorang yang mengurusnya.


"Ini, Mas." aku masuk, dengan membawa nampan.


"Yayah mam dulu, Bang. Nanti lagi mainnya." mas Givan bersandar di kepala ranjang.


"Mas... Tadi manggenya Ceysa datang loh." aku membuka obrolan, dengan menemani Chandra bermain menyusun balok susun di atas tempat tidur ini.


Mas Givan mulai bersantap, "Seneng dong. Enak tuh, Ceysa bisa langsung punya adik lagi. Sekali tembak, akhhhh, langsung anget rahim."


Ia tertawa renyah. Aku pun, malah ikut tertawanya saja.


Aku dan mas Givan menoleh ke ambang pintu.


"Kau ngomong apa sih, Put?" ujar mamah Dinda.


"Nih, Zionya. Aku diminta jaga anaknya, tapi dia malah seneng-seneng sama mantan istrinya."


Aku bangkit, untuk bisa melihat keadaan di ruang keluarga.


Ternyata, Zio diberikan kepada mamah Dinda.


"Aku pamit."


Tamu jauh tersebut tidak sopan. Ia bahkan langsung pergi dari pintu samping.


"Ada apa, Dek?" papah Adi baru muncul.


"Putri salah paham." sahut mamah Dinda.


"Kejar itu, Van." papah Adi melongok ke dalam kamar mas Givan.


"Biar nanti, kalau udah jadi istri aja. Biar tak dijemput Ghifar di depan jalan."


Hah?


Aku, mamah Dinda dan papah Adi saling memandang.


"Apa lah kau ini!" papah Adi berjalan ke arah kamarnya.


Mas Givan malah asik bersantap saja. Tanpa memperdulikan kekacauan yang telah terjadi.


Tidak terasa, kini sudah pukul sembilan malam saja. Aku memang akan tidur pukul sembilan malam, karena Ceysa selalu terbangun tengah malam untuk ASI.

__ADS_1


Kamar Giska sedikit cacat.


Bukan cacat juga namanya. Tapi memang belum dipoles kembali. Bekas peredam yang dilepas, membuat tembok menjadi tidak bagus.


Ceysa sudah terlelap. Kini giliran Chandra.


Aku akan mengambilnya di kamar mamah Dinda. Kemudian, akan kuajak dia tidur di kamar.


Aku takut Chandra malah mengganggu aktivitas malam mamah Dinda dan papah Adi. Sedangkan mas Givan, ia pergi ke Kalimantan kembali sejak pukul tujuh malam.


Ia selesai dipijat masanya maghrib. Lalu, setelah maghrib ia langsung bersiap.


Pantas saja ia dekat dengan anak-anaknya. Ia pun meladeni celotehanku dengan gurauan. Ternyata, ia akan pergi bekerja kembali.


Aku menyusun beberapa bantal, karena aku akan ke kamar mandi dahulu. Aku ingin buang air kecil. Untungnya, kamar ini dilengkapi kamar mandi.


"Ekhmmmm...."


Plok, plok, plok....


Gawat ini.


Chandra ada di dalam kamar mamah Dinda.


Aduh, aduh.


Chandra kira-kira tidur belum ya?


Pasti nanti ia banyak bertanya ini dan itu. Semoga, Chandra sudah terlelap di dalam kamar mamah Dinda.


Pantas saja mamah Dinda sedari siang sudah menyosor saja pada suaminya. Ternyata, eh ternyata. Kebutuhan biologisnya masih harus terpenuhi rutin.


Sepertinya, selama satu minggu aku tinggal di kamar beliau. Beliau begitu tersiksa, karena kebutuhan biologisnya tidak tersalurkan.


Setelah dari kamar mandi. Aku langsung mengecek ponselku. Hanya melihat sebentar pikirku. Karena aku akan segera tidur.


Ternyata salah.


Sebelum tidur bermain ponsel, adalah tindakan yang salah. Aku membuktikan sendiri. Nyatanya, mataku malah segar gara-gara melihat story milik Putri.


Akunku dan milik Putri, sudah saling mengikuti.


Mas Givan sepertinya hanya pelampiasan untuk Putri saja. Buktinya, ia sekarang sudah posting foto bersama bang Daeng kembali.


Mereka tengah berdiri di suatu tempat makan.


Dalam foto tersebut, bang Daeng tengah memandang lurus tanpa melihat ke kamera. Sedangkan Putri, ia tersenyum manis ke arah kamera.


Ia mengatakan, bahwa ia menutup diri sekarang.


Baru juga salah paham dengan mas Givan. Ia sudah mengobral dirinya kembali pada bang Daeng.


Pasangan yang benar-benar plin-plan.


Semoga mereka hidup bahagia dalam keplin-planan mereka.


Semoga tidak ada lagi, Canda-Canda lain. Yang dihamili oleh bang Daeng.


Semoga setelah ini, Jasmine dan Ceysa tidak memiliki saudara satu ayah yang beda ibu lagi.


Jika memang bang Daeng dan Putri memilih hidup bersama. Semoga keturunan mereka setelah ini, memiliki akte kelahiran yang tepat.


Aku ikhlas.


Aku rela.


Aku tidak keberatan.


Insya Allah, aku kuat menerimanya.

__ADS_1


...***************...


Yang berat itu ikhlas, Dilan 😌 bukan rindu 😏


__ADS_2